Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
chapter 13


__ADS_3

Setelah telfon itu ditutup sepihak Ari menggeram kesal pasalnya lama kelamaan sifat Zoya sangat membuatnya pusing.


Karena selalu seenaknya sendiri dan suka memerintah belum lagi suka marah yang tidak jelas, walau dia hanya pekerja bawahan tetapi harga dirinya merasa terinjak-injak.


Dia pun berjalan kearah Lisa dan menatap punggung wanita yang dicintainya itu dengan sendu.


'Bersabarlah Lisa aku berjanji akan memperbaiki semuanya.' ucapnya dalam hati.


"Lisa, aku berangkat dulu yah!" ucap Ari pelan.


Namun Lisa hanya mengangguk tanpa melihat wajah Ari membuat Ari merasa kecewa.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." barulah Lisa mau menjawabnya tapi wajahnya tetap tidak diarahkan kepada suaminya yang sudah menanti.


Tanpa salaman dan cium pipi atau kening yang seperti biasanya, Ari memutar badan dan kemudian pergi.


Disaat itulah Lisa menengok lalu tubuhnya luruh ke lantai, sebenarnya dia juga tersiksa seperti ini.


Hati wanita mana yang tidak sakit melihat suaminya yang masih berhubungan dengan wanita selingkuhannya dengan dalih akan meredam emosi wanita selingkuhannya supaya tidak melaporkan istrinya kepolisi.


Sebenarnya diantara mereka, Lisa lah yang bisa melaporkan mereka ke polisi hanya saja dia tak punya uang dan tak punya kuasa dia juga tidak mau ayahnya Laras masuk penjara.

__ADS_1


Jadi dia hanya bisa pasrah dan terus berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan keadilan untuknya.


*****


Sampailah Ari ditempatnya bekerja.


Pekerjaan yang ditekuni Ari sudah hampir selesai dan sebenarnya juga sudah mau selesai hanya saja Zoya mengulur-ulur waktu supaya dirinya bisa tetap bertemu dengan Ari lelaki yang sudah mencuri perhatiannya.


Dia menggunakan segala cara supaya Ari bisa jadi miliknya termasuk mengambil dari istrinya dan menyingkirkan istrinya.


Kini Ari dan Zoya melangkah bersama pandangan semua orang tertuju pada mereka, bagi yang tidak tau menganggap mereka sangat serasi tetapi bagi yang sudah tau melihat mereka dengan miris pasalnya keduanya telah melakukan dosa besar dan telah menyakiti seseorang.


"Zoya, kita sudah sampai!" ucap Ari sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Zoya yang berada di lengannya.


"Kamu tidak lihat, semua orang memandangi kita." tukas Ari sambil menatap sekeliling.


"Biar saja, toh aku sama sekali tidak keberatan." Zoya tidak peduli, dia bahkan sengaja mendekatkan tubuhnya ke Ari dan sengaja menempelkan dadanya ke tubuh Ari.


Kemudian Zoya tersenyum nakal, "Apa kau tidak rindu dengan kebersamaan kita mas, aku selalu menantikan itu." bisik Zoya sensual berusaha menggoda Ari.


Entah mengapa kali ini Ari yang mendengar itu merasa muak dan jijik, dia memejamkan mata tidak mau mengingat kesalahan terbesar yang sudah menyakiti istri yang dicintainya itu lagi.


Melihat Ari yang memejamkan mata dan menahan nafas pikiran Zoya malah terbalik dia mengira Ari sedang menahannya.

__ADS_1


"Kenapa mas? kamu sudah tidak sabar yah! tenang yah pulang dari sini kita ke hotel." ucap Zoya lagi tak tau malu.


Ingin sekali Ari memukul mulut wanita itu tapi tidak mungkin ia lakukan selain dia wanita mereka juga sedang berada ditempat umum, jadi Ari hanya bisa menahan emosinya sambil mengepalkan tangannya.


Dia berfikir bagaimana caranya bisa terlepas dari wanita ini karena semakin kesini wanita itu semakin berani.


Tiba-tiba saja Hendra datang menyapa.


"Pagi RI, aku cari-cari kamu ternyata disini sedari tadi aku mencari kamu." kata Hendra.


Seolah mendapat angin segar Ari segera menyahut dan menjauhkan diri dari Zoya, Zoya yang melihatnya menjadi kesal.


"Pas sekali aku juga sedang mencarimu."


"Wah! kenapa kamu mencariku?" tanya Hendra.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus kita bahas." jawab Ari.


"Baiklah ayo tunggu apalagi."


"Zoya aku kesana dulu! sebentar lagi akan mulai bekerja." Ari basa basi yang sebenarnya ingin segera pergi dari situ.


"Ya sudah sana!" Zoya hanya mencebik kesal.

__ADS_1


Ari tidak peduli dia kemudian melangkahkan kakinya bersama Hendra.


__ADS_2