
Namaku Arya Firaz, usiaku sudah menginjak 26 tahun. Diriku bisa di bilang cukup sukses dalam karir. Aku memiliki coffee shop dan juga rumah makan hasil dari kerja sama dengan beberapa temanku. Walaupun tempatnya tidak mewah, tapi aku sudah cukup bangga.
Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Andika Farzan. Usianya masih 18 tahun, usia kami terpaut cukup jauh. Ia baru saja lulus SMA. Aku juga memiliki seorang ibu yang sangat ku sayangi, dan Ayahku sudah meninggal saat aku tamat sekolah menengah atas.
Sejak saat itu, aku yang menjadi tulang punggung untuk keluargaku. Ayah memang mendapat pesangon dari tempatnya bekerja dulu. Tapi itu di pakai untuk biaya sekolah Adikku dan juga makan kami sehari-hari saat penghasilanku belum mencukupi.
Aku kuliah sambil bekerja. Bekerja apa saja, hingga akhirnya aku mempunyai cukup modal dan bekerjasama dengan temanku untuk membuka usaha sendiri.
Memang tak mudah, tapi dengan kesabaran dan kesungguhan akhirnya setelah beberapa tahun usaha kami berhasil dan memiliki beberapa cabang ibu kota. Dan setelah beberapa waktu, kami memutuskan untuk membagi dengan adil hasil kerja keras kami.
Aku mendapatkan 1 coffe shop dan juga 1 rumah makan, yang lain pun sama. Kami sekarang mengelola masing-masing usaha kami. Tapi walaupun begitu, kami tetap menjalin silaturahmi dengan baik.
Beralih ke soal asmara, aku memiliki seorang kekasih bernama Megalicha Audrey. Dia cinta pertamaku. Mega wanita yang sangat cantik, tubuhnya tinggi semampai dan proporsional. Dia berprofesi sebagai seorang model dan saat ini sedang berada di Paris untuk meniti karirnya.
Kami mulai menjalin kasih saat kami masih kuliah. Dari dulu Mega memang bercita-cita menjadi seorang model terkenal, dan begitu ada kesempatan langsung saja ia ambil. Ketika ada agency yang menawarkan untuk berkarir di luar negeri.
Mau tak mau aku harus merelakan kepergiannya, padahal aku ingin dia tetap di Indonesia dan merintis usaha bersamaku saja. Tapi aku tak ingin egois, aku juga ingin Mega dapat meraih cita-citanya.
"Arya, kamu jangan sedih. Ini hanya sementara. Setelah aku menjadi seorang model terkenal, aku akan kembali padamu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan di catwalk dengan jutaan mata yang memandang kagum ke arahku." Ucap Mega kala itu. Sebelum dirinya berangkat ke Paris untuk meniti karirnya.
"Kamu percaya padaku kan? Aku akan selalu menjaga cinta kita. Aku tak akan mengkhianatimu." Janji Mega padaku. Sebenarnya yang ku takutkan bukan itu, karena aku tau Mega mencintaiku, dan aku juga begitu mencintainya. Yang aku takutkan Mega jadi lupa diri jika dirinya sudah terkenal nanti. Tapi aku tak punya pilihan lain, selain mendukung keputusannya.
"Aku mencintaimu dan aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu selama itu adalah yang terbaik. Aku akan menunggumu di sini." Jawabku.
__ADS_1
Namun setelah beberapa tahun, Mega tak kunjung kembali. Walaupun komunikasi kami tetap berjalan lancar. Hingga akhirnya aku berencana untuk membuat kejutan untuknya. Sebuah kejutan yang telah ku rencanakan dengan begitu matang selama beberapa bulan belakangan ini.
Aku datang ke Paris dan berniat melamarnya di sana, di depan menara Eiffel. Tempat yang terkenal dengan keromantisannya. Dan juga, aku akan segera menikahinya agar Mega tidak perlu pergi lagi ke luar negeri.
Namun apa yang ku dapat setelah sampai di sana?
* * *
Paris, Perancis
Seorang pria mengenakan long coat hitam nampak berdiri di depan pintu sebuah apartemen bercat putih. Udara di Paris terasa begitu dingin baginya, padahal sekarang bukan musim dingin. Inilah yang paling tidak di sukainya, namun demi gadis yang di cintainya ia rela pergi ke negara ini.
Ting Tong.
Arya menekan bel pintu apartemen Mega. Senyum tak lepas dari wajahnya sejak tadi. Sambil menggesekan kedua telapak tangannya yang terasa dingin, ia membayangkan bagaimana ekspresi kekasihnya nanti saat melihat dirinya yang tiba-tiba ada di sana.
Namun setelah beberapa saat menunggu, pintu itu tak kunjung terbuka.
Apa Mega tak ada di apartemennya? Atau dia sedang bekerja? Arya bertanya-tanya dalam hati.
Pria itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tapi ini bukan jam kerja Mega, fikirnya.
Arya membuang nafas berat. Sudah berkali-kali ia menekan bel itu, tapi tak ada respon apapun. Senyum itu surut dari wajahnya. Pemuda itu memilih untuk pergi dari sana, kemudian menuruni lift dan melangkah untuk menuju lobby. Lebih baik menunggu di sana saja, mungkin Mega sedang keluar. Arya juga sengaja tak menghubungi Mega.
Namun langkahnya mendadak terhenti, saat sepasang netranya menangkap bayangan seseorang yang sangat di kenalnya. Seorang gadis berpostur tinggi dengan rambut panjang cokelat dan di biarkan terurai.
__ADS_1
Mega!
Tapi kenapa gadis itu berada dalam dekapan seorang pria asing? Posisi mereka berdua bersandar di sisi dinding dengan begitu intim. Dan nampaknya tidak ada yang peduli dengan keberadaan mereka, selain Arya.
Arya perlahan melangkah mendekat, ia bisa mendengar percakapan kedua orang itu. Untungnya mereka bicara menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Perancis. Jadi Arya bisa mengerti apa yang mereka katakan.
"Audrey, kau sangat cantik. Aku benar-benar mengagumi kecantikanmu. Kau wanita tercantik yang pernah ku kenal." Ujar pria bule itu, bisa di tebak pria itu umurnya jauh di atas Mega. Di lihat dari beberapa kerutan yang nampak di wajahnya.
Dan di Paris Mega memang menggunakan nama belakangnya, Audrey sebagai nama panggungnya.
"Benarkah Thomas? Kau hanya merayuku kan?" Jawab Mega dengan nada manjanya.
"No, Dear. Kau memang cantik. Aku sungguh tergila-gila padamu." Ucap Thomas sambil meremas pinggang ramping Mega yang nampak terbuka karena pakaian yang di kenakannya terbilang cukup seksi dan terbuka di bagian pinggangnya.
"Kalau begitu jadikan aku model utama dalam agency mu. Selama ini aku hanya selalu menjadi pendamping saja." Timpal Mega, bibirnya nampak mengerucut.
"Itu mudah, asal kau memberikan apa yang ku inginkan." Ucap Thomas dengan seringainya. Tangannya meraih wajah wanita di hadapannya itu.
"Aku tau apa yang kau inginkan, Thomas. Tenang saja, aku sanggup melayani seberapa banyak yang kau inginkan. Asal kau menepati janjimu." Kata Mega dengan nada sensualnya. Jari telunjuk Mega menyusuri dada Thomas yang terbuka karena kancing kemejanya tak terpasang. Thomas menangkap jari nakal itu kemudian menggigitnya pelan. Sementara Arya masih memperhatikan keduanya.
HAI SEMUANYA.....
MAMPIR DI CERITA BARUKU YUK, JUDULNYA
" KU TUNGGU CINTA MAS FIRAZ "
__ADS_1
DI TUNGGU LIKE DAN KOMENNYA YA...
TERIMA KASIH 😊