Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 23


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian hari-hari Lisa jadi terasa sunyi jika bukan karena kedua anaknya yang menyemangati maka Lisa sudah pasti akan melakukan sesuatu.


Karena Ari sikapnya semakin lama semakin tidak bersahabat, pasalnya ketika Lisa menceritakan tentang saudaranya Ari kini tidak berpihak lagi padanya dia malah jadi seperti malas dan kesal meladeni Lisa.


Karena pernah suatu ketika kakaknya terlihat pilih kasih padanya dia seperti membedakan antara anaknya dengan anak adik perempuan nya, dia juga terlihat tidak suka dengan apa yang selalu Lisa lakukan.


Lisa akhir-akhir ini memang seperti robot yang harus selalu membersihkan rumah dan tidak boleh terlihat santai padahal kakaknya memegang anaknya pun harus di mintai tolong jika diam saja maka dia tidak akan mau menggendongnya.


Kadang Lisa kesal kakaknya itu menyuruh nya supaya rumah bersih tetapi tidak mau memegang Saga hanya untuk sekedar mengajak bermain tapi dirinya harus juga melakukan pekerjaan rumah padahal yang tinggal bukan hanya dia saja.


Apalagi Ari juga selalu ada di rumah tidak mencari pekerjaan dan selalu pergi di saat di butuhkan.


"Mas, aku mau bicara!". ucap Lisa serius.


"Bicara saja". balas Ari terlihat malas.


"Sampai kapan kita akan seperti ini?, mas yang selalu di rumah mas yang suka pergi di saat aku butuh minimal menjaga anak dan juga berhenti bersikap acuh". tutur Lisa mengutarakan kata hati yang selalu ia pendam selama ini mencoba berbicara baik-baik.

__ADS_1


"Lis, bisa tidak kamu tidak selalu membahas ini. Kamu sudah terlalu sering membahas ini sampai aku malas mendengar nya. Kamu pikir aku akan diam saja? kamu pikir aku tidak ingin melakukan sesuatu?." menghela nafas pelan.


"Aku juga sedang berusaha tetapi mau bagaimana, tuhan belum memberi aku harus apa?". lanjutnya dengan nada sedikit kesal.


"Mas, berusaha apa yang aku lihat mas diam saja dan bahkan mas selalu pergi ke belakang rumah hanya untuk menyendiri apa gunanya itu mas hanya mengobrol saja dengan tetangga-tetangga disini. Apa itu yang dinamakan berusaha". balas Lisa sangat kesal karena Ari tidak menyadari kesalahannya sendiri.


"Lalu sekarang kamu mau apa? hah.. aku pasrah!".


"Pasrah kamu bilang, dulu saja kamu sampai memohon- mohon sama aku supaya aku memaafkan mu dan kamu akan berubah tapi mana buktinya kenapa sekarang kamu seperti malas dan melupakan janjimu itu mas". kata Lisa mencoba bersabar.


"Lisa kamu mengerti tidak sih situasi nya seperti apa sekarang ini, apa kamu tidak bisa bersabar sedikit lagi". Ari mengusap wajah kasar dengan penuturan Lisa.


"Lisa cukup, aku kira kamu adalah wanita yang benar-benar sabar dan berhati mulia tetapi kamu saja seperti wanita pada umumnya tidak bisa menerima keadaan suami yang sedang sulit seperti ini dan kamu malah bawa-bawa saudara-saudaraku untuk masalah rumah tangga kita. Kamu benar-benar!". Ari sampai geleng-geleng kepala merasa kecewa dengan sikap Lisa.


"Mas, aku memang bukan wanita yang sempurna aku hanya wanita biasa yang menginginkan kebahagiaan dan masa depan yang cerah untuk anak-anak kita memang nya aku salah jika menuntutmu supaya kamu mau berusaha lebih giat lagi untuk keluarga mu sendiri dan untuk saudara-saudara mu kenyataan nya memang benar dan kamu melihatnya sendiri kan bagaimana pandangan mereka terhadap aku". kata Lisa air mata mulai menetes di pipinya sedih sekali atas perdebatan kecil ini.


"Saudara ku begitu itu pasti karena dirimu sendiri yang tidak bisa beradaptasi dan mengerti dengan keadaan keluarga ini, keluarga ku memang begini lalu harus bagaimana lagi".

__ADS_1


"Aku memang tidak tau dan seharusnya kamu sebagai penengah bawalah keluarga mu keluar dari sini kita pindah memulai hidup baru untuk masa depan kita".


Ari berdecak kesal, "Lisa Lisa bicara saja memang enak, kamu memang tidak punya otak atau memang otak mu di dengkul".


Apa tidak punya otak? sakit sekali hati Lisa mendengar kata-kata kasar yang keluar begitu saja dari mulut Ari, bahkan ini baru pertama dia mendengar nya.


"Apa mas? kamu menghinaku. Baiklah sudah cukup aku meminta dan memohon maka jangan salahkan aku jika melakukan sesuatu kepadamu". kata Lisa menghapus air matanya dan langsung pergi.


Ada perasaan menyesal di relung hati Ari saat mengatakan hal itu ketika Lisa pergi dia seperti kehilangan sesuatu entah apa itu. Apa kata-katanya membuat nya sakit tapi Ari menghilangkan perasaan itu cepat-cepat karena menurut dia apa yang dia katakan juga ada benarnya menurut nya memang Lisa terlalu menuntut nya dan tidak mengerti keadaan nya.


Ari pun membiarkan Lisa pergi dan dia ikut pergi ke luar rumah untuk bertemu dengan teman-temannya.


Di dalam kamar Lisa menangis sejadinya tetapi tidak sampai menimbulkan suara untungnya anak-anak nya sudah tidur dan orang rumah pun berada di kamar nya masing-masing.


Dia segera menghapus air mata dan berucap sendiri.


"Aku tidak bisa begini, aku sudah bicara baik-baik tapi tanggapan nya malah begitu. Baiklah aku wanita kuat aku harus melakukan sesuatu agar dia menyadari bahwa keluarga nya adalah yang utama".

__ADS_1


Detik itu juga Lisa bertekad pada dirinya sendiri akan mencari pekerjaan demi untuk nya dan anak-anaknya.


__ADS_2