
Pagi itu Ardi mengirim 3 pesan sekaligus. Ke Ni Luh, Rebecca dan pak tua.
Semua isinya sama.
"Telah berpulang dengan tenang jam 3 pagi hari ini ibunda tercinta ibu Mardiyani. Mohon doa dan keikhlasannya. Ardi"
Rebecca membaca pesan itu ketika ia hendak berangkat ke Denpasar membeli alat alat lukis. Sedangkan Ni Luh membacanya ketika akan membuka tokonya dan pak tua ketika hendak kepasar.
Ni Luh langsung mengirimkan kabar.
"Ardi, tolong kasihkan alamatmu. Aku keJogja sekarang"
Sedangkan Rebecca hanya mengatakan.
"Ikut berduka atas kepulangan ibu. Salam kangen"
Pak tua aga telat kirim kabarnya tapi ahirnya ia sempatkan juga kirim.
"Ardi..kami doakan agar semuanya berjalan lancar. Saya akan beri tau yang punya kamarmu bahwa kamu blom bisa kembali karena kepulangan ibunya diJogja. Ga usah kuwatir saya yang urus kamarmu selama kamu disana"
Ardi membaca semua pesan itu dan khususnya dari Ni Luh. Ia terharu atas balasan gadis Bali ini. Ia mengetik alamatnya secara komplit dan akan meminta Temannya Muji untuk menjemputnya.
Pagi ini Ardi dan Seruni sibuk mengurusi acara pemandian jenazah dan segalanya. Mereka sudah larut dalam semua persiapan hingga sudah lupa akan kesedihan. Maklum hanya mereka yang tersisa dikeluarganya. Meskipun demikian beberapa paman dan bude dari sisi bapak ikut datang juga membantu.
"Muji..sebentar lagi aku dapat info bahwa salah satu temanku dari Bali akan mendarat dibandara. Kamu tolong aku jemput dia bisa? nanti aku kasihkan fotonya supaya ga bingung..tolong ya"
"Oh siap..saya bantu" kata Muji.
Kurang lebih setengah jam kemudian Ni Luh kirim pesan bahwa semua penerbangan pagi sudah penuh yang sisa siang nanti jam 3. Dengan terpaksa ia akan datang dengan Lion Air jam 3 siang.
"Muji ini fotonya temanku jam 3 katanya mendarat. Kamu jemput ya..kita akan berangkat ke makam jam 12 siang. Jadi kira kira jam setengah 2 kamu kesana kebandara"
"Oh nggeh siap..'Di aku mau pinjam mobil pa RT gimana?" tanya Muji.
"Ga aku aja yang minta ijin..Insya Allah bisa, kamu yang supir ya..kan sering to kamu bantu supirin keluarganya"
"Baik..iya aku dah beberapa kali bawa mobil Avanzanya" kata Muji.
"Bentar aku tanyakan dulu" Ardi mencari pak RT yang sibuk mengurusi keranda.
Sebentar kemudian Ardi kembali ke Muji.
"Wes aman..pak RT bilang sekarang kerumahnya aja ambil mobil terus parkir dipinggir jalan Raya depan. Nanti jam setengah dua sampeyan langsung berangkat..suwun yo"
"Siap..siap"
Setelah shalat jenazah ahirnya ibunda diusung menuju pemakaman. Cukup banyak warga yang ikut kemakam mengantarkan bu Mardiyani ketempatnya yang terahir.
Seruni ga kuasa menahan tangisnya..ia sudah berusaha menahan air mata dan ketika tanah terahir menutupi kuburan ibunda iapun menangis. Ardi memeluk tubuh adiknya erat erat.
__ADS_1
"Ikhlaskan Runi ikhlaskan ibuk..ia sudah tenang dan ga sakit lagi..ayo seng tenang..aku disini bersamamu"
"Mas..jangan tinggalkan Runi ya..aku sendirian"
Pemakaman berjalan lancar dan merekapun kembali pulang.
********
Jam menunjukan jam 5 sore, meskipun sudah banyak yang pulang tapi beberapa tetangga masih ada disana dan saudara saudara dari bapaknya masih membantu membenahi barang barang milik bu Mardiyani.
Tiba tiba Seruni memanggil kakanya yang sedang berada dibelakang rumah.
"Mas..ada tamu dari Bali datang"
"Oalah..nggeh suwun..dek siapkan minuman dingin dan kueh taro dipiring" kata Ardi sambil membereskan rambutnya.
Diruang tengah sudah duduk bersimpuh dilantai Ni Luh
ia mengenakan kain kebaya bergaya Bali, baju putih dengan sedikit renda dan kebaya hitam. Rambutnya ia lepas tapi rapih.
Warga yang sedang duduk disekeliling ruangan kagum atas keayuan dan gaya baju Ni Luh.
Ardi datang menyambut sahabat karibnya. Mereka saling berpelukan disana. Kangen yang tak terhingga.
"Iki pacar opo bojone?" bisik seorang wanita setengah baya kepada temannya.
"Bukan..ngawur ae..Ardi blom punya istri..yo temen pastine..kan Ardi tinggalnya diBali to" teman yang diajak bicara menjawab.
"Ga apa..dulu kamu banyak sekali bantu aku dan itu ga pernah aku lupakan seumur hidupku" Kata Ni Luh sambil memegangi tangan Ardi.
Seruni datang membawa air dingin dan kueh kueh kecil. Ia tersenyum kearah Ni Luh.
"Ini adikku Seruni yang dulu pernah aku ceritakan..Runi, ini Ni Luh sahabat karibku diBali" Randi memegang tangan Seruni memperkenalkan Ni Luh.
"Sugeng rawuh mba..dah jauh datang dari Bali..terima kasih sekali" kata Seruni.
"Semoga ibu dilancarkann perjalanannya nggeh" kata Ni Luh
"Kamu rencana berapa lama?" tanya Ardi
"Aku malam ini langsung pulang Di, maklum harus urus toko"
"Aduh sayang ya..lain kali agak lamaan disini"
"Nggeh pasti.." jawab Ni Luh.
diluar sana para tamu priya yang masih bujangan mengitari Muji. Mereka ingin tau siapa tamu istimewa dari Bali ini.
"Muji..itu pacare Ardi yo?" tanya Harja kepada Muji.
__ADS_1
"Bukan..itu teman baiknya, sahabat lah..cewenya blasteran, orangnya ga kesini" jawab Muji
"Waah blasteran pasti cuakep..tapi Ardi yo ganteng. Aku kalo liat Ardi ko kaya wong bule yo..padahal lahir kene. Asli wong kene"
"Hehe..iyo yo bingung aku kato koncoku iki" kata Muji.
********
"Ni..jalan jalan kekebun belakang yuk" kata Ardi.
"Ayuk..rumah orang tuamu ni adem lho, aku suka rumah Jawa" katanya sambil berdiri.
Mereka berjalan dan berhenti didekat pohon besar dibelakang. Disana ada sebuah meja kayu dan 2 kursi. Ardi mengajak untuk duduk sambil melihat turunnya malam. Sebentar lagi magrib, Ardi menyempatkan ngobrol sebentar dengan Ni Luh.
"Aku kemaren kirim kabar ke Rebecca tapi yang dateng malah kamu Ni..aku sangat berterima kasih"
"Kamu sudah aku anggap saudaraku..aku ingat dulu aku sangat susah..ga tau mau gimana dengan kehidupanku dan kamu datang seperti malaikat. Kamu menolong aku sampai aku bisa bangkit dan meneruskan usahaku..bahkan sekarang sukur kepada Tuhan aku sudah punya 2 toko" Katanya sambil memegang salah satu tangan Ardi.
"Perbuatanmu itu sungguh suatu mukjisat tersendiri bagiku"
"Aah itu cerita lama ya..ga usah kamu angkat lagi"
"Ardi..kamu kayanya akan lama diJogja..sering kirim berita ya keaku diUbud" pinta Ni Luh
"Pasti Ni Luh pasti..ngomong ngomong kamu sangat jelita dengan gaun Balimu" kata Ardi sambil tersenyum kemuka Ni Luh.
"Really?..makasih Ardi. Loh ini pertama kali lho kamu muji aku, setelah bertahun tahun saling kenal baru kali ini kamu menyanjung aku"
"Hehe..iya kamu istimewa..kamu liat tadi cowo cowo pada melirik kearahmu.."
"Aah bisa aja..mereka bingung kali ya..ko diJawa kan cewe pake kebaya rambutnya disanggul..lha ini ko diurai hehe"
Mereka bicara sampai akhirnya terdengar suara azan magrib datang.
"Ni..kita mau shalat magrib barengan..kamu bisa tunggu? boleh tunggu diteras ga apa apa ada lampu ko, cukup terang"
"Oh ya..ga apa apa silahkan saja shalat..aku duduk diluar tunggu kamu"
Setelah shalat magrib dan semuanya sudah pulang. Rumah menjadi lenggang hanya ada beberapa orang saja yang bantu membereskan tikar.
"Pesawatmu jam brapa?" tanya Ardi
"Aku ambil yang jam 8.30"
"Ooh pesawat terakhir ya ke Bali..aku anter ke airport"
Ardi cepat cepat telepon pa RT apa mungkin pinjam mobil Avanzanya sekali lagi untuk anter tamu keBandara.
Tepat Jam 7 mereka sudah berangkat menuju ke bandara.
__ADS_1
********