Impian Tiara

Impian Tiara
Episode 19


__ADS_3

*Seorang yang sudah memiliki niat dan tekat yang kuat tidak akan mundur dan menyerah dengan berbagai halangan dan rintangan sebelum mencapai tujuan, tetapi seorang yang tidak memiliki niat maupun pendirian sedikit demi sedikit akan goyah dan runtuh sebelum menuai hasil*


Pagi yang cerah membangkitkan semangat yang cerah bagi setiap umat manusia di muka bumi ini. Seperti halnya yang terjadi di keluarga Wijaya yang begitu bahagia dan harmonis menjalani kehidupan mereka. Seperti saat ini, seluruh keluarga wijaya tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sebelum memulai aktivitas mereka. Mereka sarapan dengan suasana hening tanpa adanya obrolan. Setelah selesai sarapan Rama berpamitan kepada orang tuanya.


“Aku berangkat dulu.” Ucap Rama sambil bangkit dari duduknya.


“Semangat Kerjanya.” Ucap Nyonya Rita yang tersenyum hangat.


“Iya Mah.” Ucap Rama dengan senyum tipisnya.


Lalu Rama berjalan dengan penuh wibawa meninggalkan kediamannya dan kembali menjalankan rutinitas sebagai CEO di perusahaannya.


Sementara kedua orang tuanya melanjutkan kembali acara sarapannya.


“Pah itu Monic kalau tidur kayak kebo saja, masa dari tadi mama bangunin dia untuk sarapan bareng kita malah tidak mau bangun.” Ucap Nyonya Rita yang mengomel.


“Biarkan saja mah.” Timpal Tuan Muis.


“Tapi kan dia itu…….”ucap Nyonya Rita yang tidak melanjutkan ucapannya, karena Monic telah menghampiri mereka.


“Pagi tante.” Sapa Monic dengan senyum kikuk.


“Ayo Monic, sarapan bareng tante.” Ucap Nyonya Rita ramah.


Sial!, harusnya aku bangun cepat, kalau seperti ini kan aku malu sarapan bareng mereka. Aku bahkan lupa kalau aku menginap di rumah mereka. Batin Monic.


“Eeh iya Tante, maaf ya tan aku tuh bangunnya kesiangan.” Ucap Monic yang sudah duduk di samping Nyonya Rita.


“Tidak apa-apa Monic, lebih baik kamu sarapan dulu.” Ucap Nyonya Rita.


“Om tinggal dulu ya.” Ucap Tuan Muis yang sudah bangkit dari duduknya.


*********


Sesampainya di perusahaan, Rama berjalan penuh wibawa diikuti Alex sang sekertaris memasuki lift khusus untuk CEO.


Sementara beberapa karyawan wanita sambil menatap takjub kepada mereka.


Pintu lift terbuka lalu Rama melangkahkan kakinya menuju ruang kerja dan langsung menduduki kursi kebesarannya.


Di meja kerjanya sudah ada berkas dokumen yang sudah menumpuk.


Rama kemudian mengerjakan pekerjaannya dan memeriksa semua berkas tersebut.


**********


“Tiara sudah siap bu.” Ucap Tiara yang sudah menaiki motor meticnya.


“Iya, ibu ambil keranjang dulu.” Timpal ibu Rumina.


Tak berapa lama kemudian ibu Rumina datang menghampiri putrinya dengan membawa keranjang tua di tangan kirinya dan tangan satunya membawa dompet kesayangannya.


“ Buruan nak, nanti pasarnya tutup.” Ucap ibu Rumina yang sudah duduk di jok motor belakang.


Tiara pun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dengan membonceng sang ibu tercinta.


Mereka berdua akan ke pasar tradisional di desa tersebut.


Sekitar 30 menit saja mereka sudah sampai di pasar tradisional di desa tersebut. Dan sudah terlihat Para penjual beradu mulut dengan pembeli yang terus saja melakukan tawar menawar yang tidak ada hentinya.


Mereka berdua memasuki pasar tradisional tersebut. Ibu Rumina tampak bersemangat membeli kebutuhan pokok mulai dari beras, daging ayam, ikan, sayuran dan tak lupa berbagai macam bumbu dapur dan rempah-rempah. Sementara Tiara begitu kewalahan membawa belanjaan sang ibu.


“Bu berasnya Tiara bawa dulu ke motor.” Ucap Tiara yang mengendong beras 1 karun kecil.

__ADS_1


“Ya sudah, jangan lupa kamu ke sini lagi sampering ibu.”


“Ok bu.”


Tiara pun berjalan ke parkiran motor dan mengendong sekarung beras layaknya seorang anak bayi.


Sementara salah satu tukang becak yang lagi mangkal di pinggiran pasar menegur Tiara.


“Neng bawa berasnya itu di kepala bukan di gendong seperti itu.” Ucap si tukang becak.


“Begini mang saya cumannya bisa bawa seperti ini kalau di taruh di kepala bisa-bisa leher saya pegal.” Ucap Tiara.


“Ooh begitu ya neng.” Ucap si tukang becak yang manggut-manggut.


“Hehehe iya mang, ya sudah saya permisi dulu.” Pamit Tiara.


“Iya neng.” Ucap si tukang becak.


Setiba Tiara di parkiran dia menaruh berasnya di motornya. Seteleh itu, Tiara kembali menghampiri ibunya.


“Bu masih lama belanjanya?” Tanya Tiara.


“ Emm tinggal pete sama ikan asin.” Jawab ibu Rumina.


“ Wah Pete, Tiara suka bu.”


“Lebih baik kau pulang saja dan bawa semua belanjaan ibu.”


“Terus Ibu pulangnya naik apa?.” Ucap Tiara yang sudah menenteng semua belanjaan ibunya yang lumayan berat.


“Itu gampang, ibu bisa naik becak atau ojek.”


“Kalau begitu Tiara pergi dulu Bu.”


Tiara kembali berjalan menuju parkiran motor di pasar tersebut. Dan tak sengaja barang belanjaan Tiara mengenai baju seseorang yang berpapasan dengannya.


“Aduh bau ikan.” Ucap wanita yang berpapasan dengan Tiara.


“Maaf ya mbak, saya tidak sengaja mengenai baju mbak.” Ucap Tiara panic.


“Hei cewek kalau jalan hati-hati dong. Nih lihat baju baru saya jadi kotor begini.” Ucap wanita itu emosi.


“Dan perlu kamu tahu ya baju ini saya cicil sampai sepuluh bulan.” Ucap wanita itu.


“Maaf sebelumnya mbak, emangnya harga baju mbak berapa ya sampai harus nyicil segitu layaknya motor saja.” Ucap Tiara cengegesan mendengar ucapan wanita itu.


“Harga baju saya itu,……..,,eeeh, sebenarnya hanya lima ratus ribu, cuman saya nyicilnya sedikit-sedikit hingga bisa lunas.” Ucap wanita itu berbisik kepada Tiara.


“ Ya sudah mbak saya akan ganti rugi.” Ucap Tiara yang menaruh belanjaannya dan mencari sesuatu di saku celanannya.


Sementara wanita itu hanya diam melihat tingkah Tiara.


“Ini mbak ada sedikit buat biaya laundry baju mbak.”Ucap Tiara memberikan uang nominal 20 ribu.


“Makasih ya cewek.” Ucap wanita itu yang menerima uang Tiara.


Sementara Tiara hanya tersenyum. Setelah itu Tiara kembali berjalan menuju motornya yang terparkir. Tiara sudah berada di parkiran motor dan kembali meletakkan barang belanjaannya di sedel motornya. Kemudian menyalakan mesin motornya dan berkendara menuju rumahnya.


Di persimpangan jalan ada seseorang memanggil nama Tiara.


"Tiara." Panggil seseorang di sebrang jalan.


Tiara yang mendengar namanya di sebut langsung menepi di pinggir jalan dan celegek-celiguk mencari seseorang.

__ADS_1


"Siapa yang panggil aku." Gumam Tiara.


"Tiara, hei aku di sini." Ucap Seorang lelaki.


Seketika itu Tiara langsung menoleh ke sebrang jalan tempat penjualan aneka gorengan. Dan melihat sosok lelaki yang seumuran dengan nya yang tak lain adalah teman kelasnya yang bernama Zulkifli.


"Zule!." Ucap Tiara yang bengong.


Sementara zule terus melambaikan tangannya menyuruh Tiara menghampiri nya.


"Tiara mampir dulu." Ucap Zule di sebrang jalan.


"Iya-iya."Ucap Tiara.


Tiara mematikan mesin motornya kemudian mengambil kuncinya lalu berjalan menghampiri temannya.


"Kau tidak kuliah di Jakarta? "Tanya Tiara.


"Tidak Tiara, aku memutuskan berjualan menggantikan bapakku untuk memenuhi kebutuhan keluarga ku.


"Bapak kau dimana, biasanya bapak kau berjualan di pasar." Ucap Tiara.


"Beberapa bulan terakhir ini aku menggantikan bapakku berjualan. Sebelum aku mengambil beasiswa kuliah di Jakarta Bapakku terkena stroke. Jadi aku menghentikan semua mimpiku. Dan tidak ada salahnya aku berbakti kepada orang tuaku, lagian siapa lagi yang akan mengurus ayah ku sedangkan kami hanya tinggal berdua, eeh maaf ya Tiara aku jadi curhat."Ucap Zule.


"Nggak apa-apa Zule mungkin masih ada jalan lain yang di berikan Allah buat kau."Ucap Tiara yang terharu mendengar ucapan Zule.


"Iya Amin." Ucap Zule.


"Terus bapak kamu dimana sekarang." Tanya Tiara dengan hati-hati.


"Bapak aku masih di klinik, karena masih perlu perawatan."ucap Zule.


"Ooh, semoga bapak kau cepat sembuh ya Zule." Ucap Tiara.


"Amin ya Allah." Ucap Zule.


"Wah ternyata jualan kau banyak juga, terus kau mangkal di mana saja?"Tanya Tiara.


"Aku biasanya mangkal di pasar, tapi kalau sudah jam 8 aku mangkal di sini." Ucap Zule.


"Minggu depan ada acara festival tahunan desa kita dan acaranya berlangsung selama sebulan. Bagaimana kalau kau juga ikut dengan aku berjualan biar aku yang mengambilkan kau lapak jualan." Saran Zule.


"Tapi aku harus jualan apa, lagian aku sudah bekerja di restoran Grand Mione." Ucap Tiara.


"Aduh nggak usah bingung, lagian ibu kau jago masak. Lebih baik kau jualan kue atau nasi uduk. Dan acara festival itu makin malam makin ramai dan lumayan juga buat nambah penghasilan kau" Timpal Zule.


"Iya deh aku pikir-pikir dulu." Ucap Tiara.


"Kalau sudah setuju kau tinggal Wa aku, tidak hanya kita berdua Ririn juga akan ikut berjualan bareng kita." Ucap Zule yang begitu bersemangat.


"Iya deh, insyaallah aku akan kabari kau secepatnya." Ucap Tiara.


"Aku beli gorengan mu 10 ribu." Ucap Tiara sambil menyerahkan uang 10 ribu.


Sementara Zule memasukkan satu persatu gorengan di kantung plastik. Setelah itu menyerahkan kepada Tiara.


"Ini aku berikan kau secara gratis, nggak usah bayar simpan saja uang kau." Ucap Zule yang menyerahkan bungkusan gorengan itu.


"Tapi kan......"Ucap Tiara yang dipotong ucapan nya oleh Zule.


"Sudah! lebih baik kau pulang saja dan pikirkan ucapan ku baik-baik." Ucap Zule.


"Terima kasih ya Zule. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Tiara berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2