
Masa kehamilan yang kedua ini terasa begitu berat juga ada rasa syukur bagi Lisa karena dua hal yang pertama yang membuatnya bersyukur adalah Ari suaminya telah berhenti karena habis kontrak ditempat kerja yang selalu bertemu dengan Zoya.
Dengan habis kontrak ini jadi mereka tidak akan pernah bertemu lagi kecuali mereka janjian dan yang terasa begitu berat adalah pemasukan untuk hari-hari mereka jadi menipis bahkan tidak ada karena Ari tidak punya pekerjaan dan sekarang sedang tidak bekerja.
Lisa juga tidak berjualan kerupuk lagi karena hamil muda ini dia khawatir jika terlalu sering kelelahan itu akan berakibat pada janinnya.
Ilham tetangganya yang menjanjikan dagangannya akan diambil olehnya dan di jual oleh temannya di bus mengatakan bahwa ia sedang pulang kampung sedang ada urusan dengan keluarganya entah untuk berapa lama padahal Lisa sangat senang dia jadi ada pemasukan.
Terkadang Lisa merasa sedih saat Laras yang masih berusia 2 tahun lebih itu meminta jajan tapi dia tidak punya uang, untungnya anak itu menurut dan hanya makan seadanya.
Ari pun suka pergi entah kemana dia bilangnya untuk mencari uang dan pulangnya terkadang hanya membawa beberapa uang kecil yang hanya cukup untuk membeli beras saja.
Sungguh sangat memilukan, Ari pun menyadari hal itu dia juga sangat sedih dan merasa bersalah pada Lisa dan anaknya apalagi Zoya selalu menerornya menelfon nya untuk selalu mengajak bertemu jika tidak dia akan mengancam Lisa dan dirinya ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelecehan.
Ari juga tidak henti-henti meminta doa pada temannya yang seorang ustad untuk menghilangkan aura dirinya didalam pikiran Zoya agar supaya Zoya melepaskan dirinya dengan keinginannya sendiri.
Seperti sekarang ini Zoya mengajak bertemu dan ini kesempatan untuk Ari untuk memberikan air doa supaya di minum oleh Zoya dan air ini untuk yang ketiga kalinya setelah diberi air waktu dulu karena jarang bertemu.
"Kamu senang yah keluar dari tempat kerjaan ku." kata Zoya dengan kesal.
"Aku sekarang sedang fokus untuk masa depan anakku." jawab Ari datar.
"Hanya masa depan anakmu saja yang dipikirkan, lalu bagaimana denganku?". tanya Zoya dengan ekspresi marah.
"Zoya cukup! bukankah dari awal kita sudah sepakat kalau hubungan ini tidak sampai terlalu jauh begini, kamu juga menerimanya bukan." ucap Ari menaham geram.
"Jadi kamu menganggap hubungan kita ini hanya main-main, Ari ingat aku telah menyerahkan kesucian ku padamu dan kau seenaknya saja memungkirinya." kata Zoya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Zoya ingat kamu juga main-main, dan sekarang kamu mengatakan seperti kamu yang paling menderita, apa kamu sebenarnya ingin menjebak ku?". tanya Ari mengintimidasi.
Zoya menciut tapi tak dia lihat kan, "Kenapa kamu berbicara seperti itu?".
Ari menahan emosi dia teringat minuman itu.
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan membelikan minuman." katanya, lalu beranjak.
Ari membeli minuman kemasan air mineral dalam botol dia membukanya dan membuang separuh kemudian mengisi air doa kedalam minuman itu.
"Ini minumlah supaya kamu tidak dehidrasi." Ari memberikan botol minuman itu.
Zoya menerimanya tanpa curiga sedikitpun dan meminumnya setelah itu dia merasa agak tenang.
"Zoya aku minta maaf jika aku salah, tapi tolong mengertilah dengan keadaanku aku punya ibu yang sering sakit-sakitan jika ibuku mengetahui masalahku maka aku takut dia ngedrop dan..." menunduk tak mampu melanjutkan.
kata-kata Ari mampu membuat Zoya terdiam memikirkan ada benarnya juga namun otaknya sedikit tidak menerima masalah Ari tidak bekerja dia tidak masalah karena ada dirinya yang bekerja.
"Ari, aku tidak masalah jika kamu pengangguran kan ada aku yang penting kita bahagia." Zoya masih bersikukuh.
Ari menggeleng, "Tidak Zoya, harga diri seorang lelaki adalah bekerja mungkin tidak masalah untukmu tapi bagaimana dengan orang tuamu apakah mereka akan menerima menantu yang pengangguran, apakah mereka akan membiarkan anaknya bekerja terus apalagi untuk membiayai suami yang tidak berguna, sudah pasti mereka akan marah. Benar bukan." kata Ari menjelaskan dengan begitu sabar.
Zoya kembali terdiam menelaah kata-kata Ari yang ada benarnya juga.
"Tapi aku tidak menyukai istrimu, kenapa kau tidak bercerai saja dengannya dan menikah denganku." pertanyaan Zoya membuat Ari mengepalkan tangannya namun Ari berusaha sabar demi untuk menurunkan emosi Zoya.
"Zoya, kamu belum tau tentang istriku dia dan aku sudah mengenalnya selama 10 tahun sampai sekarang ini dan dia tidak pernah menuntut ku,dia dari nol mengikuti ku sampai sekarang." kata Ari mengingat Lisa.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak kaya-kaya masih miskin saja berarti istrimu tidak bawa hoki." kata Zoya memanas-manasi.
"Ini semua salahku Zoya karena aku tidak berguna menjadi suami dia sangat baik dan perhatian padaku juga setia." Ari menunduk saat mengingat kebaikan Lisa.
"Jadi kau juga akan setia dan tetap memilihnya."
"Ya tentu saja." ucap Ari mantap.
"Lalu aku bagaimana?" sekarang Zoya mulai geram kembali.
"Tenanglah Zoya, minum dulu." Ari mencoba menenangkan.
Zoya meminum air itu kembali dan menjadi tenang kembali.
"Zoya kamu jangan sedih aku yakin kamu pasti akan menemukan jodohmu, seperti yang aku tadi mengertilah dengan keadaanku." ucap Ari memohon.
Dan akhirnya Zoya mengangguk.
"Terimakasih."
"Tapi aku meminta syarat untuk itu."
"Apa?"
"Aku ingin tetap berkomunikasi denganmu, setiap ku telfon kamu harus selalu mengangkatnya kalau tidak aku akan berulah lagi." ancam Zoya tidak main-main.
"Baiklah jika itu mau mu akan ku turuti." dengan terpaksa Ari menurutinya dan Zoya tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kita pulang ini sudah sore." kata Ari karena sekarang dia merasa tidak nyaman berduaan saja dengan Zoya.