Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 21


__ADS_3

Oek... oek... oek...


Sesuatu yang di tunggu pun akhirnya keluar, Ari bernafas lega sangat lega juga sangat bersyukur anaknya telah lahir dengan selamat.


Sebelum itu suster telah memperlihatkan bayi mungil itu pada ibunya terdahulu.


"Bu, selamat anak ibu laki-laki." kata suster memperlihatkan bayi Lisa.


Lisa menangis terharu melihat bayi mungil itu dia mencium pipi tembem bayi nya, Ari pasti sangat senang karena keinginan nya untuk mempunyai anak laki-laki terkabul dan Lisa berharap suaminya bisa menjadi suami serta ayah yang baik untuknya dan anak-anaknya.


Sang dokter pun lalu keluar dengan membawa seorang bayi mungil dan tampan yang rupanya bayi itu berjenis kelamin laki-laki.


"Ayah bayi nyonya Lisa...!" panggil suster sambil membawa bayi yang belum di bersihkan masih ada sisa ketuban di seluruh tubuh bayi itu.


"Saya.." Ari menyahut panggilan suster.


"Ini bayi nya laki-laki, tolong di adzan kan." ucap suster itu.


"Baik sus."


Ari pun mengadzani bayi laki-laki nya yang baru lahir di telinga kanan nya dan Iqamah di telinga kirinya dengan khidmat dan terharu, sungguh Ari sangat bersyukur Yang Maha Kuasa telah mengabulkan keinginan nya untuk mempunyai anak laki-laki.


"Sudah sus." ucap Ari.


"Baik, berikan bayi nya pak akan kami bersihkan." suster meminta kembali bayi itu untuk di bersihkan.


"Ini sus." Ari pun memberikan bayinya pada suster itu.


Suster pun menerima nya kemudian masuk ke ruangan bayi.


"suami nyonya Lisa." panggil perawat laki-laki.


"Iya saya." sahut Ari.


"Tolong di bantu istrinya." kata perawat laki-laki itu dan Ari pun mengangguk.


Kemudian datanglah Lisa yang masih setengah sadar yang di dorong dengan ranjang brangkar dengan tubuh yang masih kaku akibat obat anestesi. Ari beserta perawat itu bekerjasama memindahkan Lisa ke ranjang semula sebelum operasi dan membantu memindahkan Lisa kembali ke ruang inap nya.


*****


"Lisa, anak kita laki-laki." ucap Ari saat Lisa sudah di pindahkan.

__ADS_1


"Iya, selamat mas." sahut Lisa dengan senyuman.


"Terimakasih kamu sudah mau berjuang." kata Ari memandang Lisa penuh haru.


"Aku juga terimakasih kamu sudah mau menemani dan menjagaku." balas Lisa karena Ari sangat bertanggung jawab sekali atas dirinya.


"Tidak perlu berterima kasih itu memang sudah kewajiban ku." tukas Ari tak mau istrinya terbebani.


"Lalu... siapa nama anak ini?" tanya Ari.


"Aku mau menamainya Ali Saga panggilan nya Saga, bagaimana menurutmu?." saran Lisa, karena nama itu sudah dia rancang dalam otaknya.


"Ali Saga, em... bagus juga. Pandai kamu memilih nama." puji Ari tersenyum lembut.


Lisa membalas senyuman itu dengan senyuman pula.


*****


Masa-masa pemulihan pun berjalan, sebelum Lisa keluar dari rumah sakit Lisa harus dalam keadaan yang sudah bisa berjalan dan bergerak, Lisa juga terus berlatih supaya dirinya cepat keluar dari rumah sakit karena dia tidak mau lama-lama di rumah sakit.


Apalagi Laras terus saja menghubunginya lewat ponsel keponakan Lisa sambil sesekali menangis, mungkin karena merasa rindu dan juga kesepian jadi Laras begitu, wajar saja karena Laras memang masih kecil.


Hari yang di tunggu pun tiba, kini akhirnya Lisa beserta Ari dan bayi mereka di perbolehkan untuk pulang. Lisa sangat senang bisa pulang ke rumah apalagi Laras juga sudah rindu pada orangtuanya dan kebetulan di waktu kepulangan mereka adik Lisa hadir untuk menjenguk jadi bisa sekalian membantu mengemasi barang-barang yang ada di sini.


"Semuanya pulang dulu yah!" ucap Ari menyapa semua orang yang ada di situ.


"Iya hati-hati." beberapa menyambut dengan senyuman dan membalas dengan perkataan.


Tak lupa juga Ari dan Lisa berpamitan dengan para perawat yang ada di ruang jaga depan kamar pasien, semua mengiring langkah mereka dengan senyuman hangat dan tulus.


Kini mereka berada di luar rumah sakit sedang menunggu mobil online yang sudah di pesan, Lisa di bantu dengan kursi roda sambil membawa bayinya dalam dekapannya. Akhirnya mobil yang di tunggu pun datang, Ari dan Lisa masuk ke dalam mobil kecuali adik Lisa yang pulang menggunakan motor Ari yang dari awal mereka bawa.


Tak terasa sampai lah mereka di rumah orang tua Lisa secara tak terduga, Ari memutuskan untuk mengurus semuanya di rumah orang tua Lisa bukan di rumah orang tuanya di karenakan hanya Ari yang tau sebab dan alasannya tapi Lisa juga tidak mempermasalahkan itu karena sebetulnya dia juga lebih nyaman dalam masa pemulihan total ini berada bersama orang tua kandungnya.


Saat keluar Lisa di bantu oleh tetangga sebelah rumah ibu nya juga suaminya, mereka di sambut penuh suka cita begitu juga Laras yang langsung menangis melihat kedatangan orang tuanya.


"Mamah, Laras kangen..." dengan tangis Laras menyambut.


"Iya nak mamah juga kangen."


Laras ingin memeluk namun segera di cegah.

__ADS_1


"Hey jangan peluk-peluk dulu itu perut mamah nya masih sakit." ucap ibu Lisa pada Laras sambil membawa bayi Lisa.


Laras menurut namun tetap mengikuti Lisa ke kamar, kemudian bayinya ditidurkan di kamar ke dua yang di tempati oleh adik perempuan Lisa yang belum menikah. Lalu ibu Lisa pergi ke dapur untuk membuatnya kan minum. Sedang tetangga Lisa sudah keluar lagi setelah membantu Lisa.


"Mah, ini bayi Laras."


"Iya nak ini Ade Laras, nanti di jagain yah adiknya?."


"Iya mah".


"Laras, nih ayah bawa makanan buat Laras." kata Ari memberikan makanan berupa kue dan Roti dari rumah sakit yang tidak habis.


"Ye... buat Laras semua ya yah!".


"Iya".


Laras merasa senang lalu dia membawa semua kue itu ke depan untuk di makannya.


"Lisa, siapa nama anak kita?". tanya Ari sambil memandangi wajah mungil anaknya.


"Em... aku yang beri nama ini mas?".


"Iya". jawabnya singkat.


"Aku sudah memikirkan nama itu jauh-jauh hari sebelum dia lahir mas bahkan sebelum Laras lahir jadi aku harap mas mau menerima nya yah". ungkap Lisa memang benar.


Ari tersenyum manis, "Ya sudah tidak apa-apa aku akan mendukung apapun yang kau lakukan selagi itu baik dan menyenangkan hatimu.".


"Terimakasih mas." lalu Lisa memandangi anaknya.


"Aku akan memberinya nama Alwi Saga, bagaimana?".


"Alwi Saga, itu bagus lalu apa panggilan nya?".


"Saga".


"Baiklah Saga anak ayah jadilah anak yang kuat untuk bisa melindungi ibu dan kakakmu karena kamu anak laki-laki, tumbuhlah dengan sehat dan jadilah anak yang Sholeh dan cerdas jangan seperti ayahmu yang banyak kekurangan nya yah". ucap Ari panjang lebar dengan memperhatikan wajah bayinya yang terlelap.


Lisa hanya tersenyum kecil mendengar nya.


"Baiklah, sekarang beristirahat lah." ucap Ari kemudian dan Lisa mengangguk, Ari pun ikut beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2