Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
chapter 10


__ADS_3

Pagi hari menyingsing Lisa sudah menyiapkan semuanya meski semalam suaminya sudah mengatakan sejujur-jujurnya tentang awal mula perkenalannya dengan perempuan itu dan tidak mencintai sama sekali dan menyesal sudah melakukan itu tapi tetap saja hati ini terasa perih apalagi mendengar dari mulut Ari sendiri.


Lisa tidak habis pikir dengan Ari dalam keadaan kekurangan ekonomi pun dirinya bisa melakukan penghianatan itu apalagi jika dia menjadi orang berada entah apa yang akan terjadi atau lebih parah.


Ahh... naudzubillahimindzalik semoga saja itu tidak akan pernah terjadi.


Lisa saat ini tengah menyiram tanaman dipot depan kontrakannya lalu tiba-tiba Ilham datang menyapa.


"Sedang menyiram tanaman Mbak!" seru Ilham dengan tersenyum.


Lisa tersentak kaget karena kedatangan Ilham yang tiba-tiba.


"Eh maaf mbak, kaget yah!" Ilham merasa tidak enak hati karena membuat Lisa kaget.


"Tidak apa-apa maaf bang saya lagi fokus siram jadi tidak tau ada orang dibelakang." jawab Lisa sedikit gugup.


"Mau olah raga ya bang!" tanya Lisa melihat Ilham yang hanya memakai kaos singlet berdada rendah dan celana pendek selutut memperlihatkan dada dan otot lengannya yang seksi para gadis bahkan para ibu-ibu akan menelan ludah melihatnya tak terkecuali Lisa dia pun sama tapi langsung dia sadari bahwa dia mempunyai seorang suami yang bahkan otot dan dan tubuhnya juga kekar.


"Iya, mumpung hari ini libur jadi mau puas-puasin olahraga." jawabnya dengan menyiapkan alat bantu olah raganya.


"Bang, olah raganya disini?" tanya Lisa yang melihat Ilham tengah melakukan pemanasan.


"Iya lah Mbak dirumah juga sudah cukup."

__ADS_1


"Oh..!"


Saat tengah asyik berbincang tanpa mempedulikan tetangga kontrakan yang melihat mereka dengan tatapan iri dari para gadis-gadis dan juga janda yang ada disekitar situ.


Ari keluar dengan tatapan tidak suka melihat istrinya berbincang sambil tersenyum dengan lelaki lain apalagi lelaki itu seolah sengaja memamerkan apa yang ada ditubuhnya demi menarik simpati para kaum hawa.


"Ehem.. Lisa, Laras bangun cepat kamu mandikan dia." perintah Ari pada istrinya.


Lisa yang tak tau ada suaminya disitu tentu saja terhenyak karena Ari berdehem sangat keras.


"Iya!." hanya itu jawaban Lisa, lalu langsung masuk tanpa menatap suaminya.


Ilham yang melihat itu jadi bertambah praduga kalau rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak kerja bang!" tanya Ari cepat, karena tatapan Ilham selalu mengarah kepada istrinya.


"Oh, saya sebentar lagi mau berangkat." jawab Ari memaksakan senyum.


Ingin rasanya Ari untuk berkata jaga pandangan mata kamu pada istri saya namun tidak mungkin karena mereka baru mengenal dia tidak mau disangka sebagai lelaki pencemburu buta.


Sedangkan Ilham pun sama dibenaknya ingin mengatakan jangan kamu sakiti istrimu hanya untuk wanita lain tapi itu tidak mungkin karena hanya melihat dari jauh saja tidak bisa membuktikan kebenarannya.


Jadi mereka hanya saling tatap dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu saya mau masuk dulu mau siap-siap!" ucap Ari akhirnya memilih masuk.


"Iya bang, silahkan!" balas Ilham kemudian melanjutkan olahraga nya.


Saat Ari sudah masuk kedalam terlihat Lisa sedang memakaikan baju Laras sambil mengajaknya berbicara dan tersenyum.


Tapi senyuman itu sirna ketika Lisa mendengar suara suaminya.


"Lisa, apa kamu sering bercengkrama dengan tetangga baru kita Ilham?" tanya Ari.


"Tidak!" jawab Lisa datar.


Ari menghela nafas dengan jawaban singkat Lisa dan dia juga kecewa karena akhir-akhir ini Lisa selalu memasang wajah datar untuknya.


Ya ini memang salahnya juga jadi dia tidak bisa memarahi Lisa.


"Sarapanmu sudah aku siapkan, aku mau kedepan dulu mau menyuapi Laras." ucap Lisa setelah selesai mengurusi Laras.


"Untuk apa menyuapi didepan, kenapa tidak didalam saja?" tanya Ari sedikit kecewa.


"Apa kamu mau menyuapi sambil melihat lelaki itu memamerkan tubuhnya?" tambahnya secara tak sadar.


Lisa terkejut mendengar penuturan Ari tapi dia tidak peduli.

__ADS_1


"Terserah aku mau menyuapi dimana, dan satu hal yang harus mas tahu aku bukan tipe perempuan seperti itu. Camkan itu." ucapnya sambil menunjuk sang suami karena tidak terima mendapat tuduhan seperti itu.


Setelah kepergian Lisa, Ari mengusap rambutnya kasar entah apa yang tengah dipikirkan oleh lelaki itu.


__ADS_2