
Vivi kembali kerumahnya dan beristirahat. Arlan dalam perasaan yang aneh , ia ingin menghubungi Vivi namun ia ragu. Keesokannya
(Kring....kring....)
"Halo"
"Halo , ini aku"
"Oh ada apa?"
"Apa kau sudah berangkat ke sekolah?"
"Belum , aku masih bersiap-siap"
"Aku akan datang dalam 5 menit"
"Ah baik"
5 menit kemudian~
(Tin..tin..)
"Ah dia sudah sampai"
(Berjalan keluar)
(terkejut sekaligus terpana)"Dia....dia sepertinya hari ini... begitu tampan dari sebelumnya"(memerah)
"Ayo berangkat jika tidak kita akan terlambat"
"Emm...baik"
Mereka pergi bersama , didalam mobil suasana begitu sepi dan canggung. Vivi hanya melihat kearah luar jendela karena tak mampu menatap Arlan. Arlan hanya diam , tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. 17 menit berlalu , mereka sampai di sekolahan.
"Tunggu disini , aku akan mengambil sesuatu dibelakang"
"Oke"
(Menyerahkan kotak)
"Eh? apa ini?"
"Lihat saja sendiri"
(Terpana)
"Wah...ini...ini kan jam tangan yang ada di toko waktu itu , bagaimana kau tau aku ingin membelinya"
"Aku melihatmu saat itu tak sengaja , jadi aku membelinya untukmu"
"Jadi ini milik ku?"
"Iya itu milikmu sekarang"
"Apa kau yakin? kau tak bohong kan?"
"Untuk apa aku berbohong padamu , tak ada gunanya bagiku"(berjalan menjauh)
(Mengejar dan memeluknya dari belakang)
"Terimakasih...terimakasih banyak"
(Wajah Arlan memerah)
"Hey lepaskan , ini masih disekolah tak enak jika ada yang melihatnya"
"Oh maaf hehe"
"Ayo masuk kelas"
(Menurut)
Pelajaran dimulai , seperti biasanya hari-hari yang mereka lewati tidak ada yang lebih spesial dari sebelumnya , hanya pergi ke sekolah pulang lalu sekolah lagi.
Satu Minggu sudah berlalu , Arlan kembali ke sekolah seperti biasanya meski kadang ia tak memiliki waktu bermain seperti dulu , ia harus merawat ibunya yang sakit.
__ADS_1
Saat akhir pekan Vivi akan pergi mengunjungi ibu Arlan dan membawakan sesuatu.
"Arlan apa ibu mu sudah bangun?"
"Belum , dia masih tidur"
"Ya sudah , ini?"
"Taruh saja dimeja"
"Eh.. apa kau sudah makan?"
"Belum , aku tak sempat untuk makan"
"Kau ini band sekali , kau harus tetap memperhatikan kesehatan mu sendiri , bagaimana caramu menjaga ibumu jika kau sakit nanti"
"Bukan masalah besar untuk ku"
"Diam tutup mulutmu , ayo turun akan ku buatkan sesuatu"(menir tangan dan turu ke dapur)
"Eh?"
(Suara hati)
"Baru kali ini ada yang memperhatikan ku seperti ini , rasa...rasanya begitu nyaman"
(Deg...deg...deg...deg...)
"Eh? kenapa detak jantung ku begitu cepat? apa ini? perasan ini....perasaan ini rasanya...."
"Apa aku memiliki rasa pada gadis ini?"
Arlan duduk dimeja makan , dia bengong beberapa saat sampai Vivi menghidangkan makanan buatannya sendiri.
"Ini dia makanlah , aku membuatnya sendiri , tenang saja rasanya tak buruk"
(Mengambil sendok , memakannya tanpa sepatah katapun)
"Bagaimana?"
"Apa kau lihat di dapur ada orang lain hah?"
"Rasanya....rasanya mengingatkan ku pada pengasuhku dulu"
"Benarkah? aku pikir tak seenak itu"
"Ini benar-benar mirip"
"Kalau begitu habiskan , aku akan datang dan buatkan setiap hari"
"Baiklah terimakasih"
"Sama-sama"(tersenyum hangat)
Mereka menikmati makanan dan berbincang. setelah lama berbincang , Vivi pamit untuk pulang , Arlan ingin mengantar nya namun, Vivi menolak dengan alasan menjaga ibunya. Vivi pulang dan Arlan hanya mengantarnya menunggu taksi.
Malam hari berlalu seperti biasa , Vivi tidur lebih awal hari ini. Disisi lain Arlan malah tak bisa tidur. Pukul 4:17 Vivi terbangun karena suara alarm yang ia siapkan. Vivi langsung pergi ke dapur dan menyiapkan sesuatu untuk dibawa ke sekolah.
"Pama tolong perhatikan semua yang ada disini terutama orang luar yang datang tanpa diundang , jika terjadi sesuatu telfon aku atau kakak , aku akan pergi ke sekolah"
"Baik tuan muda"
Arlan pergi ke sekolah dengan mobilnya. disekolah , Vivi menunggu kedatangan nya. Tak lama Arlan datang , ia memandang Vivi sangat ceria ia juga ikut ceria. Pelajaran dimulai seperti biasa , bel pergantian jam sudah berbunyi beberapa kali tinggal menunggu bel makan siang berbunyi.
30 menit akhirnya bel berbunyi , semua siswa keluar kelas.
"Arlan"
"Ya?"
"Mau makan siang dengan ku?"
"Oke ayo ke kantin"
"Ah tidak...tidak perlu ke kantin"
__ADS_1
"Lalu? kita akan pergi toilet?"
"Kau ini! bukan itu maksudku"
"Baiklah-baiklah... apa rencana mu?"
"Duduklah"
"Oke , lalu?"
"Tunggu sebentar"
(Penasaran)
"Tada!! aku sudah siapkan makan siang untuk kita , tadi aku membuatnya sendiri sebelum berangkat"
"Apa ini masakan yang sama?"
"Coba buka sendiri"
"Oh...ini makanan kesukaan ku , hei bagaimana kau tau ini makanan kesukaan ku?"
"Ah...benarkah? aku tak tahu , yang ku tahu ini masakan yang bisa dibuat dalam waktu yang singkat"
"Ya memang benar , biasanya ibuku yang membuatnya untuk ku , tapi setelah hari itu aku sudah tak pernah memakannya lagi"
"Kalau begitu aku akan membuatnya untukmu setiap kau ingin memakannya"
"Benarkah? kau mau membuatnya untuk ku?"
"Ya aku akan membuatkan nya untukmu , sekarang coba lah dan berikan komentar mu tentang masakan nya"
"Oke aku coba"
(Memakannya dan tertegun)
"Bagiamana? tidak enak ya? sudah ku duga itu"(Sedikit kecewa)
"Kau yakin ini buatan mu sendiri?"
"Eh iya aku hanya tau resep dasarnya namun aku mengubahnya sedikit karena aku tak memiliki beberapa bahan"
"Ini....rasa ini.....seperti masakan ibuku waktu aku kecil dulu"(Terharu)
"Apa seenak itu? aku tak yakin dengan itu"
"Aku serius rasanya benar-benar sama , seperti ibuku yang membuatnya untuk ku"
"Bagus lah kalau begitu , ayo makan lagi"(Tersenyum)
"Terimakasih Vivi"(Tersenyum malu)
(Suara hati)
"Terimakasih karena kau telah hadir dalam hidup ku , aku tak tahu apa tuhan sengaja mengirim mu padaku atau ini hanya sebuah kebetulan"
"Jadilah milik ku , aku akan bahagia bisa memiliki mu"
Mereka melanjutkan makan siang bersama dan mengobrol banyak hal. Sejak saat itulah sepertinya Arlan memiliki sebuah perasaan suka dan rasa ingin memiliki Viviane seutuhnya , membawanya hidup bersama , menjadi sosok kedua setelah ibunya.
Arlan berharap waktu berhenti saat itu juga , rasa tenang , damai dan bahagia bercampur menjadi satu , tergambar senyum yang begitu ceria yang telah lama hilang dalam diri Arlan.
Vio yang tak sengaja melihat mereka dalam suasana seperti ini merasa tenang , lagi-lagi sahabatnya mendapatkan apa yang mereka butuhkan. vio ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya.
"Vivi apa kau mau mampir kerumah ku sebentar untuk makan malam nanti?"
"Sebentar aku akan melihat jadwalku dulu... hahaha"
"Kau ini sok sibuk sekali ya! haha"
"Eits jangan salah , aku ini memang sibuk tau!"
"Ya ya terserah padamu saja , bagaimana? kau ikut?"
"Dengan senang hati"
__ADS_1