
Setelah bertemu dengan Sarah, Lisa merasa ada kelegaan di hatinya mungkinkah ini jawaban dari setiap doanya kini hatinya sudah siap untuk meninggalkan Ari demi anak-anak dan kewarasan hatinya.
Karena selama satu bulan ini keluarga Ari terutama saudara perempuan nya yang bernama Ijah itu semakin menjadi-jadi, apapun yang di lakukan Lisa selalu salah dan selalu di sindir-sindir, Lisa tidak boleh bersantai sedikit jika terlihat dirinya sedang memainkan ponsel saat Saga tertidur pasti saudaranya itu berkata.
"Hey Lisa anakmu sudah tidur, bukannya beres-beres rumah malah santai-santai". kata saudaranya itu dengan nada tidak suka.
"Iya mbak!". jawab Lisa pelan, kemudian langsung bergegas berbenah rumah sendiri.
Padahal dirinya juga selalu bersih-bersih rumah akan tetapi tidak pernah di anggap dan apapun yang dilakukan Lisa tidak akan berpengaruh apapun meski dia sudah melakukan sendiri.
Kadang Lisa heran di situ bukan hanya ada dirinya saja tetapi mbaknya itu selalu menyuruh Lisa untuk melakukan pekerjaan rumah, sepertinya mbaknya ini memang tidak suka dengan keberadaan Lisa di situ maka nya dia selalu membuat perkataan yang menyakiti hati Lisa.
Lisa juga sudah cukup sabar selama ini dalam menghadapi kakak iparnya itu yang selalu saja ikut campur dalam hal pribadi Lisa. Lisa menjadi gemas ingin rasanya menarik mulutnya agar diam tapi dia enggan melakukan nya karena masih menghargai kepada seorang kakak.
*****
"Mas, bagaimana apa mas sudah siap? kapan kita akan pindah dari sini?". tanya Lisa pada Ari saat mereka sedang duduk bersama.
"Apa yang siap? kenapa kita harus pindah?". jawab Ari tanpa dosa.
Lisa mengernyitkan alisnya lalu menghembuskan nafas kasar, "Mas, kenapa jawabanmu seperti itu, seperti tidak punya rasa bersalah padahal mas sudah aku beritahu beberapa kali, jangan pura-pura bodoh mas!". cecar Lisa di ujung kesabarannya, permintaan nya seperti benar-benar di remehkan oleh Ari.
"Lisa, sudah berapa kali aku katakan dan kamu juga sudah tau jawabannya karena aku sudah berungkali mengatakan nya". balas Ari suaranya mulai meninggi.
"Mas, dengar jika kita mempunyai niat dan keinginan untuk merubah maka Allah akan selalu memberi kita jalan, seberapa sulit itu tetapi kalau kita diam saja dan tidak mau berusaha maka Allah juga tidak akan memberi kita apapun. Percayalah mas hidup kita akan berubah jika kita keluar dari sini". tukas Lisa dengan nada sepelan mungkin, bertujuan dapat masuk ke relung hati suaminya itu.
Ari terdiam sesaat, Lisa melihatnya berfikir Ari dapat menelaah ucapan nya, namun ternyata jawabannya sungguh membuat hatinya tersayat-sayat sakit... sekali.
"Kau saja yang keluar dari sini, aku tetap akan disini". begitu jawaban yang keluar dari mulut Ari.
Air mata luruh seketika, bayangan akan hidup bahagia berempat di rumah petak kecil sirna seketika, suaminya itu seperti hanya mementingkan dirinya sendiri tak ada niat dalam hatinya untuk berubah.
Baiklah fiks, kesempatan terakhir sudah habis Ari tak dapat membuktikan nya itu artinya dia rela kehilangan anak serta istrinya.
__ADS_1
"Baiklah mas, seperti katamu tadi aku akan mengabulkan permintaan aku anggap kamu gagal pada kesempatan yang aku berikan. Terimakasih sudah mau menjadi suami serta ayah dari anak-anak ku. Aku harap setelah ini kamu bisa bahagia tanpa kami dan rawat serta jagalah dirimu baik-baik. Satu lagi jangan lewatkan sholat mu." setelah berkata seperti itu Lisa kembali ke kamar entah untuk apa.
Dan Ari tak menyadari jika itu adalah perkataan Lisa yang terakhir sebelum benar-benar pergi.
*****
Dimalam hari Lisa sedang berkemas, hanya baju-baju nya serta anak-anaknya yang di perlukan saja yang dibawa tak membawa benda berharga karena memang tidak punya apa-apa selain ponsel yang ia genggam yang nantinya juga akan ia jual untuk menyambung hidup sebelum mendapatkan uang.
Dia sudah menghubungi Sarah untuk menjemput nya dan Sarah dengan senang hati melakukannya tanpa bertanya lebih dulu. Besok pagi Lisa akan pergi dengan alasan ke rumah orangtuanya sambil menginap seperti biasa supaya mertuanya tidak curiga.
Lisa juga sudah menuliskan surat perpisahan untuk Ari dan menaruh di lemari nya untuk sementara.
Lisa juga menaruh tas yang sudah siap itu ke dalam lemari supaya tidak di lihat oleh Ari lalu setelah itu dia menatap kedua anaknya yang sudah tertidur lelap kemudian mencium satu persatu dahi mereka.
"Mamah akan membawa kalian pergi, dan kita akan bahagia bersama meski tanpa ayah. Mamah harap kalian tidak menanyakan ayah kalian nantinya ya nak jika kalian tidak bertemu lama dengan ayah kalian". ucap nya dengan air mata mengalir di pipinya. Hal yang tidak mungkin jika anaknya tidak menanyakan ayahnya.
Kini Lisa harus tegar dan kuat dalam menghadapi ujian rumah tangga nya, dalam hal ini sebenarnya Lisa ingin memberi hukuman pada Ari karena telah mengabaikan semua perkataan, Lisa harpa setelah ini Ari dapat berfikir dan mau merubahnya serta menyesali perbuatannya.
Lisa kemudian ikut tertidur di tengah-tengah mereka sambil memeluknya.
Pagi pun tiba Ari masih tertidur seperti biasa, setelah menyiapkan semuanya termasuk memasak yang terakhir untuk Ari, dia selipkan surat yang tadi malam sudah dia tulis pada bagian bawah gelasnya supaya dapat terlihat olehnya.
Lisa harus pergi sebelum Ari terbangun dan menggagalkan rencana nya, Sarah pun sudah menunggu di depan.
"Bu, aku mau ke rumah ibu dulu yah!". pamit Lisa pada mertuanya sambil bersalaman.
"Ke rumah ibu, sama siapa? Ari nya sudah bangun". tanya ibu mertua beruntun.
"Mas Ari tidak bisa mengantar Bu, aku juga udah bilang padanya akan ke rumah ibu dan adikku sudah menjemput di depan". ucap Lisa membohongi nya dengan sangat terpaksa.
"Oh ya sudah hati-hati!". hanya itu saja jawabannya karena memang Lisa sudah terbiasa ke rumah orangtuanya dan menginap.
"Iya Bu, assalamualaikum".
__ADS_1
"Walaikum salam".
Lisa pun pergi membawa tas serta anak-anaknya keluar lalu menghampiri Sarah yang masih duduk di dalam mobil.
*Hai...!" sapa Sarah keluar mobil.
"Hai juga"!. jawab Lisa menaruh tasnya ke belakang kemudi.
"Ayo cepat naik!" kata Sarah menggendong Laras memasuki mobilnya.
Mereka pun naik dan mobil langsung berjalan menjauh setelah Sarah menyalakannya.
"Kalian sudah sarapan?". tanya Sarah.
"Belum". Laras yang menjawab.
"Baiklah ayo kita sarapan dulu, kebetulan aku juga belum sarapan". kata Sarah dengan semangat.
Lisa menatap rumah suaminya dari kejauhan , air matanya luruh ke pipi Sarah melihatnya namun tidak ingin menanyakan nya. Toh nanti juga Lisa akan memberi tahu nya.
Kini mereka mampir dahulu disebuah warung kecil untuk sarapan sebelum melakukan perjalanan panjang.
"Kita makan disini saja yah!". ucap Sarah pada Laras.
"Iya! pengen!" ucap Laras begitu riang.
Sarah tersenyum, "Yuk Lis.."!.
"Iya terimakasih banyak Sarah, kamu memang sahabat terbaik ku". kata Lisa terharu.
"Sama-sama ayo!".
Mereka pun masuk ke dalam warung kecil itu memulai sarapannya.
__ADS_1