Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 19


__ADS_3

Kini akhirnya Lisa dan Ari bersama anaknya tinggal di rumah orang tua Ari, di sana terdapat dua saudara perempuan yang sudah menikah dan tinggal satu atap bersama anak-anak mereka.


Sebenarnya dalam hati Lisa tidak mau tinggal di situ karena pasti akan ada saja ke salah pahaman di antara mereka apalagi ibu termasuk orang yang tidak tegaan dan tidak memihak pada siapapun.


Tapi mau bagaimana lagi, beginilah yang terjadi karena kekurangan ekonomi juga Lisa yang sedang hamil membutuhkan bantuan nantinya apalagi Laras juga masih kecil, jadi Lisa hanya bisa bersabar dan memasrahkan semuanya pada sang illahi.


Mereka berkemas untuk segera pindah dalam waktu yang tidak dapat di tentukan yang hanya Lisa harap semuanya baik-baik saja.


Mereka di bantu membawa barang-barang dari kontrakan menuju rumah orang tua Ari yang memang tidak jauh jaraknya.


Sedang Lisa membersihkan kamar yang akan mereka tempati dan yang lain membantu mengangkat barang-barang tidak banyak tapi tetap butuh tenaga karena Lisa memang tidak punya perabotan yang mahal.


"Mudah-mudahan mbak Lisa betah yah tinggal di sini. Tapi disini kita buat peraturan sendiri seperti air minum, gas dan bayar listrik itu kita harus patungan mudah-mudahan mbak tidak keberatan yah untuk itu." jelas sang adik ipar bernama Marni yang mempunyai satu anak beda satu tahun dengan Laras.


"Iya mudah-mudahan, cuma yang mbak takutkan gimana dengan mbak Ijah kalau Mbak tinggal disini." kata Lisa, terbersit dengan kakak iparnya yang mungkin tidak sefrekuensi.


"Ya, aku mengerti tapi tidak apa-apa jangan di pikirkan karena mbak Ijah memang begitu orangnya aku pun sudah sepuluh tahun di sini dan banyak sekali silih pahamnya tapi aku anggap angin lalu saja." jawab Marni menenangkan Lisa.


"Kalian kan saudara kandung wajar saja jika berantem bisa balikan lagi tanpa di minta tapi aku.. aku kan orang lain tidak akan bisa sama." jawab Lisa menjawab kemungkinan yang ada.


"Ya sudah tidak usah di pikiran kan mbak, bagiku tetap saja mbak adalah kakak ku yang harus aku hormati." ucap Marni lagi.


Karena memang yang di khawatir kan Lisa di sana adalah mbak Ijah yang sifatnya agak cuek dan tidak peduli tapi sangat mengkhawatirkan.


Karena Ari hanya mempunyai ibu saja dan mbak Ijah termasuk yang paling berkuasa atau paling memimpin keadaan rumah itu, jadi Lisa merasa sungkan dan pasti merasa terbebani.


Setelah pembicaraan tentang hilir mudik masalah rumah tangga di dalam rumah ibu Ari itu Lisa memilih untuk membersihkan tempat tidur karena lelah, Laras juga sudah tertidur.

__ADS_1


*****


Hari berganti hari, Minggu pun turut berganti dan Tak terasa Lisa tinggal di sana sudah 5 bulan kandungan nya pun sudah besar sudah waktunya melahirkan.


Kehidupan rumah tangga nya dalam beberapa bulan ini memang biasa saja tak ada masalah apapun hanya saja dia sering bermimpi bertemu dengan Zoya hingga tiga kali.


Memang beberapa bulan terakhir ini suaminya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Zoya, Zoya pun tidak pernah lagi menelfon Ari kabarnya Zoya telah di jodohkan oleh orang tuanya.


Ada kelegaan di hati keduanya karena biang masalah sudah tidak mencampuri namun mengapa dia seakan menghantui melalui mimpi membuat Lisa tidak tenang dan selalu berprasangka buruk pada suaminya jika suaminya pergi maka terlintas di otaknya jika mereka bertemu secara diam-diam dan itu mampu membuat hati Lisa sangat sakit.


Suatu ketika Lisa menceritakan perihal mimpinya pada suaminya karena tidak tahan Jika menanggung sendiri.


Mereka berdua sedang duduk santai di malam hari saat Laras sudah tertidur.


"Mas,..!" panggil Lisa pelan.


"Ya." jawab suaminya singkat tanpa menoleh.


"Mimpi seperti apa?." tanya Ari.


"Aku bermimpi kalau dia mau merebut kamu dariku lagi setelah mimpi yang kemarin yang dia minta maaf sama aku." ya mimpinya di ceritakan bahwa Zoya akan merebut Ari dari Lisa lalu mimpi selanjutnya dia meminta maaf serta menyadari kesalahannya lalu dia datang lagi dengan berkata ingin merebut Ari lagi begitulah mimpinya.


"Dan kamu tau aku selalu tidak tenang dan khawatir jika kamu keluar. Yang ada dipikiran ku kamu bertemu dengannya secara diam-diam." lanjut Lisa dengan wajah pias.


"Sialan, kenapa dia masih mengganggu?." Ari sangat emosi kenapa Zoya malah menyerang lewat batin Lisa.


"Kenapa tidak aku bunuh saja dia sekalian?." ucap Ari asal begitu membenci Zoya saat benar-benar tau sifat aslinya.

__ADS_1


"Jangan mas, itu bahaya untuk kamu sendiri. Mungkin sebaiknya kita berziarah saja ke makam ulama dan berdoa pada Allah supaya di beri ketenangan." seru Lisa menyarankan.


Ada benarnya juga usul Lisa semoga dengan melakukan ini Zoya tidak pernah lagi muncul dalam mimpinya dan hatinya menjadi lebih tenang.


Ari menghela nafas pelan, "Kamu benar sebaiknya kita berziarah dan berpasrah diri pada sang pencipta."


Mereka berdua tersenyum setelah mengatakan itu.


"Lalu bagaimana dengan kandungan mu?." tanya Ari mengalihkan pembicaraan.


"Seperti yang kamu lihat dan aku sudah diprediksi akan melahirkan secara secar lagi." tukas Lisa terdengar sedih.


"Tidak apa-apa yang penting kamu dan anak kita selamat." jawab Ari tersenyum mencoba menguatkan Lisa.


"Jadi kapan kita ziarah nya lebih cepat kan lebih baik?." tanya Lisa lagi memastikan.


"Emm... lusa deh karena kalau sekarang aku tidak punya uang besok baru aku dapat uang, bagaimana?.'


"Ya sudah tidak apa-apa."


Ari pun tersenyum menatap Lisa, "Ya sudah lebih baik kamu tidur sana istirahat." Ari menyuruh Lisa untuk beristirahat.


"Ya sudah aku masuk dulu yah!" kata Lisa sambil beranjak.


Ari hanya mengangguk, ada dua hal yang menguntungkan dan juga merugikan saat mereka tinggal bersama saudara-saudara juga orang tuanya.


Yaitu Ari bersyukur sejak dia membawa anak serta istrinya ke rumah orangtuanya Lisa sudah mau berbicara banyak dengannya dan mau berdekatan dengannya tidak seperti sebelumnya yang selalu mengabaikannya.

__ADS_1


Dan hal yang merugikan nya adalah apakah Lisa akan betah tinggal di sini melihat sikap dan sifat saudaranya yang pasti akan membuat Lisa bersedih di kemudian hari.


Dia pun berdoa semoga saja hal itu tidak terjadi pada mereka.


__ADS_2