
“Ada apa!m?”
“Siapa gadis ini? Apa kau menyiksa nya, dasar tidak berguna! Marvel, cepat panggil dokter!” perintah Vanka dengan tegas.
“Marcel, kenapa kau diam saja!? Ayo cepat gendong gadis ini, kasihan sekali dia!” ujar Vanka menunjuk tubuh Zoya yang masih dibanjiri air.
Dengan malas, Marcel menggendong tubuh Zoya yang seringan kapas itu. Sekilas, Marcel melihat wajah cantik Zoya yang memucat lalu tersenyum smrik.
"Ini belum berakhir." batin nya
“Sudah keluar sana, Aku akan mengganti baju gadis ini!” sanggah Vanka setelah Marcel meletakkan tubuh Zoya disofa, jika dikasur maka seprai nya akan basah kan.
Marcel tak membalas ucapan Vanka, ia segera keluar menyusul Marvel yang sedang menelpon dokter andalan keluarga Pramuditya.
Setelah sepuluh menit menunggu, seorang Pria berkacamata dengan jas putih memasuki kamar Zevan. Vanka mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa keadaan Zoya.
Mereka menunggu cukup lama, Marcel nampak acuh dan lebih memilih untuk memainkan ponselnya, sementara Marvel dan Vanka tengah melihat pemeriksaan yang dilakukan dokter muda itu.
“Keadaan gadis ini baik-baik saja, tapi ia sedikit menggigil karena kedinginan dan dia juga belum makan seperti nya dari siang.” jelas sang Dokter.
__ADS_1
“Saya sudah menuliskan resep obat nya, dan juga jangan biarkan dia untuk kelelahan. Hanya itu dari Saya, bisa saya pamit!?” izin nya, Marcel dan Marvel mengangguk.
Marvel mengantarkan dokter itu untuk pulang setelah biaya pemeriksaan Zoya dibayar oleh Marcel, kini hanya tersisa Marcel dan juga Vanka yang tengah menunggu kesadaran Zoya.
“Jelaskan!” titah Vanka seraya bersedekap dada.
“Istri ku!”
Vanka mendelik mendengar nya, telinga nya terasa panas mendengar ucapan sahabat kecil nya itu, bukan karena cemburu tapi karena tidak menyangka jika Marcel akan melakukan hal kasar pada istri nya sendiri.
“Jika dia istri mu, kenapa kau menyiksa nya!?” tanya Vanka dengan nafas yang menggebu-gebu, sebagai wanita pasti Vanka bisa merasakan apa yang Zoya rasakan.
Vanka benar-benar kesal dengan sahutan dari Marcel, ia mulai mengepalkan tangannya. Ia memang tidak mengetahui jika Marcel telah menikah dengan Zoya, mungkin karena kemarin syuting di tempat yang cukup jauh dari Jakarta.
Tapi dia sangat marah jika Marcel tidak menganggap Zoya sebagai istrinya, dan hanya menganggap Zoya sebagai barang yang bisa ia perbuat sesuka hati nya.
“Jadi kau menganggap dia hanya barang?”
“Right.”
__ADS_1
-benar.
“You crazy, Marcel!”
-Kau gila, Marcel!
“I'am not crazy, but i think She no't my wife.”
-Aku tidak gila, tapi aku fikir dia bukan istriku.
“Ck, lelah berbicara dengan mu. Jika ini sampai terulang lagi, maka aku tidak akan tinggal diam, Van. Meskipun aku sahabat mu, bukan berarti aku akan membela mu disaat kau salah seperti ini!” ucap Vanka dengan tampang serius.
“Siapa nama gadis ini!?”
“Zoya Kianan Alexander.”
“Baiklah, aku sudah selesai dengan urusan ku jadi aku akan pergi. Ingat, jaga baik-baik istri mu jangan sampai dia terluka karena diri mu lagi, Van!” peringat Vanka, kemudian pergi meninggalkan Marcel yang kini menatap Zoya yang sedang terbaring lemah di king size bed nya.
“Kau tidak pantas untuk ku kasihani, aku menikahi mu karena keterpaksaan.” gumam Marcel, dia pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1