Isteri Cantik Tuan Muda

Isteri Cantik Tuan Muda
Bab 19


__ADS_3

Brukk!!


“Sstt, m--maaf!”


Zoya yang dibantu dengan Xien untuk berdiri langsung mendongak untuk melihat siapa yang ditabrak, seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Gerald itu menatapnya dengan datar.


“Maaf yahh, Kak. Aku nggak sengaja!” ucap Zoya, gadis itu menampakkan nyengir kudanya sementara pemuda itu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Uhh, sombong banget!” dengus nya sebal.


“Udah-udah, yuk kantin!”


Ternyata dikantin sudah sangat ramai, ada Jennie, Gerald, Fika dan juga Zihan. Ada tatapan serta aura tak suka dari Jennie saat Fika dan juga Zihan mendatangi meja nya dan juga Gerald.


“Hai, Jen! Boleh gabung gak?” tanya nya yang bersiap meletakkan nampan makanannya dimeja itu, Jennie memalingkan wajah nya dan berpura-pura sibuk dengan makanannya.


“Hufhh, ya udah deh ...”


Fika yang kecewa dan berniat untuk pergi bersama Zihan langsung dihentikan oleh Zoya, ia menggenggam tangan Fika.


“Jangan pergi, Fika!”


“Zoy, ngapain sih Lo masih peduli sama muka dua kayak dia?” sentak Jennie dengan nada tinggi, seisi kantin mulai melihat kearah Zoya cs.


“Jen, Gw udah lupain Zihan! Gw udah punya orang lain dihati Gw.”


"Walaupun orang lain itu belum tentu menganggap Gw ada dihatinya." Lanjut Zoya membantin.


“Kau terlalu naif, Zoy! Lo itu terlalu polos, dan Lo selalu kena tipu daya dan muslihat seperti apa yang Fika lakuin ke Lo!” terang Jennie, ia merasa frustasi dengan teman nya yang naif dan mudah untuk di bohongin ini.


“Aku tidak naif, Jen. Aku ... Aku hanya tidak ingin timbul masalah besar diantara persahabatan kita, hanya kerena masalah sepele seperti ini!” sahut Zoya, dia bodo amat dengan semua siswa-siswi yang mulai menatapnya.


Jennie terkekeh. “Masalah sepele? Lo itu udah pacaran sama Zihan sejak kalian SMA, dan kalian putus karena Fika alias gadis muka dua ini! Dia juga nggak kasih tau kita-kita, kalo dia sama Zihan udah nikah!”


“Jen, berpisah bukan berarti tidak bisa berhubungan kan? Aku dan Zihan masih bisa berteman tanpa ada kata ataupun sikap yang menyakitkan diantara kami.” jelas Zoya.


Pada dasarnya, Jennie adalah gadis yang mudah untuk tersulut emosi. Dia mungkin memiliki otak yang cerdas dalam bidang pelajaran tapi tidak dengan sifatnya yang terbilang emosian.


“Ck, Lo terlalu baik, Zoy. Ingat ini, kebaikan mu akan selalu dimanfaatkan oleh orang lain!” pesan Jennie, ia berlalu pergi dengan burger ditangannya.


Zoya dan yang lainnya menghela nafas, Xien menarik tangan Zoya saat gadis itu hendak menyusul Jennie.


“Nggak usah, biarin Jennie tenang!”


“Kalian berdua, duduk aja disini! Al, Gw mau kita tetap sahabatan dan nggak ada kata musuhan diantara kita berdua!” tawar Zoya, ia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Zihan tersenyum. “Sahabat? Deal!”


Semuanya langsung tertawa setelah Zihan mengatakan hal tersebut. Gerald baru sadar ternyata Zihan adalah orang yang asik, meskipun keduanya sekelas tapi tidak pernah sekalipun mereka berbicara karena berbeda Genk.


“Kita pesan makanan yahh?” tawar Zoya, ke-empat teman nya langsung tertawa jahil.


“BUK KANTIN, PESEN SEBLAK 5 DITAMBAH PENTOL NYA LIMA, ZOYA YANG TERRAKTIR!!”


Bahkan seorang Xien Clooney yang terkenal dingin pun ikut-ikutan permainan traktiran itu, ia juga ingin makan makanan geratis.


“Kalian benar-benar menyebalkan! Tapi nggak papa deh, untuk ngerayain hari persahabatan kita!” seru Zoya, ia segera kekantin bersama dengan Fika untuk mengambil pesanan.


Setelah menunggu beberapa menit, Zoya dan juga Fika membawakan pesanan mereka. Fika berjalan lebih dulu sambil membawakan nampan berisi pentol pedas, sementara Zoya paling belakang.


Ia terlihat kesusahan karena membawa nampan yang berisi lima mangkok seblak pedas, jika terciprat kemata nya kan berabe.


Brukk!


“Assw!!”


“Duh, punya mata nggak sih? Jalan tuh, lihat-lihat donk!” pungkas gadis itu, gadis dengan pakaian yang terbilang pendek.


“M--maaf, Kak. Aku nggak sengaja!”


“Saya sudah minta maaf kan?” Zoya nampak menatap nyalang gadis sok itu, dia tidak terima jika dirinya direndahkan seperti samp4h oleh gadis itu.


“Ouhh,, berani Lo yahh?”


“Ahkkk, s--sakit!!”


Zoya merintih kesakitan saat gadis dengan nametag 'Mimi' itu menjambak rambutnya dengan kuat, dan menyuruh kedua temannya untuk memegangi tangan Zoya.


Karena Fika dan yang lainnya duduk paling pojok, mereka tidak terlalu mendengar keributan itu. Jika pun mereka mendengar nya, mereka menduga bahwa itu adalah anak-anak pembuat ulah dan tidak tau jika itu adalah Zoya.


“Mimi, lepasin dia!”


Suara berat itu membuat antensi semua orang menatap pemuda dengan seragam yang terbuka, tapi masih dilapisi kaos hitam polos yang membalut tubuh kekar nya itu.


“Nathan!


Mimi melepaskan kedua tangannya dari kepala Zoya, Zoya merasakan pandangannya mulai berputar-putar akibat ulah Mimi. Sebelum kehilangan kesadaran nya, Zoya sempat melihat pemuda yang sempat dipanggil Mimi 'Nathan'.


Grepp!


Tak peduli dengan teriakan para kaum hawa yang syirik kepada Zoya, pemuda bernama Nathan itu langsung menggendong Zoya dengan mudah. Ia menatap sekilas wajah damai Zoya, tanpa disadari, bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.

__ADS_1


Di UKS


Setelah perawat UKS memasangkan selimut pada Zoya sampai dadanya, perawat itu langsung pergi setelah berpamitan dengan Nathan.


“Ughh!”


Cukup lama Nathan menunggu kesadaran dari gadis itu, ia menatap Zoya yang sedang kebingungan sekilas lalu kembali fokus pada handphone yang ada ditangannya.


“Duhh, kepala Gw sakit banget! E--eh, Lo yang tadi Gw tabrak kan?” Zoya menunjuk Nathan, Nathan menyimpan handphone nya di saku celana nya lalu berjalan mendekati brankar Zoya.


“Siapa nama mu?”


“Z--zoya.”


Zoya memicingkan mata nya guna untuk melihat name tag Nathan yang berada dua meter dari brankarnya.


“Nathan Erlangga Dirgantara.” Nathan menjawab namanya lebih dulu, ia keluar dari ruangan itu dengan senyum smrik diwajahnya.


“Aneh.”


“Hallo, Zoya!”


“A--ayahh?”


Antara senang, terharu dan emosi, semua perasaan itu terasa campur aduk dihati Zoya saat ini karena Alfareado menghubungi nya. Sejak ia dan juga Marcel menikah tempo hari lalu, Alfareado tidak pernah menelepon Zoya.


“Ayah, apa kabar?”


Zoya sangat berharap jika sang ayah akan menanyakan kabarnya ataupun nilai-nilai sekolahnya, tapi harapan nya runtuh begitu saja saat mendengar sahutan dari Alfareado.


“Nanya kabarnya nanti saja, Saya butuh bantuan mu!” sahut Alfareado, ia bahkan enggan menyebut nya sebagai 'ayah'.


“B--bantuan apa, Ayah? Kalo Zoya mampu, Zoya bisa bantuin ayah tapi kalo berat ... maaf Zoya nggak bisa bantu!” tutur Zoya, Alfareado menghela nafas panjang nya.


“Ini cukup mudah. Tolong, bujuk Tuan Muda Marcel untuk membuat perusahaan ayah kembali pada masa kejayaan nya!”


“Hm, Zoya akan berusaha, Ayah.” sahut Zoya diseberang sana dengan suara lirih.


“Baiklah, kalau sudah ada kabar, telfon Saya!”


Tutt


Tutt


Alfareado mematikan telfon itu secara sepihak, tidak ada niatan.

__ADS_1


__ADS_2