
(Tik..tik-tik...tik..)
"Apa kau sudah sampai dirumah?"
"Belum sebentar lagi , aku sedang mampir membeli minum"
"Kalau begitu hati-hati , jika sudah sampai kabari aku lagi"
"Oke"
Meletakkan ponsel dan berbaring dengan pikiran kosong. beberapa saat kemudian
(Ting..)
"Aku sudah dirumah , apa kau sudah tidur?"
"Baguslah kau sudah sampai , sebentar lagi masih belum bisa tidur"
"Mau ku temani mengobrol?"
"Boleh saja"
Mereka mengobrol dalam pesan , tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00:37 Lany berpamitan untuk tidur , sebelumnya maroon menawarkan untuk berangkat bersama besok pagi.
Pagi hari pukul 06:17 Lany menunggu Maroon menjemput nya didepan rumah. Setelah menunggu selama lebih dari 10 menit , akhirnya maroon tiba dan mereka berangkat bersama kesekolahan.
Setibanya di sekolahan
"Hai kak vio , selamat pagi"
"Selamat pagi juga , lama tak bertemu dengan mu , bagaimana kabar nenekmu?"
"Nenek ku sudah sembuh , sekarang dia tinggal bersamaku"
"Bagus kalau begitu"
"Hai kak , bagaiman kabarmu?"
"Aku baik , bagaimana dengan misi mu? haha"
"Hustt...kakak diam... jangan buat seseorang penasaran!"
"Hahaha baiklah aku hanya bercanda"
"Eh tunggu apa yang kalian bicarakan?"
"Sudahlah kau masih kecil , ayo masuk ke kelas"
"Ah baik"
Berbincang selama perjalanan menuju kelas sudah biasa dilakukan para remaja saat lama tak jumpa , mereka juga bertemu dengan BP dan Mario. Mereka melewati kelas Viviane dan melihatnya sedang duduk diam menatap jendela.
"BP , apa kau tau dimana Arlan?"
"Dari yang aku tau , dia sedang merawat ibunya yang sedang sakit parah"
"Sudah berapa lama dia tak muncul disini?"
"Sekitar satu bulan yang lalu"
"Sepertinya sudah ada yang merindukan dia"
"Kau yakin dia?"
"Kurasa... dia tak pernah melamun sebelum ini"
"Ya sudahlah itu urusan mereka , biar mereka selesaikan sendiri"
Vio yang merasa aneh dengan sikap Vivi yang jadi pendiam setelah lama Arlan menghilangkan , dia pikir Vivi hanya bercanda saja dengan kedekatan mereka , vio merasa tak enak , ia langsung menghubungi Vivi saat jam makan siang.
"Apa kau baik-baik saja? ku lihat kau sering melamun dan tidak fokus pada sesuatu"
"Tidak ada"
"Apa kau merindukan nya?"
(Terkejut)
"Aku tak menyuruhnya pergi , dia sendiri yang tiba-tiba menghilang"
"Ku rasa aku tak menyebutkan siapa yang pergi dan siapa hilang"
"Eh...itu....maksutku...."
__ADS_1
"Mengaku saja , kita berteman bukan sehari dua hari , kita sudah lama bersama , jujur saja jika kau memang mencintainya"
"Sebenarnya , aku hanya berniat bercanda saja dengannya , saat itu aku tak benar-benar memiliki perasaan padanya , namun setelah hari itu rasanya hati ku ada yang mengetuknya kembali setelah sekian lama"
"Lalu?"
"Seperti yang kau lihat dia hilang , aku juga tak tahu apa alasan dia tak kembali"
"Apa kau sudah coba hubungi dia?"
"Aku ingin tapi aku tak bisa"
"Kenapa?"
"Aku rasa dia tak suka padaku"
"Coba saja dulu , jika tidak datanglah kerumahnya"
"Emmm...akan ku coba"
Setelah bertemu dengan vio , perasaan Vivi menjadi lebih tenang. Akhir pekan sudah tiba , Vivi berencana mengunjungi rumah Arlan.
(Melihat secarik kertas)
"Apa benar ini alamatnya? semoga saja ini benar"
(Didepan gerbang)
"Permisi pak , apa ini rumah keluarga Yorke?"
"Iya ini kediaman keluarga Yorke"
"Apa Arlan ada dirumah?"
"Oh nona temannya tuan muda ya? ada perlu apa mencari tuan?"
"Tidak aku hanya ingin bertemu dengannya dan berbicara tentang permasalahan yang ada"
"Tunggu sebentar nona"
"Lapor pak! ada nona muda ingin bertemu dengan tuan muda Arlan , dia bilang teman satu kelasnya"
"Biarkan dia masuk"
(suara hati)
"Seperti ini kah kehidupan orang kaya , bahkan tamu pun harus lapor"
"Nona silahkan masuk , disana akan ada pelayan rumah , ia akan menunjukan tempatnya"
"Baik terimakasih"
Vivi memasuki gerbang rumah keluarga Yorke , didepan pintu yang besar , terlihat seorang pria tua memakai seragam pelayan menunggu Vivi , saat tiba didepan pintu , pelayan tersebut mempersilahkan Vivi untuk masuk dan menuntunnya menuju ruang tamu. Sesampainya diruang tamu pelayan tersebut memanggil kan tuan yang sedang ada diruang bacanya.
"Permisi tuan , ada teman anda yang menunggu dibawah"
"Siapa?"
"Seorang wanita"
"Wanita?"(Merasa bingung)
"Iya tuan"
"Siapkan teh , aku akan turun sebentar lagi"
"Baik tuan"
Vivi yang masih menunggu dibawah dan melihat-lihat ruangan tersebut penuh dengan pernak pernik juga melihat halaman rumah yang begitu luas , rapi dan bersih.
Sesaat kemudian , Arlan turun dan melihat Vivi sedang memperhatikan sesuatu yang ada dimeja.
"Itu adalah foto keluarga kami 2 tahun yang lalu"
"Ah..."(Terkejut)
"Untuk apa kau datang?"
"Anu.. aku...aku hanya ingin bertemu denganmu"
"Kau satu-satunya wanita yang datang menemui ku dirumah ku"
"Ahh...maaf aku tak tahu"
__ADS_1
"Apa ada hal lain? jika tidak kau boleh pergi"
"Tunggu! aku datang kemari ingin menanyakan sesuatu padamu"
"Tentang apa?"
"Semuanya"
"Semua?"
"Iya , kenapa kau menghilang begitu saja? mengapa kau tak pernah menghubungi ku? apa kau membenciku? sebenci itu kah kau padaku?"
"Heh..."(hanya tersenyum)
"Kenapa? apa aku salah bicara?"
(Berdiri)
"Ikutlah dengan ku!"(Berjalan menjauh)
"Kemana?"
"Ikuti saja aku"
Arlan membawa Vivi menuju ke ruangan dengan kaca besar yang dapat dilihat dari luar ruangan.
"Ibuku mengalami kecelakaan saat usiaku menginjak 16 tahun , ayahku bersamanya saat kecelakaan itu terjadi , mereka sempat dilarikan kerumah sakit , namun ayahku tiada , ibuku yang mengetahui akan hal itu shock , dia hidup namun hati dan jiwanya ikut tiada bersama ayahku karena ayahku adalah cinta pertamanya , ayah ku adalah dunianya , itulah sebabnya aku menjadi dokter dia usiaku sekarang , aku ingin mengembalikan menghidupkan kembali ibuku"
(Memegang pundak)
"Maafkan aku , seharusnya aku tak meragukan mu"
"Seharusnya aku yang meminta maaf , aku bersikap dingin dan cuek kepadamu tapi bukan berarti aku membencimu"
"Itu bukan salahmu"
"Ayo ke taman , biarkan ibuku beristirahat"
Pergi menuju taman dan mengobrol
"Sejujurnya , aku tak bermaksud seperti ini , aku hanya membutuhkan seseorang disamping ku"
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Keluarga ku? sepertinya aku salah satu anak yang tak beruntung mendapatkan kasih sayang orang tua"
"Apa maksudmu?"
"Aku memiliki segalanya , uang , kekuasaan , kepandaian , tapi bukan itu yang ku inginkan"
"Lalu? orang tuamu?"
"Mereka hanya orang tua yang memberikan namanya saja , bukan kasih sayangnya"
"Maafkan aku seharusnya aku tak bertanya soal ini"
"Haha itu bukan masalah besar bagiku , sekarang aku sudah bertemu dengan teman-teman ku , bertemu dengan mu"(Senyum ceria)
(Terkejut)
"Ah apa kau benar-benar memiliki sebuah perasaan pada ku?"
"Aku? tolong lah aku hanya ingin menarik perhatian mu saja , aku rasa"
"Baguslah"
"Iya kita semua teman"
"Teman?"
"Iya kita teman kan?"
"Apa aku teman mu? kita berteman? kau satu-satunya teman wanitaku"
"Benarkah? kalau begitu kau harus sering-sering mentraktir ku agar aku tetap jadi temanmu"
"Hanya mentraktir saja bukan masalah besar"(nada sombong)
"Hei kau sombong sekali ya!"(Memukul)
"Jangan pukul aku lagi , ini sakit! hey!"(berlari)
"Hei jangan lari!"(mengejar)
__ADS_1