Ikhlasku Berbagi Cintamu

Ikhlasku Berbagi Cintamu
Bab 9


__ADS_3

"Ayo kita ke sana saja." Sean menarik tangan istrinya agar mengikuti langkahnya.


**********


Suara isak tangis memenuhi sebuah kamar, dengan posisi terduduk di lantai sambil memeluk lututnya sendiri Diana menumpahkan perasaan sakit hatinya.


Sakit sekali rasanya melihat pria yang kita cintai bermesraan bersama wanita lain, walaupun itu istrinya sendiri.


"Kenapa bukan aku yang berada di sampingmu? Kenapa bukan aku yang kau peluk mesra seperti itu?


Aku ingin mencoba melupakanmu, tapi kamu selalu hadir di pikiranku. Dan sekarang aku malah melihatmu bermesraan dengan istrimu... Sakit, sakit sekali rasanya melihat semua itu...


Syifa hanya gadis biasa namun bisa membuatmu jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Sementara aku, aku selalu berada di sampingmu selama bertahun-tahun namun tak pernah berhasil mendapatkan hatimu, Sean..." Isak tangis Diana semakin pecah, tak ada tempat berbagi untuknya. Tak ada yang peduli dengan perasaannya.


 **********


Sean dan Syifa kini sedang menikmati makan malam, berbagai menu terhidang di meja makan. Sungguh sangat menggugah selera.


"Syifa, kenapa makanannya tidak di makan?" Tanya Sean yang sedari tadi memperhatikan istrinya yang hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya. Syifa mengangkat wajahnya, menatap sang suami.


"Apa makanannya kurang enak?" Tanya Sean lagi.


"Emm, tidak Mas. Makanannya enak.." Syifa tersenyum tipis.


"Ada apa?" Tanya Sean dengan lembut.


"Tidak, Mas. Tidak ada apa-apa." Syifa menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kalau memang tidak ada apa-apa, makanannya di makan, jangan hanya di aduk-aduk saja."


"Iya, Mas."


Selesai makan malam keduanya kembali ke kamar, Syifa mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Sementara Sean masuk ke kamar mandi. Matanya menatap punggung suami yang menghilang di balik pintu.


"Aku bisa melihat kesedihan di mata Mba Diana. Apa Mba Diana memiliki perasaan pada Mas Sean? Dan Mas Sean sebenarnya juga memiliki perasaan pada Mba Diana? Tapi karena kasihan melihat keadaanku dulu, Mas Sean jadi menikahiku dan meninggalkannya?" Batin Syifa berkecamuk. Antara mempercayai Sean atau prasangkanya.

__ADS_1


**********


Sean menarik selimut, menutupi tubuh polosnya dan juga istrinya setelah melakukan kegiatan yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Ia meraih tubuh sang istri dan memeluknya.


"Ada apa denganmu? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Sean merasakan sesuatu yang berbeda dari istrinya.


"Boleh aku bertanya?" Syifa mengangkat wajah, menatap sepasang netra suaminya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


Syifa memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya bertanya.


"Apa Mba Diana memiliki perasaan denganmu, Mas?" Sean sudah menduga, Syifa pasti akan menanyakan hal ini. Mengingat sang istri berubah sikapnya setelah pertemuannya tak sengaja dengan Diana tadi siang.


"Ya. Diana bilang, dia mencintaiku." Jawab Sean. Syifa menarik nafasnya berat, ia menundukkan wajahnya.


"Apa aku telah merebutmu dari Mba Diana?" Tanyanya pelan.


"Merebut?" Sean mengerutkan keningnya.


"Bukankah sudah ku katakan padamu, kalau aku tak pernah mengasihani mu? Dan juga bukan sudah ku katakan dari awal pernikahan kita, kalau Diana hanyalah temanku. Tidak lebih dari itu. Dan aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya?"


"Apa kamu tak percaya padaku?" Sambungnya.


"Aku... Aku hanya berpikir... Kalau ternyata kalian berdua ternyata saling mencintai, dan karena aku kalian jadi berpisah."


"Syifa, dengarkan aku. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu. Dan aku juga tak pernah mencintai Diana, aku hanya menganggapnya teman. Tidak lebih. Kalau Diana yang memiliki perasaan denganku, itu hak nya. Apa kita bisa memilih, kepada siapa kita akan jatuh cinta?"


Syifa menggeleng pelan mendengar pertanyaan suaminya.


"Biarkan Diana dengan perasaannya, seiring berjalannya waktu dia pasti bisa melupakan semuanya dan memulai hidup baru."


"Maafkan aku, aku hanya takut kalau aku..."


"Sudahlah tak perlu dipikirkan lagi." Potong Sean seraya mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Ehm, ayo kita mandi, Mas." Ajak Syifa malu-malu.


**********


Dua tahun kemudian....


Tanpa terasa usia pernikahan Sean dan Syifa telah menginjak tahun kedua. Berbagai kejadian dan peristiwa sudah mereka lalui bersama. Yang paling menyakitkan adalah ketika Bunda Yasmin pergi meninggalkan mereka berdua untuk selama-lamanya


Bunda Yasmin pergi enam bulan yang lalu, saat itu mereka baru selesai menunaikan ibadah sholat isya berjamaah. Bunda Yasmin tiba-tiba tak sadarkan diri, Sean dan Syifa yang panik segera membawanya ke rumah sakit.


Namun sayang, saat sampai di rumah sakit dokter mengatakan kalau Bunda Yasmin sudah tidak bisa di selamatkan. Dan saat itu juga baru di ketahui kalau Bunda Yasmin mengalami serangan jantung.


Sean sangat menyesal, ia sama sekali tidak tahu kalau Bundanya memiliki penyakit jantung. Bunda Yasmin pun tak pernah menceritakan tentang penyakitnya kepada siapapun, termasuk Sean dan Syifa.


Kehilangan orang tua adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang anak. Jodoh, maut dan rezeki itu rahasia Allah. Maka dari itu, selagi masih ada kesempatan, selagi orang tua kita masih ada, bahagiakanlah mereka.


*********


Seperti hari-hari sebelumnya, Syifa selalu mengantar suaminya yang akan pergi kerja.


"Hati-hati di jalan ya, Mas. Ingat, di rumah ada yang menunggu kepulanganmu. Mas harus pulang dalam keadaan sehat, dan tidak kurang satu apapun." Pesan yang selalu sama setiap paginya yang di ucapkan Syifa untuk suaminya.


"Iya,sayang. Kamu juga baik-baik di rumah. Kalau ada sesuatu kabari aku." Sean mengusap rambut Syifa yang tertutup hijab. Dikecupnya kening sang istri, di angkat dagunya perlahan. Kecupan itu pindah ke bibir.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucap Sean setelah bibir keduanya terlepas. Ia mengusap lembut bibir Syifa yang masih nampak basah karena ulahnya. Dan seperti biasa, Syifa hanya membalas ucapan Sean senyumnya.


"Aku berangkat, assalamualaikum." Pamit Sean.


"Waalaikumsalam." Syifa tersenyum lembut. Setiap pagi hal yang sama yang Sean lakukan sebelum pergi bekerja.


Syifa masuk kembali ke kamarnya, duduk di sisi tempat tidur. Jika Sean sudah pergi bekerja, tak di pungkiri dirinya merasa kesepian. Walaupun ada beberapa asisten rumah tangga, tapi mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Dulu sewaktu Bunda Yasmin masih ada, Bunda Yasmin yang menjadi teman bicaranya. Tapi sekarang... Syifa hanya sendiri. Sebenarnya Syifa juga sering mengajak para asisten rumah tangga untuk mengobrol dan memasak bersama tapi sayangnya waktu mereka hanya sebentar saja. Karena mereka masih ada pekerjaan yang lainnya.


Syifa menghela nafas panjang, mengusap perutnya perlahan,

__ADS_1


"Andai saja aku bisa hamil dan melahirkan, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini..." Syifa memejamkan matanya, setitik air matanya jatuh menetes. Ia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, menjadi wanita seutuhnya.


__ADS_2