Ikhlasku Dengan Takdirku

Ikhlasku Dengan Takdirku
Chapter 22


__ADS_3

Lisa dan Ari kini kembali ke rumah orang tua Ari setelah sebulan lamanya di rumah orang tua Lisa, sebenarnya Lisa merasa tidak betah meski di rumah orangtuanya sendiri di karenakan ibu nya yang merasa tidak nyaman juga adiknya yang belum menikah.


Ibu Lisa juga seperti mengusir secara halus tidak mau menerima kehadiran Lisa juga Ari, Ya Lisa mengerti dan memaklumi hanya saja dia merasa seperti di sisihkan padahal dia pun sama anaknya namun mungkin karena kehidupan Lisa yang sangat menyedihkan sekali membuat ibu Lisa merasa sedikit kecewa.


Dan masih teringat kata-kata ibunya yang sangat menusuk di hati bahwa ibunya tidak akan membantu Lisa jika persalinan Lisa tidak normal mungkin karena ibunya merasa lelah saat kelahiran Laras yang memang menguras tenaga maklum karena itu kehamilan pertama.


Tapi meski begitu, Lisa tetap merepotkan ibu nya dengan menginap kelahiran anak kedua nya ini tetapi beda cerita karena kali ini Lisa bisa melakukan nya sendiri dan ibu nya membantu sekedar nya saja.


Tidak terbayang jika Lisa harus menginap di rumah mertua nya yang sudah sepuh maka siapa yang akan membantu nya dia juga tidak mau melibatkan saudara iparnya karena saudara ipar dan kandung itu berbeda.


Tetapi saat Lisa berada disana semua keluarga dari Ari menengoknya untuk sekedar melihat bayi Lisa yang baru lahir, Lisa senang karena ternyata mereka peduli dan mau singgah sebentar.


*****


Hari-hari Lisa lalui dengan penuh semangat karena ada dua malaikat kecil yang hadir dalam kehidupan nya, Ari juga mendapatkan pekerjaan meski tidak setiap hari namun tetap Lisa syukuri.


Dan ada satu kabar yang membuatnya tak bisa berucap, kabar itu dia dapat dari suaminya yang suaminya juga dapat kabar dari temannya, kabarnya adalah Zoya telah meninggal karena sebuah kecelakaan dalam bekerja hingga membuatnya masuk rumah sakit beberapa hari lalu kondisi nya semakin parah hingga tak bisa di selamatkan.


"Lisa, aku ingin memberi tahu." ucap Ari pelan.


"Apa mas?". tanya Lisa singkat.


"Perempuan itu sudah meninggal". tutur Ari menatap wajah Lisa dengan serius ingin tau ekpresi nya.


Lisa terdiam antara kaget juga bingung ingin senang atau sedih.


"Kamu jangan mengada-ada mas!". Lisa awalnya menyangkal.

__ADS_1


"Mas tidak mengada-ada, mas serius."


"Tau dari mana kamu".


"Dari teman mas, dan teman mas dapat kabar dari sosial media nya. Lihat ini!". Ari memperlihatkan ponselnya pada Lisa yang mana di sana terdapat sebuah postingan bela sungkawa tertera juga di situ terdapat foto Zoya dan men tag nama medianya.


Lisa mengambil nya lalu mengeceknya, dia membaca satu persatu hingga media milik Zoya pun iya buka untuk memastikan bahwa ini bukan permainan nya.


Setelah di telusuri ternyata benar bahwa Zoya sudah meninggal.


"Jadi benar dia sudah meninggal". ulang Lisa menatap nanar di depannya.


"Iya, aku bersyukur mungkin inilah jalan yang diberikan oleh Allah untuk kita". kata Ari.


"Kalau memang ini adalah jalannya supaya rumah tangga kita tidak di usik lagi olehnya, maka aku juga bersyukur. Semoga dia tenang di alam sana aku sudah memaafkannya". ucap Lisa tulus karena tidak boleh jika kita mempunyai dendam pada orang yang sudah meninggal dunia.


"Kata temanku dua minggu yang lalu". jawab Ari.


"Ya sudah tidak perlu di pikirkan lebih baik sekarang kita melanjutkan hidup kita". kata Ari mengelus kepala Lisa dengan lembut.


Lisa tersenyum, "Kamu lega mas!".


"Iya tentu saja aku merasa lega, beban dan penghalang ku sudah pergi dan aku hanya akan fokus pada kebahagiaan dan masa depan keluarga ku." ucapnya dengan memandangi bayi mungil yang sedang tertidur itu.


"Semoga ucapan mu benar ya mas".


"Tentu saja benar, kau meragukan ku". kata Ari merasa sedikit tersinggung.

__ADS_1


"Baguslah jika itu benar. Tapi... jika kau tidak berubah juga atau kau berulah lagi maka... jangan menyesal jika aku dan anak-anak akan pergi dari kehidupan mu". tutur Lisa serius, entah sengaja atau tidak namun itulah yang keluar dari mulut Lisa.


"Ya, aku mengerti maksudmu, maafkan aku untuk semuanya dan aku akan berusaha untuk bisa menjadi lebih baik lagi". jawab Ari menatap lurus ke depan.


Setelah mendengar kabar bahwa Zoya sudah meninggal, hidup keduanya mulai tenang meski masalah keuangan turun drastis karena Ari benar-benar hanya bekerja serabutan terkadang mereka mempunyai hutang dimana-mana sekedar untuk jajan anaknya.


Meski begitu Lisa merasa bersyukur karena tetangga disini cukup baik mau memaklumi satu sama lain jadi tidak ada rasa gengsi ataupun minder.


Hanya saja hari-hari Lisa di penuhi suka dan duka ada saja salah paham antara keluarga terutama dengan saudara karena masih belum mengerti watak masing-masing.


Di saat ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati Lisa, maka dia akan mengadu pada suaminya Ari dan ingin secepatnya segera pindah namun alasannya tetap sama karena anak keduanya masih kecil.


Tetapi di kemudian hari jika suasana nya tenang tak ada keributan maka hati Lisa juga menjadi tenang dan tidak jadi untuk pergi dari situ mengingat pekerjaan suaminya yang hanya serabutan bagaimana untuk membayar sewa tiap bulan nya?. Tetapi tetap hati kecil Lisa masih menginginkan hal itu.


Semenjak Laras tinggal di sini dia juga jadi mempunyai banyak teman dan jarang menangis seperti sebelum-sebelumnya, Lisa juga jadi tidak terlalu khawatir akan keadaan anaknya itu yang sebelumnya selalu dia awasi kemanapun dia pergi.


*****


Tak terasa anak kedua mereka sudah menginjak usia satu tahun. Saga anak mereka tumbuh dengan sehat dan ceria perkembangan nya begitu cepat kini dia sedang belajar berjalan.


Parasnya sangat tampan dengan kulit putih bersih sama seperti Laras wajahnya pun hampir mirip dengan Laras tak ada yang dibuang hanya berbeda 3 tahun saja.


Selama itu pula mereka masih tinggal di situ entah kapan akan keluar namun sepertinya lisa telah membiasakan diri tinggal di sana dan hati Lisa masih merasa tenang untuk hal ini.


Dia juga ingin mencoba memahami perasaan dan juga kemauan suaminya yang rupanya lebih betah tinggal di kampung tempat kelahirannya karena disini banyak teman-teman nya juga para tetangga yang sudah mengenalnya dari kecil jadi setiap malam dia selalu begadang hanya sekedar mengobrol dan berkumpul.


Namun jika keseringan dan terus saja seperti itu membuat Lisa sangat kesal juga pasalnya jika pagi di butuhkan dia malah tidur karena malamnya kurang tidur, Ari juga tidak pernah bangun pagi apalagi untuk sholat subuh dia selalu bangun siang dan untuk bekerja pun menunggu ada yang memberikan.

__ADS_1


Lisa sangat kesal jika mengingat itu tapi kembali lagi dia hanya seorang istri yang tidak memiliki apa-apa selain keluarga kecilnya.


__ADS_2