Inilah Pilihanku By Sweet Brownies

Inilah Pilihanku By Sweet Brownies
Bapak sudah menjemput ibuk


__ADS_3

Hari ke sebelas Ardi berada dirumah ibunya diJogja. Tadi malam ibunda jatuh sakit yang sangat parah. Ternyata ada komplikasi lain ditubuhnya. Ibunya sudah dua kali muntah darah..entah penyakit apa lagi yang mengrogoti tubuhnya yang kini kurus kering.


Tapi sesuatu keanehan terjadi siang ini..secara tiba tiba ibunya sehat kembali. Seolah ia tidak sedang sakit. Bahkan, ia minta didudukan dari tidurnya.


"Runi panggilkan Ardi kesini nak" terdengar suara ibunya.


"Oh njjih bentar" Seruni berdiri dan memanggil kakanya yang baru saja mandi siang.


"Mas..cepet ibuk manggil"


"Oh kenapa?" tanya Ardi


"Aku ga tau..coba diliat"


Ardi bergegas masuk kekamar ibunya dan ia kaget melihat wajah ibunya ceria.


"Loh buk..pripun ko mesem mesem?" tanya Ardi.


"Ardi..tolong ibuk mau duduk"


"Apa ibu bisa? nanti muntah lho"


"Ga nak..ibu dah sehat..Alhamdulillah"


Ardi cepat menghampiri dan mendudukan ibuknya. Seruni yang mengikuti dari belakang nampak tercengang melihat keadaan ibunya yang mendadak sehat.


"Lho..Alhamdulillah buk" kata gadis hitam manis ini.


Setelah beberapa menit ibuknya duduk..ia berkata.


"Anak anakku ini rumah peninggalan bapakmu. Tolong dirawat yo..seng apik seperti bapakmu dulu, dia selalu urus rumah ini seperti istana keluarga."


Kedua kaka beradik itu bingung mendengarkan omongan sang ibunda.


"Ardi coba berdirikan ibu..aku mau liat sinar matahari"


"Heeh buk? yang bener? apa kuat berdiri?"


"Aku kuat ko..ayo berdirikan aku..ayo Runi tolong ibumu"


Kedua kaka beradik pontang panting saling membantu membangunkan ibunya dari tempat tidur.


"Lho kan..apa kataku..aku sudah sehat..yuk kita kedepan rumah..aku mau ketemu matahari"


"Pelan pelan ya buk..jangan terburu buru..weleh! ibuk sehat..Alhamdulillah" kata Ardi senangnya.


Mereka bertiga ahirnya berhasil sampai depan pintu rumah. Ardi membuka pintu dan udara segar masuk kedalam ruangan dalam rumah.


Ibunya tersenyum. Ia nampak bahagia.


"Weleh..sampun teko. Monggo lho mas" tiba tiba ibunya berkata.


Ardi dan Seruni saling bertatapan saling tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Dengan siapa ibu bicara?

__ADS_1


Ibu terus tersenyum..herannya ia nampak sehat wal afiat layaknya dulu waktu sehat.


"Alhamdulillah kedua anaku sudah disini semua..apalagi kamu Ardi sudah disini bersama ibu"


"Njjih bu..Alhamdulillah" Meskipun ia ucapkan demikian Ardi tetap bingung dengan kalimat ibunya.


"Sampun..aku wes tenang..yuk masuk lagi" ibunya mengajak anak anaknya masuk kekamarnya lagi.


Jadi proses berjalan keluar dan masuk kekamarnya itu kurang kebih 10 menit saja. Dan ibuk nampaknya puas, apakah setelah mendapatkan sinar matahari atau hanya berhasil berjalan, semuanya menjadi satu teka teki tersendiri.


"Ardi biarkan ibuk istirahat disini..nanti kalo perlu apa apa ibu akan panggil" katanya sambil senyum.


"Njjih buk..Ardi mau bantu Runi bersihkan dapur dulu"


Ardi pergi menemui adiknya didapur.


"Runi..aneh yo ibuk" kata Ardi berbisik kepada adiknya.


"Lho aku yo mikir..ibuk tiba tiba sehat gitu. lha, eeh minta bangun terus minta jalan kepintu.."


"Itu lho tadi waktu dipintu..ibu bilang, wah wes teko. Monggo gitu katanya..ngomong ke siapa ya?" Ardi kebingungan dengan kejadian yang baru lalu.


"Mas..jagain ibuk yo. Aku neng pasar sebentar aja" kata Seruni.


"Yo wes rapopo..bawa hp yo. kalo ada apa apa cepet pulang" kata Ardi


"Insya Allah ga ada apa apa mas..Insya Allah ibuk benar benar sembuh..kasian ibuk"


"Ya udah kamu kepasar dulu sana..eh aku nitip Gudang Garam filter yang biasa ya..punyaku dah abis. Pake wangku untuk belanja..tuh didompetku ada wang"


********


Siang dan malam keadaan ibuk terus membaik bahkan sempat bercanda dengan Ardi dan Runi.


Sorenya Ardi telephone Muji ia menceritakan keadaan ibuk yang jauh sehat dari hari hari sebelumnya, bahkan Ardi juga cerita keadaan aneh tadi siang.


"Alhamdulillah ibukmu pulih kembali. Tapi, gini ya..aku mau coba liat kenapa ko ibumu mengatakan demikian..bagiku rada aneh juga. Sepertinya ko ibu ngeliat sesuatu yang kamu ga bisa liat"


"ya tapi gimanapun ibuk sekarang sehat..besok main sini Ji, sekalian nengok ibu kalo sempat" ujar Ardi gembira.


"Siap..paling besok jam 10pagi aku kesana"


Ardi kembali kekamar ibuknya..tapi ia urungkan masuk karena ia liat ibunya tertidur lelap..sukurlah kalo gitu.


"Sst...udah biarin ibu istirahat..kasian selama ini ga bisa tidur tenang" kata Runi sedikit berbisik.


Ardi malam ini ga bisa tidur, beberapa hal yang muncul dibenaknya..Perihal Rebecca, perihal barang barang miliknya yang diBali dan perihal sampai kapan ia harus diJogja. Apakah ia harus selamanya disini? mengingat keadaan ibuknya yang renta ini..


Tepat pukul 3 pagi ketika ia hendak memanaskan kopi tiba tiba ia mendengar ibuk mengorok keras. 'Ko tumben keras sekali ngoroknya pikirnya..kira kira sepuluh detik setelah itu dari kamar ibunya yang bersebelahan dengan kamarnya ia dengar seperti ibunya berbicara dengan seseorang.


"Mas..aku siap pulang..yuk aku dijemput. "


Ardi meletakkan cangkir kopinya, kupingnya ia pasang agar lebih terdengar suara ibu.


"Anak anak dah pada siap semua..Ardi juga sudah disini..."

__ADS_1


Pelan pelan Ardi beranjak keluar kamar dan menuju kamar ibunya. Ia buka pintunya pelan pelan. Kamar itu setengah gelap, hanya sebuah lampu kecil diatas meja.


Ibunya berada ditempat tidur tapi seakan ia sedang berbicara dengan seseorang..tak lama kemudian..


"Allah Akbaaar..." Suara ibunya serak terdengar dan aga memanjang. Terlihat bagian atas badannya seperti melengkung keatas dan akhirnya lemas.


Ardi cepat nyalakan lampu besar dan mendekati ibunya. Wajahnya terlihat agak pucat tapi seperti kosong. Ia mencoba memegang leher mencari detak nadinya..tidak ada detak nadi. Ia dekatkan telapak tangannya dimulut dan hidung ibu, tidak ada hembusan napas disana.


Ia bangun dan berlari kepintu.


"Runi!..Runi bangun! ia memanggil adiknya


Sekejap Seruni bangun dan berlari keluar.


"Ada apa mas??


"Cepat kesini!" teriak Ardi.


Runi terkesiap dan menutup mulutnya. Ia berlari ketempat tidur ibunya. Sama seperti Ardi ia mencari detak nadi ditangan dan leher.


"Bu..ibu..ini Runi" kata Runi ditelinga ibunya.


Yang dipanggil hanya terdiam. Hanya seulas senyum kecil diwajah tua seakan mengatakan biarkan aku pulang nak...


"Runi..kayanya ibuk berpulang..Ya Allah.." Ardi berkata sambil memegang pundak adiknya.


"Buuuuu!! jangan tinggalkan Runi..tadi kan sudah sembuh bu..ko gini buuuu!" Jerit Seruni sambil memeluk ibunya. Tangisnya bertambah keras.


"Innalillahi..aku ikhlas buk" kata Ardi pelan. Ia mendekat dan mengangkat kedua tangan ibuknya untuk memposisikan sedakep.


Langsung ia telephon Muji.


"Ji..ibuk berpulang pagi ini"


"Innalillahi wainaillahi rojiun..aku kesana sekarang" kata Muji cepat.


"Njjih suwun"


Ardi duduk disamping adiknya.


"Runi..ikhlaskan ibuk dek..biar ibuk pulang, tadi kayaknya dijemput bapak..keliatannya ibuk pulang dengan tenang.."


Meskipun demikian Ardi meneteskan air matanya. Bagaimanapun juga, ia baru saja kehilangan seseorang yang melahirkan dirinya didunia ini. Seseorang yang penuh kasih sayang membesarkan dia dari bayi sampai dewasa dengan tulus ikhlas.


"Assalamualaikum.." Terdengar suara Muji diluar.


"Walaikumsalam..njjih monggo masuk" Ardi membukakan pintu.


Muji ternyata datang bersama pak RT dan seorang Hansip. Ketiganya langsung diajak masuk untuk menyaksikan ibunda tersayang dikamarnya.


"Saya sudah menyaksikan ibuk nak Ardi, pagi ini saya bantu ketempat Dokter Kuswoyo untuk datang kesini sekalian pemberitahuan kemasyarakat dari speaker mesjid. Sekali lagi turut berduka cita njjih"


"Terima kasih pak RT"


"Njjih mohon ijin dulu..pangapunten"

__ADS_1


********


__ADS_2