
Risih, itulah yang Zoya rasakan saat ini. Bukan karena pms ataupun berkeringat, Zoya risih sebab semua mata siswa-siswi itu memandang kearah nya dengan tatapan tidak suka dan terkejut.
"Nih kenapa lagi? Masalah Gw sama Zihan kah!m? Belum selesai apa?" Batin Zoya bertanya-tanya, ia memegangi kedua tali ransel nya erat dan berpura-pura tidak mendengar ocehan mereka.
Senyum lebar Zoya terbit saat kedua teman nya ada ditaman, Zoya segera berlari menghampiri kedua gadis itu.
“Haii!”
Zoya merasa aneh dengan kedua sahabatnya, satu tatapan nya seperti santai saja tapi yang kedua justru menatap nya tajam.
“K--kenapa kalian ngeliatin Gw kayak gitu?” tanya Zoya, kakinya terasa gemetar untuk berdiri saat melihat tatapan tajam Jennie.
“Lo istri dari Tuan Muda Pramuditya?”
Deg!
Wajah Zoya sontak menjadi pucat pasi saat Jennie bertanya hal tersebut, Jennie sudah lama tidak masuk sekolah karena menemani ibunya yang sedang sakit. Ia mendengar kabar dari Xien bahwa Zoya sudah menikah dengan seorang pemuda bernama 'Marcel'.
“K--kenapa Lo tanya gituan?”
“Ini!”
Mata Zoya membulat sempurna, keringat dingin mulai ia rasakan. Video yang ditunjukkan Jennie adalah video kebersamaan Zoya dan juga Marcel di Mall kemarin, yang tidak sengaja di diabadikan oleh YouTubers favorit siswa-siswi Universitas Nusantara.
"Mampus Gw! Duhhh gimana nih? Tapi untung deh Marvel nggak ada disini, secara kan tuh mulut jujur amat dan bisa-bisa keceplosan lagi!" Batin Zoya, ia sedikit lega sebab Marvel tidak ada disampingnya karena ada pekerjaan yang harus dia urus bersama Marcel.
“Jawab, Zoy!” sentak Jennie setelah menghentakkan kakinya.
Xien tersenyum tipis dan menepuk pundak Jennie. “Santai, Jen. Emang kenapa sih kalo seandainya Zoya beneran istri Tuan Muda Pramuditya? Seharusnya kita seneng donk!”
“Y--ya tapi kan ... Gw ngefans sama dia! Gw dandan cantik juga demi bisa kenalan sama dia, secara kan keluarga Gw deket sama keluarga Pramuditya!” ujarnya dengan pipi yang memerah.
“Jadi, suami Lo yang dimaksud Xien itu bukan Tuan Muda Pramuditya, kan?” tanya Jennie sekali lagi guna untuk memastikan.
“B--bukan kok! Suami Gw itu pemilik Cafe bukan Tuan Muda yang begituan!” sahut Zoya diakhiri dengan nyengir kuda nya.
Jennie mengusap dadanya berulang kali. “Gw kirain! Ya udah, yuk kita masuk kelas!”
"Maaf, Jeniee dan Xien! Gw terpaksa bohongin kalian" batin Zoya.
Untuk sekian kalinya, Zoya membohongi kedua temannya. Tapi ini tidak akan berlangsung lama, semua rahasia Zoya pasti akan terbongkar walau butuh waktu yang cukup lama.
Zoya meregangkan otot-otot nya yang terasa pegal itu, hari ini semua guru datang hingga semua murid-murid mencatat pelajaran yang begitu banyak, terutama kelas Zoya.
__ADS_1
“Akhh! Duhhh, pegel banget sih!” gerutu nya, ia memukul-mukuli bahunya.
“Kok sepi? Tuh robot sama tuh kulkas kemana?”
Ssttt, yang dimaksud robot oleh Zoya adalah Marvel sementara kulkas adalah Marcel. Zoya menuruni anak tangga dengan kaos oversize berwarna orange dan celana pendek berwarna hitam yang membalut tubuh pendek nya itu.
“Nyonya Muda! Kalo minum air itu dituang dulu di gelas, Nyonya Muda harus menjaga sikap Anda sebagai istri dari Tuan Muda Pramuditya.” nasehat Bibi Tua saat melihat Zoya yang minum sebotol air dingin dari kulkas.
“Hehe, maaf Bi. Saya nggak akan ngulangin lagi deh! Ngomong-ngomong, Tuan Muda masih kerja yah, Bi?” tanya Zoya setelah menutup pintu kulkas.
“Iya, Nyonya Muda. Kemungkinan Tuan Muda lembur, soalnya Tuan Marvel ada tugas rahasia yang diberikan Tuan Muda!” sahut Bibi Tua, Zoya manggut-manggut.
Dilubuk hati Zoya yang terdalam, ia ingin membuatkan makanan untuk Marcel tapi ia takut jika Marcel akan marah.
“Nyonya Muda ingin membuatkan makanan untuk Tuan Muda kan?”
“E--ehh?”
Zoya terkejut dan menggaruk pipi kanannya, bagaimana bisa Bibi Tua tau tentang pikiran nya? Seperti paranormal saja.
“Niatnya sih gitu, Bi! Tapi ...”
“Tuan Muda tadi berpesan pada Bibi, agar Nyonya Muda membawakan makanan serta barang-barang yang dibutuhkan Tuan Muda untuk lembur!” sahut Bibi Tua, Zoya menatap lekat wanita paruh baya itu.
“Kalau Nyonya Muda ingin membuatkan makanan untuk Tuan Muda, maka bukanlah udang bumbu asam manis! Itu kesukaan nya Tuan Muda, apakah Nyonya Muda ingin Saya bantu?” tawar Bibi Tua.
Senyum Zoya merekah dengan pipi yang sedikit memerah, apakah ini tanda lampu hijau untuk Zoya agar terus maju dalam meluluhkan hati Tuan Muda Pramuditya? Akhh, semoga saja.
“Tidak perlu, Bi! Biar Saya saja.” sahut Zoya, gadis itu mengambil celemek beserta spatula yang ia butuhkan.
Bibi Tua beserta pelayan yang lain sangat kagum melihat keahlian Zoya dalam memasak, tidak heran jika Zoya terpilih sebagai menantu dari keluarga Pramuditya.
“Uhhh, selesai!!”
Zoya menaiki anak tangga menuju kamarnya, beberapa menit kemudian Zoya kembali dengan ransel besar dipunggung nya.
Ransel itu berisikan selimut Doraemon, semprotan anti nyamuk, bantal leher bergambar Doraemon, dan baju ganti Marcel.
“Eh, tunggu! Siapa yang akan mengantarkan Saya, Bi!m?” tanya Zoya yang baru sadar jika tidak ada supir yang nganggur yang bisa mengantarkan nya, kan Marvel sedang pergi.
“Nyonya Muda bis–”
Zoya menempelkan jari telunjuk nya di mulut pelayan muda itu, dan tersenyum lebar. “Saya akan naik mobil sendiri!”
__ADS_1
Belum sempat Bibi Tuan mengucapkan kata-kata mutiaranya, Zoya lebih dulu pergi dengan ransel besar dipunggung nya itu. Ia bersenandung kecil menuju garasi, entah kenapa hatinya begitu bahagia.
“Semoga Tuan Muda suka dengan masakan ku!” harapnya dengan senyum tipis seraya berdoa, ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
16:00 WIB.
“Kece banget nih kantor!” gumam Zoya.
Tak henti-hentinya gadis itu memandangi tiap ukiran serta sisi-sisi ruangan dari perusahaan Pramuditya milik Zevan.
Zoya memakai gaun berwarna biru muda selutut dengan bahu yang terlihat, serta sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi berwarna biru, ditambah rambut terurai yang menambah kecantikan diwajah nya itu.
Zoya sebenarnya sangat risih dengan pakaian seperti itu, tapi ini adalah saran dari Bibi Tua. Katanya, Zoya harus tampil anggun dan memperlihatkan pesona dari Nyonya Muda Pramuditya.
“Maaf, Anda siapa yahh?” tanya seorang karyawan.
Zoya membaca kartu tanda pengenal yang dikalungkan di leher wanita itu. Aurel, seketaris.
“Maaf, Saya ingin bertemu dengan Tuan Muda Marcel!” sahut Zoya dengan sedikit tersenyum kikuk, sementara Aurel menatapnya dengan datar.
“Ada janjian?”
“Hem, nggak!”
“Kalau begitu silahkan pergi, Tuan Marcel tidak bisa diganggu!” perintah Aurel.
“Tapi–”
“Keluar, atau saya seret?” sentak Aurel, Zoya segera mengangguk takut dan berjalan keluar.
Tik!
Tik!
Zoya merasakan basah di puncuk rambutnya, ia mengangkat telapak tangan nya dan terlihat air hujan mulai jatuh ditangannya.
“Hujan?” gumam nya, ia melihat sekeliling untuk mencari tempat berteduh. Tidak ada halte, ataupun pondok untuk tempat berteduh.
Zoya mengeluarkan selimut yang tidak terlalu besar ukurannya dari ransel dan menggunakan sebagai tudung, semua orang langsung menertawakan nya tapi Zoya bodo amat.
“Uhhh, dingin! T--tapi kalo Tuan Muda nanti marahin Gw gara-gara Gw gak nganter bekal nya gimana? Duhh, serba salah deh Gw!” gerutu Zoya, ia berdiri di sebuah pohon yang tidak terlalu besar ukuran nya.
Sementara itu, dikantor yang sempat Zoya datangin tadi sedang terjadi keributan antara Aurel dan juga Marcel.
__ADS_1