Isteri Cantik Tuan Muda

Isteri Cantik Tuan Muda
Bab 11


__ADS_3

°°°


Cklek!


Gadis itu masih duduk disofa sambil asyik memainkan ponselnya, sampai-sampai tak menyadari keberadaan Marcel yang kini tengah mengawasinya.


Kebetulan sekali, saat Marcel membuka pintu kamar dan disaat itu Zoya sedang menggulir beranda Instragram nya dan tak sengaja ada vidio sepasang kekasih yang tengah berc1um4n.


“Saat aku tidak ada, ternyata kau sangat suka menonton hal seperti itu yahh?”


Suara bariton itu mengejutkan Zoya, gadis itu dengan cepat menyembunyikan handphone nya.


“T--tuan Muda!” pekik nya terkejut.


“Kaget? Ternyata saat tidak ada aku, kau sangat suka melihat adegan yang seperti yahh?” kuping Zoya terasa panas mendengar nya, enak saja Marcel? mengatai nya seperti itu.


“Tidak sengaja terpencet, Tuan Muda!” balas Zoya sekedarnya, memang itu yang terjadi.


“Ya, bagaimana pembicaraan mu dengan Alfareado!m? Apa menyakiti hati mu?”


Meskipun terdengar perhatian, tapi bagi Zoya, Marcel tengah meremehkan keluarganya.


“T--tidak, Tuan Muda. Saya sudah mengetahui faktanya, maaf jika tadi saya sempat tidak percaya kepada Anda.” jujur Zoya merasa sangat bersalah saat Marcel menceritakan kematian Hirata.


Hening, keduanya tak ingin bicara. Tapi Zoya ingin bertanya, apakah ia boleh sekolah besok setelah kejadian tadi.


“T--tuan Muda, saya ingin bertanya!”


“Tanyakan lah!”


“A--apa besok Saya boleh sekolah? Besok saya ada peratek sains, Tuan Muda!” ungkap Zoya, gadis itu terus menundukkan kepalanya dan enggan untuk menatap Marcel.


“Kau boleh sekolah, tapi selama disekolah, kau harus diawasi Marvel. Itu semua demi keselamatan mu, jangan ge-er, Saya melakukan ini agar kau tidak merepotkan Saya nantinya!” jelas Marcel, meskipun ucapannya panjang lebar tapi nadanya dingin.


“B--baik, Tuan Muda!”


“Saya ada pekerjaan, jadi saya akan pulang agak larut!” setelahnya Marcel pergi dari rumah itu, kini hanya ada Zoya di rumah mewah itu.


“Enak nya ngapain yahh?” gumam Zoya, ia mengetuk-ngetuk dagunya.

__ADS_1


Kaki Zoya terus menelusuri lorong rumah mewah itu, kedua kakinya berhenti saat melihat sebuah kalender yang ditandai dengan spidol ungu.


“Ini apa?”


“Nyonya Muda!”


Zoya berbalik dan mendapati Bibi Tua yang sedang membawa kemoceng, ia mengatur nafasnya sejenak sebelum berbicara.


“Kenapa Nyonya kesini?” tanya Bibi Tua, Zoya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Hehe, aku lagi jalan-jalan, Bi. Oh iya, tanggal hari ini kok ditandai spidol ungu, Bi? Ada acara spesial yahh?” tanya Zoya lalu menunjukkan kalender itu kepada Bibi Tua.


“Hari ini adalah ulang tahun Tuan Muda, biasanya Nona Vanka yang menandai tanggal itu, Nyonya Muda!” sahut Bibi tua sekenanya, tak lupa senyum tipis nya.


Zoya mengerenyitkan dahi nya. “Vanka?”


“Nona Vanka Larissa Raquel, sahabat masa kecil dari Tuan Muda. Hanya beliau yang mampu membuat Tuan Muda untuk tersenyum dan hanya dia yang mengerti tentang Tuan Muda, dia juga yang menyelamatkan Anda kemarin, Nyonya Muda!” jawab Bibi Tua seraya menjelaskan tentang siapa itu Vanka.


Zoya ber-oh riah saja, tapi ada rasa sakit di hatinya. Baginya, Vanka tampak istimewa di hati Zevan, sampai-sampai kata Bibi Tua Zevan akan selalu tertawa jika ada Vanka.


“Jika hari ini ulang tahun Tuan Muda, apa Bibi Tua tidak ingin membuatkan nya kue ulang tahun atau pesta, gitu!?” tanya Zoya heran.


“Emm, Bi! Boleh nggak kalo Saya yang buatin kue ulang tahun untuk Tuan Muda!?” Zoya mengajukan dirinya, entah setan apa yang merasuki gadis ini hingga ia berani mengajukan dirinya.


“Nyonya Muda, Saya bukannya tidak memperbolehkan Anda tapi jika nanti Tuan Muda menjadi marah maka ... Anda akan sangat menyesal karena membuat kan kue tersebut!” terang Bibi Tua, karena dulu ada yang pernah membuatkan kue untuk Zevan dan pemuda itu membuang nya.


Zoya tersenyum. “Tidak apa-apa, Bi. Saya yang akan menanggung resiko nya, biarkan Saya yang membuat kue nya, yahh?”


Bibi Tua mengangguk dengan ragu, meskipun Zoya adalah istri dari Marcel tapi pemuda itu belum tentu akan menerima segala nya dari Zoya apalagi tentang hari ulang tahun nya.


Zoya dan Bibi Tuan berjalan menuju dapur, gadis itu mulai mengambil celemek dan juga mencuci tangannya. Ia menyiapkan beberapa bahan yang diperlukan untuk membuat kue, tapi ia tak tau rasa favorit Marcel.


“Bi, apa rasa favorit Tuan Muda?” tanya Zoya. “Caramel, Nyonya Muda!”


Zoya mengangguk, ia menyuruh beberapa bodyguard dan juga maid untuk membeli bahan-bahan yang tidak ada dirumah.


Dia dan Bibi Tua mulai mencampurkan bahan-bahan untuk membuat kue, ini untuk pertama kalinya Zoya membuat kue.


Karena tidak tau, jadi Zoya memilih untuk melihat tutorial yang ada di YouTube dan langsung mempraktekkan nya.

__ADS_1


Disisi lain, dua remaja yang sedang berhenti disebuah taman tampak bingung serta heran.


“Gw curiga sama Zoya, Lard!” ungkap Xien, gadis yang mengalungkan kemejanya di pinggang itu mulai mencurigai Zoya.


“Curiga gimana?”


“Tentang bodyguard yang menemaninya tadi, itu sangat mengganggu ku. Secara, Papanya tidak pernah memberikan apa pun untuk Zoya sejak dia menikah dengan Mak lampir itu!” ucap Xien, Mak lampir yang dimaksud gadis itu adalah Widia.


“Ya, itu juga mengganggu ku tapi kita harus percaya kan pada Zoya kan?” ujar Gerald berusaha bersikap dewasa. Gerald juga merasa heran, bagaimana pun juga Marvel pernah terlibat adu jotos dengannya tempo hari.


“Kalau begitu aku ingin menanyakan hal ini pada Zoya!” tutur Xien, ia mulai memakai helm nya.


“Apa? Maksud mu kau akan kerumah Mak lampir itu? Gw sih ogah, Xien!” pekik Gerald seraya bersedekap dada.


“Terserah kau ingin ikut atau tidak, aku akan tetap pergi kesana walau sendiri!” tegas Xien, ia mulai menstarter motornya.


Motor sport hitam nya itu melaju kencang, Gerald hanya mampu geleng-geleng kepala tapi ia juga ingin ikut.


“Xien-Xien, inilah yang membuat mu menarik dimata ku!” gumam Gerald dengan senyum nya.


Setelah perjalanan yang cukup jauh, Xien dan Gerald sampai di rumah mewah keluarga Alexander. Disana ada Widia dan juga Tata yang keluar dari mobil dan menenteng beberapa paperbag, seperti nya habis shopping.


“Duhh, pengganggu lagi!” celetuk Tata seraya mengibaskan rambutnya kebelakang, ingin rasanya Xien menghajar wajah Tata yang sok cantik itu.


“Assalamualaikum, Tante!” karena Gerald cukup ramah jadi dia yang duluan menyapa Widia.


Widia memutar bola matanya malas.


“Wa'alaikumsalam.” ketusnya.


“Ada apa kalian berdua kemari? Cepat katakan, kami tidak punya banyak waktu soalnya kami ingin memakai baju-baju mahal yang baru saja kami beli!” sarkas Tata, ia memamerkan barang-barang yang ada di paperbag nya yang baru saja ia beli.


“Ck, barang tidak berguna!” cibir Xien pelan namun Tata masih mendengar nya.


“Apa kata mu?”


“K--kami kesini ke mencari Zoya! Kami ada tugas kelompok bersama nya.” sambar Gerald cepat, dia tidak ingin memperkeruh keadaan.


“Cish, anak s1al4n itu sudah.

__ADS_1


__ADS_2