
"Terimakasih Hen kamu datang tepat waktu." ucap Ari saat mereka sampai ditempat kerjaan mereka.
"Santai saja itulah gunanya teman." jawab Hendra menepuk bahu Ari.
Sebenarnya Hendra melihat dan memperhatikan Ari dan Zoya sedari masuk dia juga melihat ekspresi Ari yang tidak suka pada Zoya jadi dia berinisiatif mengganggu mereka.
"Jadi... kamu sudah menyesalinya sekarang" ucap Hendra setelah mereka terdiam tadi.
Ari menghela nafasnya, "Sangat menyesal Hen, sekarang Lisa mengabaikan ku." jawabnya sambil membayangkan wajah Lisa.
"Apa Lisa meminta bercerai?" tanya Hendra.
"Iya, tapi sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya!" jawab Ari tegas.
"Kenapa? bukannya kamu sudah ada Zoya." kata Hendra meledek.
"Kamu meledekku Hendra." ujar Ari menatap tajam Hendra.
Hendra malah terkekeh, "Jadi sekarang apa rencana mu?."
"Aku ingin bisa lepas dari wanita itu dan kembali meyakinkan Lisa." ungkap Ari memandang Hendra dengan serius.
__ADS_1
"Untuk jauh dari wanita itu gampang saja, tapi... jika untuk meyakinkan istrimu sepertinya sulit. Kamu tau hati perempuan itu lemah dan aku yakin Lisa sedang terpuruk sekarang." Jawab Hendra, dia juga merasakan apa yang dirasakan sahabatnya itu karena dia pun sama pernah mengalaminya dan bahkan hampir bercerai.
Ari menunduk lemah, ya dia tau istrinya pasti sangat tersakiti sekali dia juga tidak bisa membayangkan jika istrinya ada dibalik jeruji.
"Kenapa tidak kamu putuskan saja wanita itu?" tanya Hendra yang kasihan pada Ari.
"Tidak bisa aku putuskan begitu saja Hen, dia mengancam ku mangkanya aku tidak boleh gegabah. Aku harus mendinginkan hatinya dulu untuk mundur pelan-pelan supaya dia tidak akan bertindak nekat pada keluargaku." jelas Ari panjang lebar.
"Tapi yang aku lihat sepertinya Zoya tidak akan melepaskan mu dia mungkin sudah jatuh cinta padamu dan terobsesi untuk memilikimu." kata Hendra yang pernyataannya sangat benar.
Ari juga berfikir seperti itu, padahal sejak awal sudah dia katakan bahwa dia sudah memiliki anak dan istri tapi Zoya tidak peduli dia tetap terus menggodanya sampai dia terjebak pada kesalahan itu.
"Hen, lalu apa yang harus aku lakukan. Tolong bantu aku." mohon Ari pada Hendra.
Hendra merasa kasihan juga dia tidak mungkin membuat sahabatnya terjebak seperti ini.
"Baiklah aku akan menolong mu kamu tenang saja." ucap Hendra.
Ari tersenyum senang, "Terimakasih, kamu memang sahabatku."
"Iya, aku punya seorang ustad yang sangat pintar ceritakan semuanya pada beliau, beliau pasti akan mencarikan solusinya." Hendra mengenalkan ustad yang dulu pernah menolongnya juga.
__ADS_1
"Dimana ustad itu? ajak aku bertemu dengannya!" kata Ari antusias.
"Pulang bekerja aku akan mengantarmu ke sana."
"Sekali lagi terimakasih Hen."
"Ya sama-sama. Ayo sekarang kita mulai bekerja." ucap Hendra mengakhiri dan Ari hanya mengangguk.
*****
Di rumah Lisa, dia sedang menata dagangannya untuk dia jual berkeliling hari ini tapi tiba-tiba saja perutnya terasa mual dan kepalanya mendadak pusing.
Tak lama kemudian perutnya serasa diaduk sehingga membuatnya ingin muntah dia pun bergegas ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Hoek... Hoek... Hoek...
Setelah dirasa Lisa sudah menuntaskan semuanya kemudian di siram dan kembali duduk sambil memegangi perut dan kepalanya.
"Kenapa ini? ada apa ini? kenapa perutku sangat tidak enak." ucap Lisa sambil berfikir.
"Sepertinya aku belum haid dua bulan ini. Apa jangan-jangan...!" Lisa hanya bisa pasrah jika dugaannya itu benar terjadi.
__ADS_1