
Saat Ari ingin mendekati Ilham dan bertanya apa maksud dari perkataannya tiba-tiba saja Laras terjatuh dan menangis dan itu membuat perhatian mereka semua teralihkan.
"Laras..!" Lisa mengejar.
Mendengar tangisan Laras antara Ari dan Ilham, Ilham dulu lah yang mengejar pertama diikuti Ari dibelakangnya.
"Laras, kamu tidak apa-apa kan sayang!" Lisa segera membantu Laras bangun dan menggendongnya kemudian mendudukkannya dikursi tetangga yang dekat.
"Laras, kamu tidak apa-apa?" Ilham datang sambil mengecek kaki Laras yang terluka.
"Laras nak! mana yang sakit!" Ari merasa tidak nyaman saat Ilham mendahuluinya dan berlagak perhatian padahal yang ayahnya adalah dia.
Melihat Ari mendekatinya segera Lisa bangkit.
"Tidak apa-apa mas, Laras hanya terjatuh kecil saja luka ini biar aku obati didalam." tanpa menunggu jawaban Lisa langsung pergi dari hadapan mereka berdua.
Ari menatap punggung Lisa yang melangkah menjauhinya dengan tatapan sendu.
Sedangkan Ilham yang melihatnya semakin yakin bahwa rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja.
Kemudian Ari dan Ilham saling bertatapan dengan sorot mata yang sulit diartikan tanpa berbasa basi Ari pergi menyusul Lisa.
Sedangkan Ilham kembali ke rumahnya.
Sementara didalam rumah Lisa sedang mengobati Laras dengan betadin.
__ADS_1
"Mamah sakiiit.." ucap Laras menangis kesakitan.
"Tidak apa-apa sayang, besok juga sembuh jangan nangis yah ada mamah." kata Lisa tersenyum.
"Laras!" panggil Ari terlihat cemas.
"Ayah!" Laras berjalan menghampiri ayahnya dan ayahnya langsung menggendongnya.Lisa membiarkan itu dia hanya berlalu untuk menyimpan obat itu.
"Ayah sakit!" adu Laras khas anak kecil.
"Tidak apa-apa nak! besok juga sembuh kan sudah diobati sama mamah!" jawaban Ari hampir sama dengan Lisa.
"Kenapa belum berangkat?" tanya Lisa setelah menaruh obat itu dengan datar.
Ari mengernyit Lisa seperti tengah mengusirnya. Dan disaat yang bersamaan Zoya menelfon.
"Angkat saja, anggap aku tidak ada." ucap Lisa sudah bisa menebak telfon itu dari siapa dia langsung mengambil Laras dalam gendongan Ari dan pergi.
"Lisa tunggu!" Ari mencekal tangan Lisa supaya tidak pergi dan memilih mengabaikan telfon itu.
"Sampai kapan kamu begini terus?" tanya Ari karena sudah tidak tahan dengan sikap acuh istrinya.
"Sampai kamu tidak berhubungan lagi dengan perempuan itu atau berpisah denganku." jawaban Lisa membuat Ari bungkam karena sampai sekarang Ari masih belum lepas dari jeratan Zoya perempuan perusak rumah tangganya.
"Tapi Lisa...!"
__ADS_1
"Sudahlah mas, aku cape. Tuh dia nelfon lagi kalau kamu tidak angkat maka dia akan melaporkanku kepolisi." kata Lisa karena telfon berdering lagi setelah mati tadi.
Ari kemudian terpaksa mengangkatnya dengan malas.
"Ya ada apa?"
( Kamu kenapa belum berangkat mas? aku sudah menunggu kamu dari tadi) jawab Zoya diseberang sana.
"Iya aku sedang ada dijalan sebentar lagi sampai." kata Ari berbohong.
(Ya sudah cepat yah! aku sudah membawakan sarapan untukmu) tukas Zoya tidak tau malu.
"Tidak perlu aku sudah sarapan. Terimakasih." tolak Ari
Zoya marah mendengar penolakan dari Ari diapun membentak Ari.
( Hey, sudah untung aku buatkan sarapan untukmu, kamu malah menolaknya tidak tau terimakasih ) sungut Zoya kemudian mematikan telfonnya.
Ari menjauhkan ponselnya rasanya telinganya berdengung mendengar teriakan Zoya.
"Kenapa dia jadi begini? apa sifat aslinya sudah keluar." pikir Ari melihat ponselnya.
Kemudian tak lama sebuah pesan masuk.
( Cepat kesini aku tau kamu belum pergi atau akan ku urus saja laporan tentang istrimu ) isi pesannya disertai emoticon marah dan tersenyum sinis.
__ADS_1
Ari mengusap wajahnya kasar apalagi ini sungguh dia dibuat jengkel dengan tingkah perempuan ini.