Inilah Pilihanku By Sweet Brownies

Inilah Pilihanku By Sweet Brownies
Rebecca Hardiman


__ADS_3

Laki laki berambut panjang dengan dada bidang itu menurunkan sedikit topinya dan sebentar kemudian ia menarik kaca mata hitam dari saku bajunya.


Aaah, kenangan lama, kenapa harus kuingat ingat...Ia berjalan santai menuju kearah depan jalan Bisma di Ubud. Gayanya persis kaya turis asing apalagi dengan sedikit berewok dan kumis tipis. Ia mengenakan baju longgar berwarna biru tua dan celana putih model gombrong. Dengan hanya sepatu model Yesus ia melangkah tanpa arah.


Jam sudah menunjukkan pukul 7, pagi tanpa sadar ia sudah berjalan jalan kesana kemari..toko suvenir dan cafe sudah mulai satu persatu dibuka..kesibukan sudah dimulai.


***


"Mas Ardi!.." terdengar triakan seseorang dari seberang toko. Ardi menoleh dan mencari suara siapakah itu?


"Hai Ni Luh!.."


Ni Luh teman lama Ardi dan Dewi punya toko souvenir di Ubud deket jalan Bisma. Ni Luh tau tentang kejadian yang dialami Ardi. Dan Ni Luh menyayangi keduanya, khususnya Ardi karena waktu Ni Luh mengalami kesurutan modal bisnis Ardi banyak membantu keuangannya.


Ardi memeluk erat Ni Luh, kangen rasanya sudah lama ga pernah ketemu.


"Gimana kabar kamu? kayanya dah kembali ya bisnisnya? tanya Ardi.


"Sukur kepada Tuhan..semuanya pelan pelan kembali" Ni Luh berkata sambil membetulkan rambutnya yang disanggul keatas. Memancarkan kecantikannya meskipun umurnya sudah cukup dewasa mendekati angka 4 tapi masih memancarkan keayuannya.


"Eh..kita ke cafe Ronji yuk, kangen aku..tapi mereka bukanya jam 8. So, kamu duduk didalam dulu yah" Ronji adalah restauran diUbud yang cukup terkenal kepunyaan Ni Ronji istri dari pelukis terkenal Antonio Blanco.


"Lets go.." tanpa ragu Ardi menyetujui.


********


Sambil menunggu cafe buka, ia mengontak pak tua.


"Pak..aq ga usah dijemput nanti sore soalnya ketemu temen lama..kayanya ngobrolnya akan lama. Aku pulang sendiri ga apa apa..suksme nggeh" kata Ardi di telponnya.


"Oh ya sudah ga apa apa..santai aja. ya sudah saya langsung balik Denpasar kalo gitu" kata pa Tua.


Ardi mematikan pembicaraan dengan pak tua dan melirik ke Ni Luh.


"Ayo tunggu apa lagi?"


********


Ketika mereka sampai dicafe Ronji, meskipun masih jam 8 lebih sedikit, disana sudah ada beberapa orang asing yang sedang pesan minum dan makanan. Ardi selalu suka dengan tempat ini, selain romantis tapi tempatnya santai dan makanannya enak.


"Kita ambil meja yang menghadap kesungai ya" kata Ni Luh.


Belum 2 menit mereka duduk tiba tiba muncul seorang wanita.

__ADS_1


"Hai sayang!."


"Wow disini juga..eh kenalkan nih temanku dari Jogja tapi sekarang menetap diDenpasar" sambil menunjuk ke Ardi.


"Hai..how is it going?"


"Hi great thanks" jawab Ardi singkat sambil tersenyum. Wanita ini kira kira seumuran dengan Ni Luh. Tapi gayanya sexy, Ia memakai kaos hitam ketat dan bawahnya dibalut kain Bali warna coklat. Ia balutkan dengan ketat jadi terlihat tubuhnya yang padat berisi.


"Ini namanya Rebecca Hardiman..bapaknya Jowo ibunya Perancis..dia pelukis disini. Sudah lima belas tahun tinggal diUbud" kata Ni Luh memperkenalkan temannya.


"Wow! lima belas tahun..dah jadi orang Bali ya?"


"Not yet..masih meraba raba. Bali itu indah, begitu juga dengan orangnya tapi kita ga bisa langsung menjadi bagian daripadanya..kata orang musti menyatu kalo ga menyatu ga bisa jadi orang Bali..iya kan Ni Luh?"


Rebecca menarik kursi dan duduk.


"Aku ga lama disini ya, kebetulan lagi bersama teman teman dari German..tuh disana mereka" Rebecca menunjuk kearah empat orang yang duduk dipojok taman.


Ni Luh sebetulnya sedang mempelajari sikap Rebecca terhadap Ardi. Dia tau jelas sifat temennya ini, Rebecca paling ga bisa liat cowo ganteng apalagi model macho kaya Ardi dengan tubuh yang atletisnya.


"So..kamu tinggal diDenpasar ya..ko suka sih dengan hiruk pikuk gitu?" tanya Rebecca


"Yah diDenpasar juga ada ko tempat yang tenang, kamu musti tau tempat tempat yang tenang baru kamu bisa merasakan asiknya Denpasar" balas Ardi sambil tersenyum.


Setelah beberapa kali mereka saling melemparkan kata kata akhirnya Rebecca mohon diri untuk menemani teman Germannya.


"Okay we will catch up again ya next time..bye sayang" Rebecca berdiri dan memberikan kecupan sayang kepipi Ni Luh. Rebecca melirik kearah Ardi.


"Kita ketemu lagi lain waktu ya..nice meeting you" Rebecca berdiri dan melemparkan cium jauh dengan tangannya kearah Ni Luh.


"Itu namanya Rebecca..dia terkenal sebagai pelukis alam yang cukup bagus karyanya" ujar Ni Luh


"Hmmm..cakep ya"


"Alah kamu..gayanya kaya playboy aja..luka lama aja blom sembuh..iya kan?"


********


Dikediaman Dewi diJakarta..


Pagi ini dihari sabtu Dewi baru selesai shoping diantar sopir. Semua permintaan suaminya sedapet mungkin dibeli. Mulai dari roko filter, body lotion, foam cukur kumis, kaos kaki 6 set, majalah Tempo dan kertas printer 1 rim. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang sangat banyak.


Didepan pintu masuk pak Darto sang supir sudah menanti sengaja disuruh tunggu disana setelah parkir untuk bantu bawakan barang barang. Ketika itulah Fadjar teman lamanya menegur dari belakang.

__ADS_1


"Halo Dewi.." Tegur Fadjar.


"Hei 'Djar! ko tumben ketemu disini? Mana Rini?" Ia mengisyaratkan pak Darto untuk kemobil duluan.


"Aku dari tadi liat kamu tapi kayanya lagi serius banget belanja"


"Ehm..gitu ya bukannya bantuin bayar dikasir ko malah cuman liat ya" canda Dewi


"Rini lagi senam sama tantenya..oya aku dari kemaren coba call mas Mur tapi ga diangkat. Sibuk terus suamimu.."


"Oh maaf maklum dia lagi banyak proyek, aku aja kadang kadang ga dijawab. Bayangkan istrinya aja sulit apalagi kamu..sorry ya, nanti klo pulang aku bilangin deh".


"Sip..tolong ya, bilang aja urusan ke Malaysia sudah gol tinggal mas Mur aja mau ga terusin. Kalo dia minat mohon call aku ASAP"


"Weh apa tuh? aku dapet fee denger dong ya" Dewi berkata sambil tersenyum.


"Siap..kamu feenya makan malam sama aku aja"


"Rini gimana? haha..okay nanti kusampaikan ya"


"Jangan lupa ya Wi"


"Pasti..yuk Djar aku pulang dulu, jangan lupa makan malamku lho" kata Dewi sambil mengerdipkan satu matanya sedikit centil.


Mereka berpisah.


Hmmm, Dewi tu tambah hari tambah berisi bodynya, senyumannya itu lho..kurang ajar menggoda bener. Fadjar selalu gitu kalo depan Dewi bahkan bukan saja Fadjar setiap cowo yang berbicara sama Dewi pasti merasakan itu. Dewi emang punya daya tarik tersendiri apalagi diumurnya yang 32 tahun ini Dewi menjadi seorang wanita yang sangat aduhai.


Fadjar itu dari dulu gitu kalo ketemu aku, matanya selalu melirik ke dadaku..ada apa sih sama priya itu?


"Pak Darto kita mampir ditoko kueh yang biasa ya sebelum pulang"


"Baik bu.."


"Udah ngopi tadi?"


"Udah..dapet pisang goreng juga hehe"


"Oh ya..ahir bulan apa jadi pulang kampung? Trus keponakanmu yang mau gantiin sudah siap?"


"Insya Allah jadi bu..dan Deni keponakan saya sudah siap gantiin, kalo diijinkan minggu ini saya akan bawa Deni kerumah supaya ibu kenal".


"Boleh bawa aja biar sekalian bapak kenal juga"

__ADS_1


********


__ADS_2