Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 18


__ADS_3

Kini usia kandungan Lisa menginjak trimester kedua dan selama itu pula hubungan Lisa dan Ari terasa hambar tidak ada gurauan apalagi bermesraan, yang ada di pikiran Lisa saat ini hanyalah anak dan kehamilan nya dia tidak ingin sampai merasa depresi hanya untuk memikirkan hal yang sampai membuatnya pusing tapi tetap saja dirinya hanya manusia biasa yang terkadang menangis jika teringat tentang masalahnya.


Saat ini Ari juga sedang berusaha untuk bisa benar-benar terlepas dari Zoya karena semakin lama Zoya semakin meresahkan meski perkataannya hanya omong kosong belaka yang ingin melaporkan Lisa ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik tapi nyata nya dia tidak berani melakukannya karena sebenarnya dia yang salah.


Dia juga merasa sangat sulit untuk mendapatkan Ari karena Ari tetap akan bersama Lisa dan anaknya, itulah yang membuatnya ingin sekali menghancurkan keluarga itu.


Tapi di saat ingin melakukan nya, dia tidak bisa seperti ada sesuatu yang menghalangi membuatnya urung untuk melakukan tindakan jahat itu.


Jadilah dia terus meneror Ari dengan terus menelfonnya dan berbicara dengannya.


*****


"Lisa, bersabarlah ini tidak akan lama. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya." Ari berucap di sela-sela santainya.


Namun Lisa tidak menanggapi, entah mengapa meski suaminya berjanji akan memperbaiki tetapi jika masih berkomunikasi itu tetap saja membuat hatinya seperti tersayat benda tajam.


Sakit sekali...


"Aku pasrahkan semuanya kepada Allah mas, jika kita tetap berjodoh maka kita akan tetap bersama sampai kapanpun. Tetapi jika kita tidak berjodoh lama maka Allah akan memisahkan kita dengan cara apapun." ucapan Lisa membuat Ari menghela nafas pasrah, dia benar-benar menyesal sungguh sangat menyesal.


"Selesaikan urusanmu bersama perempuan itu dan kembali kepada kami jika kamu menyayangi kami, jika tidak maka kami yang akan meninggalkanmu." lanjutnya datar lalu melangkah pergi.


Ari mengusap wajahnya kasar, hidup yang dulu tenang dan bahagia meski sedikit kekurangan kini hancur hanya karena kelemahan nya yang mudah tergoda oleh wanita lain sehingga kini pondasi rumah tangga nya hampir hancur.


*****


"Mas, aku kangen sama kamu kita ketemu yuk!." ucap Zoya saat sedang santai berbicara lewat ponsel dengan Ari.


Ari menghela nafas berat, ingin rasanya dia menceburkan wanita ini ke dalam kolam hingga tidak bernafas jika saja dia tidak mengingat keluarga nya.


Wanita ini benar-benar membuatnya marah setengah mati.

__ADS_1


"Tidak bisa Zoya, saat ini aku sedang fokus dengan masa depan anakku." tolak Ari tanpa basa basi.


"Kamu menolak ajakan ku mas!?" ucap Zoya mengulang beraninya Ari menolak nya.


"Zoya ingat, kita sudah sepakat aku hanya bisa berbicara lewat telfon saja tapi tidak untuk bertemu." seru Ari penuh penekanan namun tetap menahannya.


"Tapi emangnya tidak bisa bertemu sekali aku kangen sekali sama kamu apalagi di saat kita berdua." Zoya berusaha merayu Ari dengan suara yang dibuat menggoda.


Ari langsung mengepalkan tangannya, marah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Zoya, jika Lisa yang mengatakan mungkin Ari akan langsung menyetujuinya tanpa embel-embel.


"Zoya cukup, jangan sampai kesabaran ku habis untuk meladeni kamu. Lebih baik kita jaga jarak dan lanjutkan hidupmu." cetus Ari demikian lalu langsung mematikan ponselnya.


Ari tidak peduli jika Zoya akan marah nantinya karena dia juga sudah marah.


Zoya tersentak saat Ari memutuskan panggilan sepihak, dia juga menyadari bahwa Ari tidak seperti dulu lagi yang langsung mengiyakan ajakannya dia berfikir untuk apa juga mengharapkan sesuatu yang sulit untuk di dapat karena saat ini kedua orang tuanya mempunyai rencana akan menjodohkannya dengan lelaki kaya dan lumayan tampan.


Karena Zoya sudah melihat pria itu dan sudah berkenalan tetapi sebenarnya yang membuat dia menghubungi Ari terus adalah karena dia kesepian dan ingin membalas Lisa istri Ari.


Walau sampai saat ini belum pernah bertemu empat mata tapi dia mempunyai dendam tersendiri karena Ari lebih memilihnya dari pada dirinya sendiri.


Sesaat kemudian bibirnya tersenyum melihat ponselnya berdering dan yang menelfonnya adalah pria yang ingin di jodohkan nya dia pun mengangkatnya dan berbicara dengannya.


*****


Selama masa kehamilan Lisa yang kedua, hidup Ari berasa sulit dan sempit, dirinya sangat susah sekali untuk mendapatkan pekerjaan. Pulang ke rumah selalu mendapati Lisa yang tidak pernah memandangnya apalagi tersenyum dan itu tambah membuatnya semakin resah saja hanya putrinya Laras saja yang bisa membuatnya tersenyum meski hanya sedikit mengobati kerinduan pada ibunya.


Dia mendapat wejangan bahwa yang terjadi dengannya saat ini adalah hasil dari apa yang dia tuai namun bukan kebaikan dan dia sangat menyesali sekali.


Setiap malam Ari selalu sholat malam demi mendapat pengampunan dan rizki yang lancar dia juga jadi rajin sholat lima waktu yang selalu bolong-bolong.


Semoga Ari memang bertaubat nasuha dan istiqamah serta berusaha menjadikan keluarga bahagia dan sejahtera.

__ADS_1


Saat ini Lisa menjadi bingung, meski suaminya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan perempuan itu tetapi tetap saja dia merasa enggan untuk bersentuhan dengan Ari terakhir dia tidur bersama adalah waktu saat sebelum kehamilan setelah itu tidak pernah lagi tapi Lisa mencoba tetap melayani dan mengurus kebutuhan suaminya jika sedang berada di rumah dengan terbaik.


Dia masih sakit hati jika mengingat perkataan suaminya yang menyelingkuhi dirinya bahkan sampai pernah tidur meski tidak melihat dengan mata kepala sendiri tapi itu tetap saja sangat menyakitkan meski sudah memaafkan tapi belum bisa melupakan begitu saja.


Di saat Lisa sedang mengasuh Laras di sore hari sambil melamun, Ari datang menghampiri dia mengatur nafas pelan sebelum memulai berbicara.


"Lisa...!" panggil Ari pelan sambil menyentuh bahu Lisa.


Lisa menengok sebentar lalu kembali melihat Laras yang asik bermain bersama teman-temannya.


"Sepertinya kita tidak bisa lama tinggal di sini." ucap Ari dengan lirih tersirat jiwa tidak berguna sebagai lelaki.


"Kenapa?." tanya Lisa singkat meski sudah tau jawabannya.


"Aku tidak mampu lagi untuk membayar uang sewa nya, apalagi aku hanya bekerja serabutan yang kadang tidak cukup menafkahi kalian jadi aku memutuskan untuk sementara kita tinggal di rumah orang tuaku dulu. Yah!." Ari berbicara sangat hati-hati takut jika Lisa menolak.


Lisa menghela nafas pelan sudah di duga pasti Ari akan lebih mengajaknya ke rumah orangtuanya yang lebih dekat dan lebih nyaman untuknya.


"Apa kamu yakin setelah kita tinggal di sana semuanya akan baik-baik saja?." tanya Lisa memastikan.


"Aku tidak bisa memastikan itu, tapi untuk sekarang aku hanya ingin kalian aman dulu setidaknya di sana kita bisa meminta tolong pada saudara-saudara kita." kata Ari.


"Lalu bagaimana jika ada selisih paham antara aku dan saudara-saudara mu mas."


"Aku yakin tidak ada mereka semua baik dan jika sesuatu terjadi di kemudian hari maka aku yang akan menanggung nya, lagi pula kamu sedang hamil supaya ada yang membantu kita ke depannya" kata Ari sebenernya pasrah dan berharap Lisa tidak menolaknya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau, tapi aku boleh meminta syarat untuk itu." kata Lisa membuat Ari terheran. Kenapa harus pakai syarat segala?.


"Iya apa?."


"Jika setelah anak ini lahir dan kamu masih tetap begitu maka kamu harus siap aku pergi bersama anak-anak." ucap Lisa mantap tapi tidak dengan Ari yang wajahnya langsung tegang.

__ADS_1


"Baiklah aku akan berusaha berubah demi keluarga kecil kita." jawab Ari dengan yakin juga.


Jadilah mereka sepakat untuk tinggal di rumah orang tua Ari dengan saudara-saudara nya.


__ADS_2