
“Hei, Gw itu seorang pengusaha muda yang sangat berwibawa dan perusahaan Papa Lo lagi ada proyek kerja sama dengan perusahaan Gw jadi Gw kesana untuk ngebahas itu!” sarkas pemuda itu, ia duduk di sofa yang sama seperti Marcel.
“Lalu itu bungkusan apa?”
“Ini makanan dari Nyokap Lo untuk Lo, katanya Lo harus bawa istri Lo untuk mengunjungi dia. Oh iya! Emang benar yah kalo Lo itu udah nikah, kok Gw gak di undang sih? Parah Lo, masa Tuan Muda Leonard yang sangat terkenal ini tidak di undang!” cerosos nya, ia memukul dada bidang nya beberapa kali.
Leonard Fernando Torres, seorang pemuda berdarah campuran London. Rambut hitam kecoklatan dan mata hitam kelam nya itu mampu membuat kaum hawa berteriak histeris ketika bertemu dengan nya. Ia adalah sahabat Marcel saat SMP dulu, dia juga mengenal Vanka. Leonard memiliki panggilan yang begitu banyak mulai dari, Tuan Leo, Nard, Leon sampai nama lengkap nya yaitu Leonard.
“Iya, Gw punya istri dan untuk tuh bekal, Gw gak bisa makan karena Gw udah kenyang!” sahut Marcel, ia menepuk-nepuk perutnya.
“Kenyang? Makan apaan Lo?”
Marcel terlihat diam saja, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Marcel kembali teringat dengan kejadian tadi malam.
Flashback on, tadi malam.
“Hanya Kak Hira yang bisa membuat kue caramel kesukaan ku!” gumam nya, ia mengangkat tangannya dan bersiap untuk membuang kue tersebut.
“Pergilah!”
Tapi tangan nya terhenti saat Marcel teringat dengan ucapan sang Kakak beberapa tahun yang lalu.
'Marcel, hargailah segala hal yang diberikan kepada mu! Terutama jika itu pemberian seorang wanita, hargai lah perasaan nya. Jika kau tidak menghargainya maka Kakak akan sangat sedih.'
“Hufh, baiklah. Aku akan memakannya demi mu, Kak.”
Marcel mengambil pisau yang berada dibalas dan mulai memotong kue tersebut. Tanpa Marcel sadari, ia tersenyum tipis saat satu suap kue mulai ia habiskan.
“Ini cukup enak.”
Kue itu tidak terlalu besar, ukurannya sedang. Marcel tak menyangka jika ia mampu menghabiskan kue karamel itu sendirian, ia mengelus perutnya itu.
“Kenyang banget. Terima kasih, Zoya.”
Flashback off.
__ADS_1
“Makan kue buatan istri Gw!” sahut Marcel santai, Leonard tampak tersenyum aneh.
Prok!
Prok!
Leonard menepuk tangannya sebanyak dua kali, Marcel mengerenyitkan dahinya heran.
“Kayak nya istri Lo jago banget masak yah? Sampai-sampai Lo makan kue buatan dia, habis?” Marcel mengangguk.
“Kalo gitu nih bekal mau diapain? Gw makan, yahhh?” saat Leonard ingin membuka bingkisan itu, Marcel segera menyambarnya dan pergi meninggalkan Leonard.
“Uhh, andai Gw punya istri. Nasib jomblo!”
13:30 WIB.
Serasa artis terkenal, Marvel terus dikerubungi oleh emak-emak yang ingin foto bersama. Marvel ingin menolak tapi ia tak enak hati, dengan terpaksa ia menuruti kemauan emak-emak itu.
Sementara Zoya dan Xien yang melihatnya hanya cekikikan, bagi mereka itu adalah hiburan yang dengan gratis.
“Marvel, bersenang-senang lah! Kami akan antri seblak dulu.” ucap Zoya seraya melambaikan tangan nya.
"Hufh, Aku akan mandi sebanyak 6 kali setelah ini." Batin Marvel, ia merasa sangat risih. Terutama saat bedak emak-emak itu menempel di bajunya, uhh merepotkan.
“Zoy, bodyguard mu lucu!” pekik Xien, daritadi keduanya tak berhenti tertawa.
Disela-sela pemotretan masal itu, tiba-tiba saja ponsel Marvel berdering. Marvel meminta agar ibu-ibu itu untuk menepi sejenak, Marvel tau jika Marcel yang menelpon nya.
“Hallo Tuan Muda.”
“Dimana Kau, kenapa berisik sekali?”
“Di jalan, Nyonya Muda berserta teman nya ingin membeli makanan di pedagang kaki lima, Tuan Muda.”
“Bod0h! Kenapa kau izinkan dia, hah? Bawa dia pulang, secepatnya!”
__ADS_1
“B--baik, Tuan Muda!”
Telfon dimatikan sepihak oleh Marcel , buru-buru Marvel menghampiri Zoya dan Xien yang tengah menyantap seblak pedas.
“Nyonya Muda, Tuan Muda meminta Anda untuk segera pulang!” bisik Marvel, raut wajah sedih mulai ditunjukkan Zoya. Baru saja ia ingin bersenang-senang dengan Xien tapi Marcel selalu saja membuat ini menjadi susah.
“Baiklah, Xien Maaf! Aku harus segera pulang karena suami ku mencari ku, lain kali saja yah kita bersenang-senang? Maaf!” pekik Zoya, ia sedikit merasa bersalah dengan Xien. Xien mengangguk pelan, senyum tipis terus terbit diwajah damainya itu.
“Apa Tuan Muda akan m4ti jika Saya tinggal sebentar saja, hah?” Zoya melemparkan ranselnya disofa, ia menatap nyalang Marcel seraya bersedekap dada.
“Sudah berani untuk melawan?”
“Tentu saja! Kenapa tidak, sejak kapan saya menjadi penakut?” hardik Zoya, ia menunjuk-nunjuk Marcel yang tengah duduk di sofa.
“Apa kau tidak mengerti kesalahan mu, gadis pembangkang?” gumam Marcel, pemuda itu terus fokus pada berkas-berkas yang sempat diberikan Marvel. Jangan tanya Marvel kemana, sehabis mengantarkan Zoya ke Masion Marcel, ia segera pulang kerumahnya untuk mandi.
“Memangnya apa kesalahan ku?”
“Kau sudah keluar rumah tanpa sepengetahuan dan izin ku, dan sekarang kau malah membentak ku? Seharus nya Kau itu menghargai ku, bukan?” Marcel berdiri dari tempat duduknya, ia menatap datar gadis yang berusia 20 tahun itu.
“Untuk apa Aku meminta izin dari mu? Tidak perlu, Aku itu bisa pergi ketempat yang ku mau. Dan Tuan Muda bilang untuk Saya agar menghargai Anda? Sementara Anda saja tidak pernah menghargai Saya, bahkan kue yang sudah Saya buat dengan susah payah untuk Tuan Muda. Tapi apa? Tuan Muda justru membanting kue nya dan meremas kertas yang kutulis!” lirih Zoya, ia menundukkan kepalanya agar Marcel tidak melihat air matanya.
“Saya tidak pernah meminta mu untuk membuatkan kue itu kan? Lalu kenapa kau membuatkan nya?”
Andai saja Zoya tau jika sebenarnya Marcel memakan kue tersebut, dan menyuruh Marvel untuk membelikan kue karamel yang sama di toko kue, lalu membanting nya agar kelihatan seperti Marcel yang membanting kue buatan Zoya.
“Ya, Aku harus nya tidak berharap apa pun pada Anda. Kisah ku dan Tuan Muda bukanlah kisah cinta seperti yang ada di novel-novel, itu hanya lah dongeng belaka. Seharusnya Saya sadar, jika sedari awal kita memang bukan lah pasangan yang serasi. Nama 'Nyonya Muda' yang ada di diriku hanya lah gelar semata, jika Tuan Muda membenci ku maka lenyap kan saja Aku. Aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku tanpa ada larangan dari siapa pun!”
Zoya mengeluarkan unek-unek yang selama ini ada di otak dan juga hatinya, Zoya sedikit lega karena sudah bisa mengeluarkan itu semua. Ia sudah tidak tahan jika harus bungkam selamanya.
Dengan rasa kecewa, Zoya berjalan melewati Marcel dan dengan sengaja menabrak bahu kanan Marcel.
Entah kenapa, hati Marcel sedikit sakit saat melihat dan menderita tangisan Zoya yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“Apa Aku salah?”
__ADS_1