Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 16


__ADS_3

Ari dan Hendra sedang berada dirumah seorang ustad, sebelum pulang mereka sengaja mampir kesini dulu untuk memenuhi hajat Ari.


"Assalamualaikum Ustad Azam." sapa Hendra kala yang ditunggu sudah datang.


"Waalaikum salam WR.WB." jawab ustad Azam dengan ramah.


"Hendra, apa kabar kamu? sudah lama tidak berkunjung kesini." ucap Ustad Azam berbasa basi.


"Sehat pak ustad." jawab Hendra.


Lalu datanglah istri dari ustad Azam membawakan minuman.


"Silahkan diminum." kata istri ustad Azam ramah lalu dengan sopan meninggalkan mereka.


"Terimakasih." jawab Ari dan Hendra bersamaan.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" ustad Azam seakan mengerti kedatangan mereka berdua.


"Begini pak ustad ini teman saya namanya Ari dia sedang ada masalah dalam rumah tangganya dan masalahnya sama seperti waktu saya dulu dan dia ingin lepas dari siperempuan ini sedangkan siperempuan ini sangat susah sekali. Mohon bantuannya pak ustad." papar Hendra menyebut inti masalahnya sama seperti dirinya waktu dulu.


Ustad Azam manggut-manggut dan Ari hanya menyimak.


"Boleh saya lihat fotonya berikut namanya." pinta ustad Azam.


"Ini ustad fotonya dan namanya dibelakangnya." Ari menyerahkan foto yang sudah dipersiapkan lebih dulu berkat diberitahu Hendra karena supaya tidak bolak-balik.


Ustad Azam menerimanya kemudian mengamati kemudian berdoa dengan khusyu.


didepannya juga sudah disiapkan dua air botol minum.


Ari berharap dengan cara ini Zoya dapat dikendalikan olehnya dan perlahan dapat melepaskannya juga Lisa dapat memaafkannya dan mau menerimanya kembali.


"Dia memang keras kepala, berikan air doa ini sama dia tapi jangan ketauan campurkan ke minuman nya dan ini sama berikan minuman ini ke minuman nya dan jangan ketauan. Dan sebelum diberikan bacakan bismillah 7 kali juga sholawat nabi 7 kali pada air minumnya masing-masing. Mengerti" terang ustad Azam dengan pelan namun serius.


"Mengerti pak ustad, lalu berapa kali saya harus memberikan ini pak ustad?". tanya Ari.

__ADS_1


"Sampai dia bosan dengan kamu dan pergi." jawab ustad Azam.


"Sampai bosan, kalau bosannya lama bagaimana ustad." Ari khawatir jika begitu ceritanya dia takut sendiri jika Zoya bosannya lama.


"Insya Allah tidak akan lama, sembahyang lah tepat waktu jangan pernah meninggalkannya dan berdoalah dengan khusyu insya Allah keluargamu akan utuh." jelas ustad Azam.


"Baik ustad saya mengerti." jawab Ari.


"Jadilah pria yang bertanggung jawab dan bahagiakan istri dan anakmu serta bimbinglah mereka ke jalan yang benar karena diakhirat sana kau akan menanggung semua dosa-dosa mereka." ustad Azam memberikan petuah pada Ari agar Ari bisa berubah.


Ustad Azam mengerti masalah yang tengah dihadapi oleh Ari namun sesama lelaki dia juga tidak bisa menyalahi dia hanya bisa menasehati dan menolongnya. Karena hakikatnya manusia adalah tempat kesalahan yang tidak akan pernah luput.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Ari, mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.


Ari malam ini pulang sangat larut dan sengaja mematikan ponselnya setelah sampai di kontrakan dia duduk terlebih dahulu tidak langsung masuk kemudian membuka ponselnya setelah dilihat banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Zoya membuat Ari sangat frustasi.


"Sabar aku harus sabar menghadapi ini." ucap Ari pelan sambil meremas ponselnya.


Lalu tiba-tiba ponselnya langsung berdering dan itu dari Zoya.


'Jika kali ini tidak diangkat maka siap-siaplah orang suruhanku akan menjemput istrimu.' begitu ucapannya dan hal itu mampu membuat nyali seorang Ari menciut.


Dan saat Zoya memanggil lagi Ari terpaksa mengangkatnya.


"Ada apa? ini sudah malam." ucap Ari tanpa basa basi setelah telfon itu diangkat.


"Hey, sayang kok suaranya begitu abisnya kamu nomornya ga aktif." balas Zoya dengan suara dibuat manja yang malah membuat Ari ilfil.


"Iya ponselku habis baterai, ini sudah malam aku ngantuk besok lagi yah." Ari mencari alasan karena sebenarnya dia malas meladeni.


"Kok kamu gitu baru juga diangkat, aku kangen sama kamu pengen jalan bareng lagi." Zoya merengek.


"Zoya, aku sudah punya anak kamu harus ngerti."


"Aku ngerti, aku kan cuma pengen main sama kamu."

__ADS_1


"Ya sudah besok saja kita bicaranya, aku ngantuk."


"Hem.. yasudah janji yah besok."


"Iya sudah yah."


Lalu Ari langsung menutup telfonnya, dia menghela nafas kemudian.


"Ya Allah maafkan aku yang hina ini." ucapnya sambil mengadahkan wajahnya ke langit malam.


Di balik jendela Lisa mendengar percakapan Ari yang pasti dengan Zoya tiba-tiba dia meneteskan air mata meski suaminya bilang dia hanya main-main dan akan mengakhirinya namun jika masih berkomunikasi dan bertemu tetap saja hati istri mana yang tidak sakit.


Jadi saat ini yang bisa Lisa lakukan hanya lah berdoa dan bersabar ingin rasanya meminta berpisah namun perceraian adalah hal yang dibenci Allah dan lagi dia memikirkan anaknya yang masih perlu kasih sayang seorang ayah.


"Assalamualaikum." Ari mengetuk pintu sambil mengucap salam setelah dia menguasai hatinya.


Lisa langsung menyeka air mata nya dan membuka pintu untuk Ari.


"Waalaikum salam." jawab Lisa sambil mencium punggung tangan Ari.


"Lisa, maaf aku pulang telat tadi aku ada urusan sama Hendra." Ari menjelaskan dengan pelan.


"Ga apa-apa sudah biasa pulang telat kan, aku dan Laras memang tidak terlalu penting buat kamu." jawab Lisa menyindir pelan.


"Lisa kamu ngomong apa sih! kalian itu sangat penting buat aku." Ari merasa tersinggung disindir begitu.


"Aku cuma mau ngasih tau sama kamu mas, kalau aku hamil." bagaimanapun juga Lisa harus memberi tahu Ari tentang kehamilannya.


Mendengar Lisa hamil lagi Ari terkejut sangat bahagia ini akan menjadi bertambah alasan untuk menghindari Zoya.


"Apa? kamu hamil lagi Lisa." Lisa mengangguk, Ari langsung memeluknya.


"Terimakasih sayang, setelah ini aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian semua." kata Ari bahagia.


Melihat reaksi Ari, Lisa bingung harus senang atau sedih tapi dia tetap akan mensyukuri ini semua.

__ADS_1


__ADS_2