Isteri Cantik Tuan Muda

Isteri Cantik Tuan Muda
Bab 21


__ADS_3

Kaos hitam polos serta rok hitam kotak-kotak pendek diatas lutut, itulah oufit yang Zoya gunakan sekarang untuk berjalan-jalan.


Ia menipu beberapa bodyguard tadi dengan mengatakan kalau dia ingin membeli pembalut dan mereka tidak boleh mengikuti nya, alhasil Zoya berhasil kabur melalui jalan lain.


Plastik kresek yang penuh dengan seblak, cilok, bakso bakar dan lain-lain, ia tenteng dengan senyum lebar diwajahnya itu. Ia bernyanyi sembari menelusuri jalan yang sepi itu.


Zoya berhenti saat melihat pondok yang beberapa meter cukup jauh dari dirinya, ada beberapa laki-laki pemabuk disana. Zoya menarik nafas dan menghembuskan nya kembali sembari mengepalkan tangannya.


Dengan menundukkan kepala serta berjalan sedikit cepat, Zoya hampir berhasil melewati pondok pemabuk itu. Tapi seorang pria berambut gondrong justru menghampiri Zoya dengan botol mir4s yang ia bawa.


“Hai adik cantik, mau kemana sih? Buru-buru amat!” tanya nya, ia mendekati Zoya dengan cara jalan yang linglung.


“M--mau pulang!”


“Udah disini dulu, main sama kita-kita!” pria gondrong tadi langsung menarik Zoya membuat gadis itu memberontak.


BUGHH!


Dengan kekuatan yang terkumpul, Zoya menendang masa depan pria berambut gondrong itu. Ia berlari dengan cepat sembari menenteng plastik kresek jajan nya, ia berharap Marcel ada disini untuk menolongnya.


Brukk!


“Batu si4lan!” maki Zoya saat ia jatuh karena sebuah batu, ia memutuskan untuk tetap berlari walau lututnya lecet.


“Mau kemana sih, cantik?”


Tanpa Zoya sadari, dibelakang nya sudah ada satu pria dari sekumpulan pemabuk tadi. Entah bagaimana caranya agar Zoya bisa kabur dari sana, kedua teman nya mulai menyusul dan menghampiri Zoya.


“Jual mahal banget sih Lo? Yuk sikat abiss!” seru salah satu pria itu yang langsung menyudut kan Zoya pada salah satu pohon.


“L--lepasin!” berontak Zoya, saat salah satu pemuda pemabuk itu ingin m3nc1um nya.


“Syutt, tenang aja! Kami bakal main pelan-pelan kok!” ujar nya dengan senyum yang sulit diartikan.


DORR!


DORR!


DORR!


Tiga tembakan dilayangkan oleh seseorang, pandangan nya mulai berputar-putar saat dar4h dari beberapa pria itu mengenai kaos nya.


Brukk!


Detik itu juga, Zoya pingsan dengan bibir serta wajah yang pucat. Ia pasti akan sangat trauma setelah kejadian ini, belum lagi kemarahan Marcel yang akan ia hadapi.


Zoya tidak tau jika yang menembakkan tiga peluru tadi adalah Marcel sendiri dengan dua bodyguard disamping nya, kedua bodyguard tadi tidak berani untuk menggendong Zoya, takut jika Marcel akan marah.


Dengan mudah, Marcel menggendong gadis yang sudah bertambah berat badannya. Ia menatap tajam sekilas wajah pucat Zoya.


“Hukuman menanti mu, gadis pembangkang.”


18:00 WIB.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis ini? Jadi Saya bisa jelaskan keadaan nya!” seru dokter berjubah putih itu, ia tau jika Zoya adalah istri dari Marcel tapi dia tidak berani menyebut Zoya 'Nyonya Muda', takut Marcel marah.


“Hufh, dia hampir kehilangan mahkota nya.”


Dokter itu manggut-manggut. “Ya, dia mengalami trauma tapi Saya sudah menyuntikkan obat penenang namun ia bisa kembali mengingat kejadian itu, dan bisa-bisa akan sters. Maka dari itu, Anda harus sering-sering mengajak nya berkomunikasi agar pikiran nya tidak kosong!”


“Hm.”


“Hanya itu yang bisa Saya jelas kan, selebih nya itu tergantung bagaimana cara anda berkomunikasi dengan gadis ini untuk mengurangi trauma nya. Saya pamit!”


Setelah pintu kamar Marcel benar-benar tertutup, Zoya sadar dari pingsan nya dan merasa sakit dibagian kepala. Ia melihat sekeliling sembari menetralkan penghilatan nya.


“I--ini di rumah ...” gumam nya pelan saat melihat dinding yang sudah tak asing lagi baginya, ia menyerongkan pandangan nya dan melihat Marcel yang sedang duduk di sana.


“T--tuan Muda.”


“Gadis pembangkang!”


“Ma–”


“Apa? Kau ingin minta maaf? Sudah berapa kali Saya bilang, jika keluar itu bawa bodyguard dan jangan pergi jauh dari penjagaan bodyguard-bodyguard itu!” bentak Marcel, ia bahkan membanting handphone yang sempat ia mainkan tadi.


“Hikss ... m--maaf, Tuan Muda!”


Marcel menghembuskan nafas kasarnya. “Sudahlah, kejadian itu sudah terlewat. Makan saja bubur ini, dan minum obatnya!”


Zoya mengangguk, melihat Zoya yang kesulitan untuk memakan bubur itu, Marcel langsung menyambar mangkok itu dan menyendok kan bubur itu dan meniup nya agar tidak panas.


“Buka mulut mu!”


Tok!


Tok!


Cklek!


“Apa keadaan anda jauh lebih baik, Nyonya Muda?” Marvel tersenyum tipis dan menghampiri Zoya dengan nampan berisi kan buah dan juga jus.


“Keadaan saya sudah jauh lebih baik, Marvel. Ngomong-ngomong apa itu yang Kau bawa?” tanya Zoya seraya mendongak.


“Buah dan juga jus, Nyonya Muda.”


“Wahh, Kau sangat perhatian, Marvel! Terima kasih yah.” wajah pucat Zoya mendadak jadi sangat ceria saat Marvel membawa kan apel, anggur dan juga pear.


Semua itu tak luput dari perhatian Marcel, keduanya berani melakukan adegan romantis dihadapan nya.


“Marvel, keluar lah!”


Aura tak enak mulai Marvel rasakan dari Marcel, jelas betul jika pria itu tak suka dengan kehadiran nya, apalagi saat Zoya tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada nya.


Setelah bodyguard itu menutup pintu, Zoya menatap aneh Marcel yang kini memperlihatkan aura tak enak serta tatapan elang yang sangat tajam.


“Marvel sangat perhatian yahh, Tuan Muda?” tutur Zoya, ia meminum jus mangga yang di bawa Marvel.

__ADS_1


“Sepertinya Kau sangat menyukai Marvel.”


“Tentu saja, Saya menyukai nya. Dia itu tampan, cerdas, berwibawa, sopan, memiliki etika serta bertubuh kekar! Akhh, apa dia punya r0ti sobek di dada nya?” Zoya tersenyum smrik saat melihat ekspresi Marcel yang sangat marah.


Marcel melonggarkan dasinya nya dan perlahan-lahan membuka kancing kemejanya, Zoya terlihat panik dan panas dingin sekarang.


“T--tuan Muda? Apa yang Anda lakukan?” Zoya menutup matanya saat semua kancing kemeja pemuda itu terbuka.


Tubuh yang benar-benar menggoda iman semua kaum hawa, perut yang sixpack sehingga menimbulkan bentuk r0ti sobek itu benar-benar membuat Zoya tak berkutik sedikit pun.


Glek!


Marcel membuang jas nya asal, ia mengacak-acak rambut nya yang membuat pesona nya bertambah. Kalau begini, siapa yang tidak mau bersanding dengan nya.


“Jawab pertanyaan Saya. Saya atau Marvel yang paling tampan disini, tubuh Saya cukup atletis, bukan?” tanya Marcel serta menunjukkan perut kotak-kotak nya itu.


Zoya menganga saat mendengar pertanyaan aneh dari Marcel, jadi Marcel membuka kemejanya dan menunjukkan perut sixpack nya itu hanya untuk bertanya seperti itu.


“T--tuan Muda yang paling t--tampan!” sahut Zoya dengan gelagapan, ia benar-benar takut jika Marcel akan menyiksanya jika kalau dia menjawab Marvel yang paling tampan.


“Akhirnya Kau sadar juga!”


Marcel mengambil kemeja dan memakainya kembali, Zoya menghela nafas lega. Ia kira, Marcel akan meminta haknya sebagai suami.


“Tuan Muda, saya ingin bertanya sesuatu!”


“Tanyakan lah!”


“Ini ... t--tentang perusahaan Papa, Tuan Muda!” Zoya memejamkan matanya, takut jika Marcel akan marah kepadanya.


“Apa yang Alfareado minta!?” tanya Marcel raut wajahnya seketika datar.


“K--kata, Papa. Dia ingin agar Tuan Muda membantu kedua perusahaan nya yang telah bangkrut dan mengembalikan masa-masa kejayaan perusahaan tersebut.” jelas Zoya.


Marcel yang tadinya ingin membentak dan menghukum Zoya, pun mengurungkan niatnya saat melihat tangan gadis itu gemetar, Marcel mengelus surai hitam Zoya dan tersenyum tipis.


“Saya tidak akan marah.”


Deg!


Zoya mendongak kan kepalanya saat mendapat perlakuan seperti itu dari Marcel, terukir senyum tipis diwajah tampan nya itu. Ya Tuhan, Marcel benar-benar seperti Dewa Yunani jika tersenyum.


“Saya akan mengembalikan kedua perusahaan Alfareado, asalkan Kau bisa menuruti satu permintaan Saya!”


Zoya sedang membuat pilihan, ia berfikir jika Marcel mungkin akan meminta hak nya sebagai bayaran atas pengembalian dua perusahaan itu.


“Saya ... belum siap untuk melakukan nya, Tuan Muda!” cicit Zoya, pipinya memerah saat mengatakan itu.


Marcel terkekeh. “Siapa yang meminta mu untuk melakukan itu, permintaan Saya adalah ... Saya berharap kamu mau untuk Saya ajak ke rumah orang tua Saya!”


Zoya mengerenyitkan dahi nya. “Hm, sebagai apa?”


“Tentu saja sebagai istri.Ibu Saya meminta Saya untuk membawa kamu ke rumah, jadi apa kamu bersedia?” tanya Marcel sekali lagi.

__ADS_1


“Ya, baiklah. Tapi, Tuan Muda berjanji akan mengembalikan kejayaan pada kedua perusahaan Papa kan?” Zoya menatap lekat netra Marcel, pemuda itu mengangguk pelan.


“Saya akan membawa mu kesana, besok malam!”


__ADS_2