
Sementara itu, dikantor yang sempat Zoya datangin tadi sedang terjadi keributan antara Aurel dan juga Marcel.
Marcel bertanya tentang Zoya dan menunjukkan foto Zoya pada Aurel, dan dengan jujur Aurel menjawab seperti ini "Saya sudah mengusir gadis tidak berguna itu, Tuan Muda." Marcel sangat marah saat mendengar ucapan Aurel.
“A--ampun, Tuan Muda!”
Aurel bertekuk lutut saat Marcel mengatakan hendak mengusir serta memecat nya dari pekerjaan nya yang sekarang yaitu sekretaris Marcel.
Bugh!
Marcel tidak pernah kasihan, sekalipun kepada perempuan. Marcel menendang Aurel yang hendak berlutut padanya.
“Kemasi barang-barang mu, dan pergi dari sini!” suruh Marcel dengan nada beratnya.
“Tapi Tuan Muda ...”
“Pergi atau Saya seret?” Marcel bahkan menirukan perkataan Aurel kepada Zoya sebelumnya.
“B--baik, Tuan Muda!” Aurel segera pergi keruangan nya untuk mengemasi barang-barang yang ada diruangan nya tersebut.
“Dengar ini! Gadis itu adalah istri Saya, jadi jangan pernah menghina dan mengolok-olok nya atau hidup kalian yang akan jadi taruhan nya!” ancam Marcel, semua karyawan yang ada disana segera mengangguk.
Marcel membuka pintu kaca kantor itu, ia menatap air hujan yang turun dengan sangat deras. Setelah menghela nafas panjang nya, Marcel segera berlari untuk menemukan Zoya.
Sepuluh menit, pemuda tampan itu menyusuri setiap sisi jalanan dikantornya dan pada akhirnya ia menemukan seorang gadis cantik yang berselimut kan selimut tebal bergambar Doraemon.
Grepp!
“T--tuan Muda?”
Pipi Zoya bak seekor kepiting yang sudah direbus saat Marcel menggendong nya dengan mudah, raut wajah Marcel tampak cemas saat melihat wajah pucat dari Zoya.
“T--tuan Muda, tolong turunkan Saya! Saya bisa jalan sendiri kok, tidak perlu digendong begini!” pekiknya.
Marcel menatap lekat mata hitam kelam Zoya, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata gadis itu lalu tersenyum tipis. “Syutt, diam atau Saya lempar kamu?”
Bukannya tertegun, Zoya justru merinding mendengar ancaman Marcel barusan. Adegan sebelumnya emang romantis tapi ucapan terakhir bikin bulu kuduk merinding.
“Lihat apa Kamu? Cepat siap kan baju untuk istri Saya!” tegas Marcel saat salah satu karyawan menatap Zoya dengan tatapan tak suka.
“B--baik, Tuan Muda!”
Setelah sampai di ruangan nya, Marcel segera menurunkan Zoya dan menyuruh salah satu karyawan terbaiknya untuk mengantar Zoya kekamar mandi.
Setelah beberapa menit menunggu, Zoya masuk keruangan Marcel dengan sweater kuning cerah serta celana panjang biru panjang.
“Duduk lah!”
Zoya yang ingin mendaratkan bokongnya di sofa tiba-tiba mendapat tatapan serta aura tidak enak dari Marcel, Zoya mendengus sebal.
“Siapa yang menyuruh mu untuk duduk disana? Duduk disini!” titah Marcel, ia menepuk-nepuk pahanya.
__ADS_1
Glek!
Serasa batu krikil yang sulit untuk ditelan, Zoya perlahan mendekati Marcel dengan kaki yang bergetar dan keringat dingin yang mulai bercucuran didahinya.
Puk!
Setelah duduk dipaha Marcel, jantung Zoya kembali berdebar dan pipinya semakin memerah saat Marcel menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.
“Kondisikan detak jantungmu, aku tidak bisa fokus!” ucap Marcel, Zoya gelagapan. Bagaimana bisa Marcel mendengar kan detak jantung nya!? Akhh, malu><.
“M--maaf, Tuan Muda!”
Marcel terus berkutat pada laptop yang ada didepannya, sementara Zoya merasa bosan. Ia hanya bisa memainkan dasi Marcel, dia ingin mengambil handphone nya tapi Marcel tidak memperbolehkan nya.
“Tuan Muda, Saya bosan!” pekik Zoya.
Marcel menampilkan seringai aneh nya saat melihat bibir peach nya Zoya yang Zoya kerucut kan. “Kau ingin memainkan permainan yang seru?”
“Permainan apa?”
“Kiss me!”
Zoya memiringkan kepalanya, bisa dibilang jalan pikir Zoya agak lemot dan juga lumayan polos. “Permainan seperti apa itu, Tuan Muda? Saya belum pernah mendengar nya!”
Marcel tersenyum smrik dan menutup laptopnya. “Seperti ini!”
Cup!
Marcel menempel kan bibirnya dan bibir Zoya, gadis itu tampak terkejut dengan pipi yang terus memerah bak kepiting rebus.
Cklek!
“AKHH, A--ASTAGA!!”
BRAKK!!
“Vankaa!”
Gigi Marcel bergemelatuk saat Vanka membuka pintu ruangan nya tanpa ketok-ketok dulu, dan menutupnya dengan suara keras.
Zoya yang tertangkap basah sedang b3rc1Um4n dengan Marcel hanya menundukkan kepalanya karena malu, ini adalah first kiss nya.
“Kenapa Kau menunduk kan kepala mu?” tanya Marcel yang berahli menatap Zoya.
“H--hanya malu, Tuan Muda!”
“Memangnya kau tidak pernah melakukan nya saat bersama dengan mantan kekasih mu itu!m? Kau pasti sering melakukan nya kan?” tuding Marcel dengan nada bicara yang terlihat santai, sementara Zoya tampak sedang menahan emosi.
“Saya tidak semurah itu, Tuan Muda! Ini adalah first kiss Saya yang Tuan Muda rebut!” jawab Zoya dengan memukul dada kiri nya sebanyak dua kali.
Marcel terkekeh, ia sedikit senang karena ternyata itu adalah first kiss Zoya dan dia lah orang yang berhasil memiliki first kiss tersebut.
__ADS_1
“Tuan Muda, gadis yang tadi itu namanya Vanka yahh?” tanya Zoya yang mengganti topik pembicaraan.
“Ya.”
“Vanka, keluarlah! Jangan mengintip dibalik pintu!” ujar Marcel yang masih setia menatap Zoya, ia sudah tau jika Vanka masih mengintip ia dan juga Istri nya dibalik pintu.
“Hahaha, hai! Selamat sore!” sapanya dengan tawa garingnya, ia berharap jika Zoya mampu menyelamatkan nya dari tatapan elang Marcel.
“Hai, Kamu pasti Zoya, istri Marcel kan?”
Zoya menjabat tangan Vanka dan mengangguk. “Ya, dan kamu Vanka kan, Orang yang pernah nyelamatin aku tempo hari?”
“Yapss, Aku Vanka Larissa Raquel! Pahlawan yang membantu mu beberapa hari lalu, senang melihat mu Zoya!” balas Vanka seraya tersenyum ramah pada Zoya.
Vanka berahli menatap Marcel. “Kenapa Lo ngeliatin Gw kayak gitu!?”
“Ganggu!”
“Nyee-nyee!”
“Cepat katakan apa mau mu?”
“Hufh, dasar kulkas! Aku hanya ingin menyampaikan berkas kerja sama perusahaan mu dengan perusahaan Raquel, milik ku!”
“Ck, perusahaan kosmetik tidak berguna!”
“APA KATA MU?”
“Aku tidak tertarik, pergilah!”
“Ck, benar-benar menyebalkan!” Vanka menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Marcel dengan perasaan kesal.
Zoya menatap pemuda yang kembali fokus pada laptopnya itu. “Tuan Muda beneran gak mau kerjasama dengan perusahaan nya Vanka?”
“Nggak!”
Zoya cemberut. “Ihh, nggak boleh gitu! Terima aja tawaran nya dia, Tuan Muda. Sekalian bantu dia, Tuan Muda!”
“Ya, baiklah!” finish Marcel, Zoya tampak senang.
Dua jam berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 18:00 WIB. Zoya sudah tidak bisa menahan kantuk nya lagi, rasanya ia ingin tidur.
“Hoammm!”
Entah sudah berapa kali Zoya menguap, Marcel yang melihatnya pun merasa kasihan. Ia menghentikan aktivitas nya, dan menyingkirkan anak rambut Zoya.
“Kalo ngantuk, tidur!”
Narcel melepaskan jas coklat yang dia pakai untuk menyelimuti tubuh Zoya, Marcel juga memastikan AC karna cuaca pun sangat dingin hari ini, apalagi tadi habis hujan.
Tak lama setelah itu, terdengar dengkuran kecil dari Zoya. Bibir Marcel mengukir sebuah senyum tipis, ia mengecup pelan puncak rambut Zoya.
__ADS_1
Marcel merasakan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat ia memandangi wajah damai Zoya yang sedang tertidur.
“Apa Aku mulai menganggap nya?”