Isteri Cantik Tuan Muda

Isteri Cantik Tuan Muda
Bab 15


__ADS_3

Cklek!


Marcel membuka pintu kamarnya dan mendapati Zoya yang sedang membaca buku dengan headset bluetooth ditelinganya.


“Jangan pakai itu, nanti Kamu tuli!” ucap Macel, ia menarik headset bluetooth dari telinga kanan Zoya.


Dengan kasar, Zoya menutup bukunya dan menatap tajam Marcel. Dia melepas headset bluetooth dari telinga kirinya, dan berniat untuk keluar kamar.


Cekk!


Marcel segera mencegat nya, ia menarik tubuh Zoya hingga menempel di tembok. Berbeda dari sebelumnya, kepala Zoya tidak terasa sakit meskipun dibelakang nya ada tembok, itu karena Marcel melindungi kepala belakang.


Zoya memberanikan dirinya untuk menatap mata elang Marcel, mata hitam kelam yang mampu membuat Zoya untuk tenggelam disana.


Begitupula dengan Marcel, ia balik menatap istrinya itu. Entah kenapa, gejolak di hatinya membuat dia melakukan ini pada Zoya.


Dipikirin Marcel hanya tercetak nama balas dendam tapi ketahuilah, dihati Marcel tercetak nama kasih sayang. Marcel bukan lah orang yang kasar, ia berubah seperti ini sejak kematian Hirata Zavania Pramuditya, Kakak perempuan nya.


“Lepaskan!” titah Zoya dengan suara serak, ia berusaha untuk mendorong dada bidang Marcel tapi kenyataannya laki-laki jauh lebih kuat.


“Apa Kau menyayangi Saya, Zoya?”


Deg!


Jantung Zoya seraya ingin copot dari tempat nya, pertanyaan Marcel barusan membuat Zoya bulshing. Zoya menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupannya, ia tak tau harus menjawab apa.


“K--kenapa Anda bertanya seperti itu, Tuan Muda?”


“Jawab pertanyaan saya sebelumnya!”


“S--saya ... Saya tidak tau mengenai itu, Tuan Muda. Saat ini Saya belum merasakan apa pun dihati Saya, Tuan Muda.” sahut Zoya dengan nada pelan, Marcel terlihat menghela nafas kasar.


Marcel melepaskan kurungan nya, sesaat ia lihat mata hitam kelam Zoya. Marcel melonggarkan dasinya dan membuka jas nya, kini hanya kaos hitam dengan lengan sesiku yang membalut tubuh kekar nya.


“Kemari lah!” Marcel menepuk-nepuk kasur king size nya itu.


Dengan langkah yang gemetar, Zoya mendekati king size bed Marcel. Mulut Zoya komat-kamit untuk membaca doa keselamatan, ia menumpuhkan kedua tangannya didada.


Saat sudah sampai ditepi kasur, Marcel langsung menarik tangan gadis itu. Kini posisi Zoya sedang duduk dipaha Marcel dengan tangan Zoya yang tidak sengaja memegang dada bidang Marcel.


Marcel sedikit t3rangs4ng saat hembusan nafas Zoya menerpa kulit putih bagian leher dan dada bidang nya.


“M--maaf kan Saya, Tuan Muda!” saat Zoya ingin bangkit dari posisi itu, Marcel langsung merangkul pinggangnya.

__ADS_1


“Pipi mu memerah!” ucap Marcel setelah ia terkekeh sesaat.


Refleks Zoya langsung memegangi kedua pipi nya yang terasa panas, memang benar ia sedang menahan malu sekarang tapi ia sedang masa mode merajuk.


“Ck, Saya hanya sedang tidak enak badan!” elak Zoya cepat, ia memalingkan wajahnya.


“Kalau begitu, ayo kedokter untuk pemeriksaan suhu tubuh!” ajak Marcel, Zoya langsung mendelik.


“T--tidak perlu, Saya sudah agak sehat.”


“Zoya!”


Pada dasarnya Zoya adalah gadis pendek, jadi Zoya mendongak keatas demi melihat wajah Marcel. “Ada apa, Tuan Muda?”


“Saya minta maaf karena sudah menyakiti hati mu, Saya tipikal orang yang cenderung berbicara seperti itu! Jadi maaf kan Saya.”


Zoya melongo mendengar itu, sebenarnya hatinya tengah berbunga-bunga mendengar ucapan maaf dari Marcel.


Sesaat Zoya ragu untuk memaafkan Marcel tapi dari tatapan sendu Marcel, Zoya yakin jika ucapan Marcel barusan adalah ucapan maaf yang tulus.


“Saya hanya kecewa karena Tuan Muda dengan tega membuang kue buatan Saya.” lirih Zoya, hatinya kembali sakit jika mengingat kue yang ia buat susah payah lalu hancur begitu saja.


“Saya tidak menghancurkan atapun membuang nya, Zoya. Saya memakannya!”


“Jangan berbohong, Tuan Muda. Saya sendiri yang melihat kue karamel buatan Saya hancur di lantai itu, bahkan saya juga yang membersihkan nya!” tutur Zoya, ia menunjuk lantai yang dia maksud.


Tidak ada angin ataupun hujan, tangan Marcel terulur untuk menangkup kedua pipi chubby Zoya dan tersenyum tipis.


Zoya tertegun saat melihat senyum tipis yang terbit diwajah tampan Marcel, sangat tampan.


“Saya memakannya hingga habis, tak tersisa sedikit pun. Saya menyuruh Marvel untuk membelikan kue karamel yang sama di toko kue lalu Saya yang membanting kue tersebut, agar kelihatan seperti kue buatan mu yang Saya banting.” jelas Marcel. Ini untuk pertama kalinya kulkas 10 pintu itu mengatakan hal yang panjang lebar.


“Jadi Tuan Muda memakan nya hingga habis?” mata Zoya berkaca-kaca, Marcel mengangguk pelan.


“Kyaaa>


Tanpa Zoya sadari, ia langsung memeluk tubuh kekar Marcel. Tanpa alasan yang jelas, jantung Marcel berdegup kencang tapi Zoya tak menyadarinya.


Zoya melepaskan pelukan nya lalu menatap mata Marcel. “Lalu bagaimana rasanya, Tuan Muda? Apakah enak?”


“Tidak.”


Senyum lebar Zoya sontak luntur mendengar jawaban dari Marcel, tidak bisakah Marcel mengatakan iya demi membahagiakan istrinya? Dasar tidak peka.

__ADS_1


“Ohhh.”


Ekspresi wajah Zoya berubah seketika, yang tadinya ceria kini seperti awan yang mendung. Melihat Zoya yang diam saja membuat Marcel merasa bersalah.


“Saya hanya bercanda, Zoya. Kue buatan mu enak!” ujar Marcel, Zoya hanya diam tanpa tersenyum.


“Bercandanya Tuan Muda tidak lucu!”


14:00 WIB


“Oma, Aku dengar Marcel sudah menikah yahh? Kenapa Aku tidak diundang, Oma?”


Gadis dengan hodie coklat serta rok mini dengan warna senada tampak sedih ketika Oma dari Marcel mengangguk sebagai tanda dari pertanyaan nya tadi.


“Ya, Orang tua Marcel juga merestui hubungan mereka. Padahal Saya sangat tidak suka dengan gadis itu!” sanggah Oma Marcel.


“Istri Marcel cantik nggak Oma?”


“Oma hanya lihat difotonya saja, Marcel belum pernah mengajak kesini!”


Tatapan gadis itu tampak sendu, Marcel termasuk teman nya waktu kecil. Ia selalu memberi perhatian lebih pada Marcel sewaktu dulu, itu semua ia lakukan karena cintanya. Tapi saat SMA, ia harus pindah ke Yogyakarta dan itu membuatnya jauh dari Marcel.


“Saya berharap Kamu yang akan menjadi menantu keluarga Pramuditya, dan bukannya gadis itu!” ujar Oma.


“Kenapa Oma sangat mempercayai Saya untuk menjadi istri dari Marcel?” tanya gadis itu.


Oma tersenyum tipis. “Karena kamu gadis yang baik, cantik dan sangat berbakat. Kamu juga teman masa kecil Marcel, jadi Saya ingin kamu yang menjadi menantu keluarga Pramuditya.”


“Terima kasih telah mempercayai Saya, Oma. Tapi Saya nggak mau merebut Marcel dari istrinya itu, mungkin saja keduanya saling mencintai bukan?” tutur gadis itu, dia cukup waras.


“Mereka tidak saling mencintai, dan tidak akan pernah!”


“Kenapa Oma berbicara seperti itu?”


“Istri dari Marcel adalah anak dari orang yang telah membuat Hirata meninggal dunia dan Marcel menikahi gadis itu dengan tujuan balas dendam melalui gadis tersebut, jadi mereka menikah bukan dasar atas cinta tapi dendam. Jadi kamu masih memiliki kesempatan untuk menjadi istri Marcel dan menyandang gelar Nyonya Muda Pramuditya!” jelas Oma, ia menggenggam kedua tangan gadis itu.


“Bukan kah kamu juga sangat mencintai Marcel?” tanya Oma, ia menatap lekat mata coklat gadis itu.


Gadis itu mengangguk antusias, ia memang sangat mencintai Marcel sedari dulu. Dan ia akan terus maju untuk memasuki hati Marcel walau seribu satu rintangan menghadang nya.


“Ya! Saya sangat mencintai Marcel, Oma!”


“Kalau begitu, rebutlah Marcel dari gadis yang sudah membuat Hirata meninggal dunia itu!” pinta Oma Marcel, gadis tersenyum lebar dan mengangguk cepat.

__ADS_1


"Apa pun rintangan nya, Gw bakal tetep maju demi memperjuangkan cinta Gw ke Lo, Cel. Gw udah lama cinta dan suka sama Lo, walaupun Gw harus mempertaruhkan persahabatan bahkan nyawa Gw sekalipun, kalo itu demi Lo maka Gw bersedia melakukan nya!" Batin gadis itu, api cinta didalam dirinya mulai tumbuh.


__ADS_2