
Lisa sudah pergi ke apotik untuk membeli testpack, jika negatif dia akan mempertimbangkan rumah tangga ini tapi jika hasilnya positif berarti dia harus bertahan ditengah masalah ini.
Dan kini dia akan membuktikannya sendiri, diapun melakukan sesuai prosedur pemakaian yang tertera.
Setelah menunggu beberapa menit, waktunya untuk melihat hasilnya. Lisa memejamkan matanya saat mengangkat alat testpack itu dengan perlahan dan matanya membuka sempurna saat melihat hasilnya yang ternyata... dirinya positif hamil.
"Ya Allah aku hamil." sambil bersandar didaun pintu.
"Aku tidak tau apa aku harus bahagia atau sedih. Ya Allah apa yang sedang Kau rencanakan, kenapa Engkau memberikan anugerah disaat hati sedang tersakiti." ucapnya sambil menangis pilu.
Mungkin ada sesuatu dibalik pemberian ini karena sejatinya jika Allah telah menurunkan rezeky berupa anak berarti masa depanmu yang terbaik sedang menunggumu namun kau harus bersusah payah dulu untuk mendapatkannya.
Lisa menghapus air mata merasa berdosa atas apa yang ia lakukan tidak mensyukuri pemberian dari dzat yang Maha Kuasa.
"Ya Allah maafkan hambamu, tidak seharusnya aku mengeluh seperti ini. Aku akan menerima pemberian Mu ini dan menjaganya dengan baik."
Lisa sudah bertekad walau apapun yang terjadi dia akan menjaga dan melindungi janin ini dia juga yakin Ari juga pasti akan menerimanya.
*****
"Lisa, mau jualan lagi." sapa Ilham didepan rumahnya yang sedang berolahraga seperti biasa.
"Eh iya bang Ilham." jawab Lisa dengan senyum kecil.
Melihat Lisa membawa serta anaknya berjualan membuat hatinya tidak karuan ingin rasanya dia merengkuh dua perempuan itu dan menjaganya namun apalah daya mereka milik orang lain.
Melihat tatapan Ilham yang tak berhenti menatapnya dengan pandangan yang tak biasa membuat Lisa gugup dan ingin segera pergi saja.
"Bang, aku duluan yah!" kata Lisa karena tidak ingin terjadi fitnah.
"Eh tunggu!" tanpa sadar Ilham menangkap tangan Lisa yang terbalut kain.
Sontak hal itu membuat Lisa terkejut dan langsung menepisnya.
"Eh.. maaf Lisa aku tidak sengaja!" ucap Ilham gugup.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! memangnya ada apa tadi?" tanya Lisa melihat ke kiri ke kanan memastikan tidak ada orang yang melihat karena dia tidak ingin ada salah paham disini.
"Boleh, aku beli semua." kata Ilham.
Lisa sedikit terkejut untuk apa Ilham memborong dagangannya padahal kemarin dia juga sudah memborongnya tidak mungkin kan bisa langsung habis dalam semalam.
Lisa berfikir jika diborong bagaimana dengan yang lain dan dia juga merasa ada sesuatu dari diri Ilham.
"Maaf bang, kemarin kan Abang sudah beli. Kenapa sekarang Abang beli lagi memangnya yang kemarin langsung habis." ucap Lisa sesuai pikirannya, tidak enak juga jika Ilham membeli dengan cuma-cuma.
Ilham gugup, "Eh... yang kemarin aku berikan pada teman-teman ku, iya teman-teman ku katanya mereka suka." lanjutnya setelah mendapat jawaban masuk akal.
Lisa terdiam dengan jawabannya.
"Bagaiamana aku beli yah! atau begini saja aku bantu jual kerupuknya aku beli darimu lalu aku jual kembali ke yang lain." Ilham tak kehabisan ide demi untuk supaya Lisa tidak berkeliling panas-panas an sambil membawa anak kecil.
"Tapi..." Lisa ragu
"Sudah tidak perlu tapi-tapian anggap saja kita bekerja sama." bujuk Ilham tak menyerah.
Lisa nampak berfikir rasanya aneh jika Ilham mengajak nya bekerja sama lagian dia juga bekerja, lalu bagaimana dengan pekerjaannya.
"Pekerjaanku santai kok Lis lagi pula bisa sambil jualan juga." jawab Ilham dengan tersenyum.
"Memangnya bang Ilham kerja apa?" tanya Lisa hanya ingin tau.
"Aku supir bus antar kota jadi aku bisa menyuruh temanku untuk menjualnya di sana. Gimana enak kan?" kata Ilham dengan rayuannya.
Lisa berfikir masuk akal juga kalau begitu dirinya hanya perlu membuat lalu setelah jadi menyuruh orang untuk menjual jadi dia ada waktu untuk beristirahat dan juga supaya Laras tidak ikut panas-panas an.
"Baiklah bang, aku setuju." Ilham menghela nafas senang karena idenya disetujui.
"Jadi apa aku harus setiap hari memberikannya." tanya Lisa.
"Terserah kamu saja, aku tidak memaksa." jawab Ilham.
__ADS_1
Lisa tersenyum, "Baiklah, ini bang kerupuknya semuanya 20 bungkus." kemudian Lisa menyerahkan kerupuk itu pada Ilham.
"Oke, aku bayar sekarang." Ilham menerimanya dan memberikan uang seratus ribu.
"Ini uangnya." Ilham menyodorkan uang kertas itu dengan senyum tulus.
"Terimakasih bang." Lisa menerimanya dengan tersenyum.
"Sama-sama."
"Ya sudah kalau gitu aku masuk ya bang!" Lisa pamit karena dirasa urusannya telah selesai.
"Iya, istirahatlah. Kasian Laras sepertinya ngantuk." ucap Ilham karena melihat Laras yang menguap.
Lisa meliriknya dan berucap, "Sayang, Laras ngantuk."
"Iya mamah, tapi mau jajan dulu." jawab anak kecil itu polos.
Lisa dan Ilham tersenyum mendengarnya.
"Laras mau jajan sini sama om." Ilham jongkok demi mensejajarkan dengan Laras.
Laras tidak menjawab hanya diam menatapnya kemudian menatap ibunya.
"Laras mau jajan sama mamah." seperti mengerti tatapan putrinya Lisa menawarkan dirinya. Dan Laras mengangguk.
"Ya sudah yuk jajan dulu, abis itu kita bobo yah!" ucap Lisa dengan penuh kasih.
"Iya mah!" jawab Laras.
"Ya udah bang aku mau antar Laras dulu sekali lagi makasih ya bang atas kerja samanya." ucap Lisa sebelum dia memutuskan pergi.
"Sama-sama Lisa." jawab Ilham tersenyum tulus.
Ilham melihat kepergian Lisa dan menatap punggungnya dia tersenyum akhirnya berhasil menggagalkan rencana Lisa untuk berjualan dia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya begitu peduli dengan istri orang apalagi mengetahui jika suaminya mengkhianatinya rasanya dia ingin ikut campur dalam masalah mereka dan menyeret suaminya itu.
__ADS_1
Tapi dia tau itu bukan haknya dia hanya bisa mengawasi dan memantau keadaannya saja jika sewaktu-waktu Lisa membutuhkan maka dia siap yang akan maju pertama.
Sudah cukup dengan pikirannya Ilham masuk sambil membawa kerupuk itu, idenya itu datang dengan sendirinya tapi tidak apa ada temannya juga yang menganggur jadi biar dia saja yang menjualnya, dia jadi tersenyum lucu ada hikmah nya juga idenya itu.