
Sejak saat itu Lisa memutuskan untuk mencari pekerjaan sambil membawa Saga dan Laras jika ada yang bertanya dia selalu menjawab 'lagi jalan-jalan' karena di pagi hari dia pergi supaya tidak terkena panas dan pulang di siang hari baik dapat maupun tidak dapat.
"Ibu, kita mau kemana sih! dari tadi jalan terus Laras capek bu.. haus lagi!". keluh Laras karena sudah setengah jam mereka berjalan.
Lisa melirik Laras di tatapnya anak itu dengan sendu, kasihan juga Laras lain kali dia tidak perlu mengajak Laras karena anak itu masih kecil juga. Lalu Lisa mengajak Laras untuk duduk kemudian mengambil sesuatu didalam tas.
"Maafin ibu yah! Laras haus ini ibu bawa persediaan minum". untunglah Lisa membawa air minum untuk jaga-jaga.
"Ini di minum nak!". Laras pun meminum airnya terasa lega karena tenggorokan nya jadi basah.
"Ini mah Laras udah ngga aus lagi". dengan riang nya Laras mengembalikan botol minumnya yang masih setengah.
"Terimakasih nak! Saga juga mau minum". kemudian Lisa memberikan minum juga untuk Saga terlihat anak itu sangat antusias.
"Nak sebenarnya ibu sedang mencari pekerjaan," diam sejenak sambil menghela nafas.
"Jika ibu bekerja, Laras mau tidak di tinggal ibu di rumah nenek". tanya Lisa
"Lalu ade gimana?". Laras malah bertanya balik.
"Kalau ade ibu bawa karena kan ade masih kecil". Jawab Lisa menatap jahil Laras.
"Ade di bawa kok Laras tidak, Laras juga mau ikut ibu". kata Laras.
"Tapi nak! ibu tidak mau kamu nanti lelah".
"Terus nanti kalau ibu bekerja, siapa yang akan jagain Ade".
Lisa seketika terdiam, benar juga siapa yang jaga? tapi... tak apalah sambil momong pun pasti bisa.
"Ibu yang jaga"!. jawab Lisa sekenanya.
"Kalau begitu aku juga ikut saja, biar ade aku yang jaga". kata Laras dengan polosnya.
"Em... itu di pikirkan nanti yah! lebih baik sekarang kita pulang dulu". kata Lisa menyudahi pencarian karena di lihat kedua anaknya yang terlihat lelah.
"Kok pulang Bu? kan belum dapet kerjanya?". tanya Laras mengerti juga anak itu.
"Ibu kasihan sama kalian berdua. Kita pulang dulu setelah itu kita lanjut lagi yah!". bujuk Lisa dengan senyum lembutnya.
"Ya udah deh!". dan Laras menurut.
Lisa pun pulang membawa anak-anak nya meski hari ini belum mendapatkan pekerjaan tapi dia tidak mau menyerah dia akan membuktikan kalau dia pasti bisa.
*****
__ADS_1
Ari mencari istri serta anak-anaknya yang tidak ada di rumah tapi yang ada di pikirannya mungkin mereka sedang bermain nanti juga kembali, memang nya mau kemana sih mereka ujung-ujungnya juga akan pulang.
Tapi ketika Ari ingin pergi ke belakang rumah seperti biasa dia melihat anak serta istrinya yang baru kembali, benar kan baru juga di bicarakan sudah nongol.
"Ayah...!" panggil Laras.
"Kalian dari mana?". tanya Ari tersenyum pada anaknya, meski semalam habis berdebat tapi jika dengan anak tetap harus tersenyum.
"Laras, habis cari kerja ayah!".
upps... Lisa lupa untuk memperingati Laras supaya jangan beritahu ayahnya jika mereka pergi mencari pekerjaan, tapi terlanjur Laras sudah mengatakan nya dan Lisa hanya mencari alasan untuk menanggapi nya.
"Cari kerja!". ulang Ari menatap Lisa dengan penuh selidik.
Lisa mencelos saat di tatap seperti itu oleh Ari.
"Iya ayah, Laras sama Ade sama ibu jalan kaki kesana kesini sampe haus sampe cape". celoteh Laras membuat Lisa berkeringat.
"Benar Lisa, kamu membawa anak-anak pergi mencari pekerjaan". tanya Ari pada Lisa dengan tatapan tajam.
"Iya benar"!. jawab Lisa singkat menatap balik Ari.
Ari mendesah kasar lalu melirik Laras, "Laras main dulu yah nak!".
"Iya yah"! Laras pun menurut berjalan mencari teman-temannya.
Setelah itu Ari langsung menarik tangan Lisa membawanya kedalam rumah dan masuk kamar tak lupa menutup pintu nya.
"Apa maksudmu membawa mereka keluar untuk mencari pekerjaan. Apa kau ingin melukai harga diri ku? apa kau ingin minta di kasihani oleh orang-orang atau kau ingin membuat mereka sakit. Hah...!!". ucap Ari pelan namun sedikit membentak di akhir.
"Tidak semuanya". jawab Lisa tanpa menatap Ari.
"Lalu apa maksud mu?".
"Aku tidak bisa diam saja seperti ini, aku tidak tega pada anak-anak ku yang ingin meminta sesuatu tapi tidak bisa memberikan". jawab Lisa.
Ari menahan emosinya, tangannya terkepal ada perasaan sedih bercampur marah saat ini.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa di beri tahu maka lakukan lah sesuka hati mu aku tidak melarang". kata Ari kemudian.
"Benar, apa kamu mau membiarkan aku membawa serta anak-anak mu bekerja?". tanya Lisa maksud dari ucapan Ari.
"Jika kamu masih menganggap aku suamimu, maka kamu tidak akan melakukan itu". itu tandanya Ari tidak mengijinkan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika aku benar-benar melakukan nya?". tantang Lisa.
__ADS_1
"Kamu tidak akan melakukan nya". kata Ari.
"Kamu yakin".
"Yakin".
"Baiklah, aku beri kamu kesempatan satu bulan untuk memperbaiki hubungan kita dan mensejahterakan kami jika kamu berhasil maka aku akan menetap tapi jika kamu masih sama saja seperti dulu, maka jangan salahkan aku jika kau menyesal nantinya". tutur Lisa panjang lebar.
"Baik aku setuju, tapi aku juga yakin aku tidak akan menyesal".
Ari sangat yakin sekali jika Lisa hanya berucap omong kosong saja karena tidak mungkin Lisa berani berbuat seperti itu apalagi dengan membawa Laras dan Saga yang masih kecil sudah di pastikan dia tidak akan sanggup melakukan nya.
"Mas, ingat aku tidak main-main dan aku tidak sedang bercanda". ucap Lisa serius karena melihat Ari yang seperti meremehkan nya.
"Ya ya aku percaya sudah yah aku mau ke belakang dulu. Tuh Saga tidur kamu tidurin geh!". kata Ari menunjuk Saga yang memang sudah tertidur.
Ari pun pergi dan Lisa menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja lalu menidurkan Saga.
*****
"Ri, kenapa ngelamun?". tanya teman sekampung nya yang bernama Hadi.
Ari bereaksi menanggapi pertanyaan temannya, "Ngga apa-apa cuma masalah rumah tangga aja!". katanya melanjutkan.
"Em... ya ya aku mengerti!". kata Hadi manggut-manggut.
Ari mengernyit, "Mengerti apa kamu? menikah saja belum". memang benar pasalnya temannya ini sudah berusia kepala empat namun belum menikah juga.
"Meski aku belum menikah tapi aku melihat dan bisa merasakan hal berbau rumah tangga.Jadi... jangan remehkan aku". kata Hadi dengan wajah kalemnya.
"Memangnya kamu bisa apa?".
"Mungkin aku bisa menasehati mu. Aku tau kamu pasti ada masalah tentang keuangan keluarga. Iya kan!". tepat sekali jawaban Hadi.
"Tau dari mana?".
"Dari wajahmu yang muram dan gelisah kau menganggur terus sih!".
"Hey, itu bukan nasehat namanya pergi dari sini". usir Ari kesal karena temannya malah seperti meledeknya.
"Sabar kawan, aku pun sama sedang menganggur". Hadi menatap lurus lalu menghembuskan nafas kasar.
"Mencari pekerjaan jaman sekarang susah sekali apalagi yang tidak punya ijasah seperti kita, tapi aku masih mending hanya sendiri sedangkan kamu sudah berkeluarga jadi seperti nya kau tidak boleh sering menganggur kalau tidak istrimu yang manis itu bisa pergi darimu dan pria di luar sana akan merebutnya darimu". ucap Hadi panjang lebar mungkin maksudnya menakuti.
"Kamu ini bicara apa? memberi nasehat atau malah menambah masalah atau tujuan mu adalah mau melihat rumah tangga ku hancur lalu kau yang ingin merebut istri ku, begitu".
__ADS_1
"Hey, negatif sekali pikiranmu padaku aku hanya berumpama kamu serius sekali menanggapinya. Sudahlah lebih baik tenang kan pikiran mu lalu carilah pekerjaan kasihan anak istrimu". ucap Hadi kemudian menepuk bahu Ari pelan.
Ari diam saja tidak menjawab lagi hanya menatap hamparan sawah di depannya.