
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan seorang anak... Tapi itu tak mungkin terjadi... Dulu setelah Bunda Yasmin meninggal, aku sering menangis seorang diri. Aku merasa kesepian ketika Mas Sean pergi bekerja, dan seandainya aku punya anak mungkin aku tak akan kesepian. Aku pernah berfikir untuk mengadopsi anak panti asuhan, namun belum sempat aku mengatakannya pada Mas Sean." Diana tersenyum lembut, menggenggam jemari Syifa.
"Bukankah nanti kalau aku hamil, kita berdua bisa menjadi ibu? Anakku anakmu juga kan?"
"Bolehkah? Seandainya Mba Diana memiliki anak dengan Mas Sean aku ikut merawatnya?"
"Tentu Syifa. Tadi kan sudah aku bilang, anakku adalah anakmu juga. Jadi kita bisa merawatnya bersama."
"Terima kasih, Mba."
"Tidak perlu berterima kasih..."
"Hmm... Sekarang sudah tiga bulan pernikahanku dengan Sean. Tapi kenapa aku belum ada tanda-tanda hamil ya?"
"Mba sabar saja, suatu hari nanti Allah pasti akan mempercayai kita untuk menitipkan seorang anak pada kita."
"Semoga secepatnya ya, supaya kita bisa secepatnya menjadi orang tua..."
"Aamiin..." Keduanya tertawa bersama, sungguh pemandangan yang sangat indah. Sean memperhatikan keduanya, sepertinya mereka belum sadar kalau Sean sudah pulang dari bekerja.
"Mas Sean?" Syifa melihat Sean lebih dulu.
"Sean? Oh, Sean sudah pulang?" Sambung Diana.
"Iya Mba, sepertinya kita terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Ayo kita kesana." Syifa dan Diana bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba Diana merasa pusing. Dan semua menjadi gelap.
"Mba Diana..." Syifa terkejut, Diana tak sadarkan diri.
"Diana!" Sean berlari menghampiri istrinya.
"Syifa, Diana kenapa?"
"Aku tidak tahu, Mas. Tadi Mba Diana baik-baik saja, lalu tiba-tiba pingsan." Sean meraih tubuh Diana dan menggendongnya, membawanya masuk ke dalam rumah.
Sean membaringkan Diana di atas tempat tidurnya.
"Aku sudah hubungi dokter, Mas. Sebentar lagi dokter akan datang." Ucap Syifa.
*******
"Selamat ya, Nyonya Diana sedang hamil." Ujar dokter wanita paruh baya yang baru saja selesai memeriksa Diana.
"Hamil?" Tanya Sean dan Syifa bersamaan.
__ADS_1
"Iya, Nyonya Diana sedang hamil. Usia kandungnya 8 minggu. Di trimester pertama memang rentan, jadi saya sarankan Nyonya Diana banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi. Agar tak kekurangan nutrisi. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan bawa Nyonya Diana periksa ke dokter kandungan. " Jelas dokter.
"Iya dokter, terima kasih atas bantuannya." Ucap Sean, binar kebahagiaan nampak jelas di matanya.
"Iya, sama-sama. Saya permisi." Dokter tersebut undur diri.
"Mari saya antar, Dok." Syifa mengantarkan dokter itu sampai depan pintu depan.
"Sean..." Lirih Diana. Wanita itu nampak mengerjapkan matanya.
"Diana, kamu sudah sadar?" Sean membelai wajahnya.
"Aku kenapa?"
"Tadi kamu pingsan, Di. Dan dokter bilang, kalau kamu hamil."
"Hamil? Aku hamil?" Tanya Diana dengan tatapan tak percaya. Diana beranjak duduk di bantu oleh Sean.
"Iya, Di. Kita akan punya anak...."
Diana meraih Sean ke dalam pelukannya dan Sean membalasnya. Mengusap lembut punggung istri keduanya.
"Sean, aku senang sekali.... Alhamdulillah ya Allah...." Begitu erat pelukannya.
"Ya Allah... Buang jauh perasaan ini... Jangan jadikan hatiku penuh dengan iri dan kecemburuan..." Syifa memejamkan matanya. Mencoba mengusir rasa cemburu dalam hatinya.
"Aku tak boleh iri, walaupun aku tak bisa hamil dan melahirkan. Aku harus bahagia, karena kebahagiaan Mas Sean dan Mba Diana adalah kebahagiaanku juga." Syifa menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Ia sudah lebih tenang sekarang.
Syifa melangkah masuk ke dalam kamar Diana. Nampak Sean dan Diana sudah melepas pelukannya
"Mba Diana..."
"Syifa, aku hamil! Kita akan punya anak, dan menjadi orang tua." Kini Diana memeluk Syifa, sama eratnya seperti memeluk Sean tadi.
"Iya Mba, Alhamdulillah... Kita akan punya anak."
"Aku sudah tak sabar menanti kehadirannya." Diana mengusap perutnya yang masih datar.
******
Syifa terjaga saat merasakan sepasang tangan memeluknya, ia membalikkan tubuhnya.
"Mas Sean?"
__ADS_1
"Hm..." Nampak Sean sudah hampir tertidur.
"Kenapa Mas Sean tidur di sini?" Tanya Syifa heran.
"Karena aku ingin tidur di sini." Gumam Sean, matanya masih tertutup.
"Tapi seharusnya Mas Sean tidur dengan Mba Diana." Mata Sean terbuka, menatap Syifa yang juga tengah menatapnya.
"Aku merindukanmu, dan bukankah minggu ini aku tidur di sini?" Sean mengeratkan pelukan.
"Tapi Mba Diana sedang hamil, bagaimana kalau Mba Diana butuh sesuatu?" Tanya Syifa lagi.
"Diana juga memintaku untuk tidur di sini. Dan kalau Diana butuh sesuatu, dia akan menghubungiku." Jelas Sean, bibirnya mulai menjelajahi leher sang istri.
"Tapi..." Sean langsung membungkam bibir Syifa dengan bibirnya, mencegah wanita itu untuk bicara lagi. Perlahan Sean naik ke atas tubuh Syifa, dengan bibir yang masih bertaut. Tangan Sean bergerak melepas kancing piyama Syifa.
"Mas..." Suara Syifa sudah berubah menjadi *******.
"Jangan bicara lagi... Aku sudah sangat merindukanmu..." Sean melanjutkan aksinya, dan Syifa hanya bisa pasrah karena sebenarnya ia juga merindukan sentuhan Sean.
Sementara itu di kamar Diana,
Diana memandang foto pernikahannya dengan Sean dan mengusapnya perlahan.
"Sean, kamu tahu? Aku sangat bahagia hari ini. Allah telah memberikan kepercayaan pada kita, Allah menitipkan seorang anak pada kita.
Awalnya aku tidak percaya kalau akhirnya aku bisa menikah denganmu dan mengandung anakmu.
Dulu, aku hanyalah seorang gadis yang kurang kasih sayang dari orang tua dan berharap cinta dari seorang pria yang hanya menganggapku sebagai teman saja. Dan hatiku begitu hancur saat kamu mengatakan bahwa kamu sudah menikah.
Aku berusaha melupakanmu, Tapi nyatanya aku tidak mampu. Bahkan setelah bertahun-tahun aku tak bisa melupakan perasaan cinta ini.
Hingga pada suatu hari dokter mengatakan kalau hidupku tak lama lagi karena sakit yang ku derita. Saat itu aku benar-benar sudah menyerah, aku tak lagi memiliki semangat untuk hidup. Aku hanya menunggu maut segera menjemputku.
Namun tiba-tiba kamu datang kembali bersama istrimu. Kamu tahu, aku begitu bahagia saat itu karena bisa bertemu denganmu lagi.
Dan pada saat Syifa mengatakan kalau ia rela berbagi dirimu denganku, saat itu juga aku kembali memiliki semangat untuk hidup. Karena menikah denganmu adalah impianku sejak dulu.
Aku akhirnya menyadari kenapa kamu begitu mencintai Syifa, karena Syifa adalah perempuan yang penuh ketulusan dan juga kasih sayang.
Aku tak pernah ada niat sedikit pun untuk merebutmu dari Syifa. Karena aku menyadari, hanya Syifa yang kamu cintai. Tapi walaupun begitu aku bahagia, bahagia karena kamu bisa menerimaku sebagai istrimu. Dan selalu berlaku adil pada kami berdua.
Aku bersyukur, karena Allah mempertemukanku denganmu dan juga Syifa.
__ADS_1