
Meski masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sudah belajar bagaimana berjalan mencari sesuap nasi. Demi memenuhi tuntutan ekonomi dan biaya sekolah aku harus ikhlas masa kecil ku terlewati agar kami bisa menikmati Rahmat sang pencipta. Dengan harus aku bekerja keras mencari nafkah.
Saat di usia ku yang seharusnya masih terlelap akan mimpi di tidurku, aku harus bangun dan terjaga dari mimpi demi menyonsong sebuah impianku.
"Vita,ayo bangun adzan subuh sudah mulai berkumandang! " begitu sabarnya mama membangunkan aku yang masih terlelap dari rasa kantuk.
"Ya, ampun mah ini sudah jam berapa? aku harus cepat-cepat berangkat sebelum matahari terbit agar langgananku gak di rebut sama teman-teman! " terperanjat saat aku melihat arloji ku.
"Baru jam lima subuh, ya sudah sana mandi dulu! mamah sudah buat kan sarapan nasi goreng untuk anak mamah sarapan" sahut mamah seraya mencubit kecil hidungku.
Aku langsung cepat-cepat ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku. Setelah bersiap diri di depan cermin aku keluar dari kamarku untuk sarapan bersama.
Setelah ku isi perut ku sarapan yang di buat dengan tangan mama aku pamit tak lupa dengan kebiasaan ku mencium punggung tangan mama ku sambil minta restu dan doanya. Setelah mengucapkan salam aku bergegas pergi mengejar waktu agar langganan ku tak di rebut oleh teman-teman ku yang lain.
Setiap subuh aku berangkat untuk menjadi jasa Tri In One ( joki ) dari jam enam pagi hingga jam sepuluh siang.
menjadi jasa Tri In One terkadang kita berseteru seperti main kucing-kucingan agar tak tertangkap Sat Pol PP, karna di anggap merusak prmandangan , terkadang aku bingung kenapa di larang pemerintah untuk anak Joki sebagai penjual jasa sementara pemerintah yang menerapkan peraturan TRI IN ONE.
Sekian lama nya ku berkelut di dunia Tri In One kini usia ku sudah menginjak delapan tahun dan tentu sudah memakai seragam sekolah putih biru, meski aku hanya bisa masuk di sekolah Negri terfavorit no dua, tapi aku bangga karna prestasi ku walau pun tanpa bimbingan dan didikkan tangan seoran ayah.
"Mah... Vita berangkat dulu ya, doain vita ya mah, mudah-mudahan hari ini ada rejekinya untuk bayar hutang di warung. " ada rasa ragu yang menyelimuti gundahan di hati ku, tapi aku harus tetap semangat hanya karna lagi-lagi tuntutan ekonomi.
" Hati-hati di jalan nak... mama selalu doain tang terbaik untuk anak-anak mama! " ada rasa khawatir di raut wajah mama yang tidak muda lagi.
Tak lupa ku mencium punggung tangan mama yang sudah terlihat garis di sela-sela punggung tangannya. Entah mengapa ada firasat tak enak dari lubuk hati yang mengganggu fikiranku.
sesampainya aku di tempat yang biasa aku berdiri mencari dan menunggu hati dermawan yang bersedia memakai jasa ku untuk melengkapi kendaraannya motor beroda empat itu supaya mematuhi peraturan dan menghindari penilangan dari polisi.
belum juga ku dapati apa yang aku cari Razia gabungan sudah membuat kami kocar kacir mencari tempat perlindungan. Aku dan teman-teman ku panik hingga untuk mengambil langkah pun tak bisa.
Aku dan teman-teman ku terkepung hingga akhirnya kami tertangkap SAT POL PP yang bertugas.
Demi membebaskan aku dari tertangkapnya SAT POL PP mama terpaksa meminta surat keterangan dari pihak sekolah ku.
Aku akui sekolahku terbilang sekolah yang terpandang dan elit bahkan teman-teman sekolah ku rata-rata orang kaya dan terpandang , mungkin hanya aku seorang yang tergolong miskin dan tak punya apa-apa, tapi aku tak pernah merasa berkecil hati.
Aku terpaksa berhenti bersekolah karna tak lagi memiliki biaya untuk membayar SPP bualanan, untuk makan aja saat ini kami harus ngutang di warung.
Aku mulai bingung dengan ekonomi ku sekarang. Tak ada lagi pemasukan untuk sehari-harinya.
*AWAL KE HIDUPAN KU YANG KELAM *
Saat aku memutuskan tak lagi menjadi jasa TRI IN ONE ( joki) dan memutuskan untuk berhenti sekolah karna tak adanya biaya.
Aku di tawarkan seseorang untuk bekerja di sebuah warung remang-remang. Menjual minuman yang berakohol.
__ADS_1
Dengan keterpaksaan karna ekonomi aku terima tawaran kerja yang seharus nya belum waktu nya aku mengenal dunia malam.
Meski usia ku masih belia dan waktu nya ku berkelut di dunia malam, hanya satu yang ada di benakku dan fikiran ku. Bagaimana caranya agar aku bisa menghidupkan orang tua yang hanya semata wayang, karna usia mamaku sudah tak sanggup lagi untuk bekerja keras.
Setiap seminggu sekali aku pulang mengunjungi mama ku , karna memang keadaanlah yang tidak bisa memungkinkan aku harus pulang setiap hari.
"Vita... malam ini kan malam minggu jadi kita tutup warungnya jam tiga subuh ya, karna sudah pasti ramai malam ini vit, kalau hari biasa kita tutup jam dua pagi, biasalah vit kalau hari biasa agak sepi pengunjung. " penjelasan mba wiwin pemilik warung remang-remang itu, karna aku masih baru dan belum mengerti apa-apa soal dunia malam.
"Iya mba " jawab ku singkat menunjukan aku mengeti penjelasan pemilik warung remang-remang itu.
aku di tempatkan di mes untuk ku beristiraha melepas lelah dan rasa kantuk selepas bekerja semalaman di warung mba wiwin, supaya irit agar aku tak mengontrak rumah untuk melepaskan rasa lelah ku.
Hari sudah mulai sore, maka aku harus siap-siap bergegas untuk mandi dan membersihkan tubuh ku. Aroma sabun melekat di tubuh ku, segar sekali saat tubuh ini di guyur air. Lepas ku membersihkan tubuhku, tak lupa aku memakai pakaian yang seksi dan merias sedikit polesan bedak dan lisptik sedikit. Karna memang aku belum pandai bersolek merias wajah ku jadi dandanan ku ala kadarnya saja.
* SAAT PERTAMA MEMANDANG *
Jam sudah menunjukan jam delapan malam aku sudah tiba di warung mba wiwin, malam ini malah kedua ku bekerja di warung remang-remang itu dan ternyata sudah banyak pengunjung yang datang dan sudah ada beberapa meja yang membuka botol minuman berakohol sambil mendengarkan alunan musik dari tip rekorder.
Aku memperhatikan mereka di setiap meja, meski tak terlihat jelas tapi ada satu yang menyita mata ku untuk memandangnya, tanpa sadar dia memberikan ku sekilas senyumannya yang manis, aku membalas senyumannya.
Kami saling memandang tanpa ada aba-aba sedikitpun untuk saling mendekatkan diri. hingga tak lama dia menghampiri pemilik warung remang-remang itu.
"Mba, itu siapa? pegawai baru ya? kok saya gak di kenalin mba?" mba wiwin hanya sekilas memberikan senyuman sembari menggulung kaset dengan pulpen selayak mencari lagu kegemarannya.
"Ya mas, baru dua malam bekerja di sini" memberi jeda untuk melanjutakan kata-katanya. "Masih perawan asli tuh mas, jangan di senggol ya ntar melendung" guyonnya hingga terkekeh.
"Vita! sini! " lamunan ku terhenri saat mba wiwin teriak memanggilku.
"Iya mba" bergegas ku hampiri panggilan mba wiwin.
"Tolong antarkan botol-botol minuman ini ke meja yang di tengah ya, meja no enam. sambil kamu tanya mau ada yang di pesan lagi atau gak! " jelas mba wiwin sembari menyodorkan beberapa botol padaku.
Aku meraih dan membawa botol itu ke meja yang di tunjuk mba wiwin, jantung ku berdetub kencang saat kembali menatap sosok pria yang berhasil mencuri pandanganku.
* PERKENALAN KU DENGANNYA *
Salah satu dari mereka meraih tanganku agar aku mau duduk dan bergambhng pada mereka , hanya dengan sekali sentakkan aku terkejut hinnga tubuh ini terjatuh di dada bidang pria itu.
" Maaf " sekejab pipi ku merah Meron menahan malu karna dengan cepat tangannya meraih tubuh ku agar aku tak larut dalam jatuh.
" Nggak apa-apa kok " aku langsung melepaskan diri dan duduk di samping pria itu.
"Hmm... apa masih ada yang mau di pesan lagi mas? " tanya ku gugup ada rasa canggung berada di sampingnya. Aroma parfum menyerbak menusuk indra penciuman ku, merasakan sensasi kelakiannya.
"Sudah cukup segini saja dulu pesanannya, nanti kami pesan lagi jika waktu masih ada untuk kami minum"
__ADS_1
"Baiklah, aku permisi dulu" pamit ku untuk beranjak pergi dari mejanya. Sebenarnya mengangkat tubuh ini dari kursi, ingin rasanya aku berlama-lama di sampingnya.
Saat ku ingin berdiri meninggalkan kursiku, tanganku d raih seakan-akan tak di izinkan aku pergi.
"Di sini saja dulu temani aku ngobrol, kamu liat kan teman-teman ku asyik ngobrol d temani wanitanya masing-masing? masa kamu tega liat aku seperti kambing conge hanya menonton mereka bermesraan?" aku membatalkan niatku untuk pergi dari kursi ku dan menatap mereka yang asyik dengan dunianya sendiri. Hingga melupakan kami yang hanya bisa menelan ludah kami sendiri.
Aku mengangguk kecil bertanda setuju.
"Baiklah, hanya maaf mas kalau aku masih sedikit canggung"
Aku hanya tersenyum seraya memperhatin kan mereka yang mulai lupa tentang sekelilingnya karna terpengaruh dengan minuman alkohol membuat teman-teman ku selalu ingin di perhatikan dan di manja oleh pasangannya masing-masing.
"Kamu mau minum sesuatu dek? atau mau ikut minuman yang berakohol juga? " aku terkejut saat pria itu memberikan gelas kosong.
"Hmm... sebenarnya aku belum terbiasa minuman yang berakohol mas, tapi demi menghargai boleh aku coba!" jelas ku membuagnya mengerti.
* BARU KALI INI *
Awalnya aku merasa mual Karna aroma dan rasa minuman itu sangat-sangat lah tak bersahabat di lidah ku, aku heran! kenapa mereka rela menghamburkan uang banyak-banyak hanya demi minuman yang aroma dan rasanya tak sedap menusuk di hidung ku juga lidahku.
Demi menghargai mereka aku terpaksa belajar agar terbiasa. Agar tak tercium di hidungku karna aroma tak sedapnya.
"Hahaha.... ada-ada aja neng cara minumannya, belum terbiasa y neng? " mereka menganggap ini seperti lelucon. Dengan riang mereka tertawa.
"Nggak apa-apa neng, nanti juga terbiasa" salah satu teman ku membeikan jeda bicaranya. " Di sini harus terbiasa dan kuat minum! " jawab teman ku yang belum aku ketahui siapa namanya, karna nggak semua karyawan mba wiwin yang tinggal di mes.
"Siapa namamu dek? dari tadi kita ngobrol tapi belum juga berkenalan. " pria itu menyalurkan tangannya mengajakku bersalaman.
"Vita mas" jawab ku singkat menahan rasa mual di perut ku.
"Ohh... Arif... nama ku Arif" senyum dan tatapannya membuat ku gugup.
Baru kali ini aku merasakan detak jantung yang tak menentu saat ku sambut menjabat tangannya.
"Asli mana dek?" kembali pertanyaan mas Arif membuyarkan lamunanku.
"Jawa tengah mas... Hmmm... kalau mas Arif aslinya orng jawa juga ya mas? " aku mulai agak nyaman berbincang dengannya.
"Iya, kok kamu tau dek? " aku hanya tersenyum semriwah memandangnya.
Hari sudah hampir pagi kembali ku liruk jam di benda pipih yang tipis, ternyata sudah hampir jam dua pagi. Kepala ku sudah mulai agak pusing karna mabum, tapi aku tetap harus konsen.
"Maaf dek, boleh mas minta tolong ambilkan bil nya? !" aku agak sedikit mengangguk dan pamit untuk mengambil bilnya yang harus di bayar.
Setelah aku membayar kan jumlah bil yang tertera di kertas putih itu ke mba wiwin dan kembali ke kursi ku lagi, aku kembali di bangku ku.
__ADS_1
"Boleh aku minta nomor handpon mu dek? supaya kita bisa lebih leluasa berbincang lagi" seraya pria itu memberika benda pipih ke pada ku agar aku mengetik nomor handpon ku untuk menambah daftar kontaknya.
Setelah memberikan beberapa uang lembaran sebagai uang tip jasa teman ngobrolnya. Mas Arif pamit dan sekilah mencium pipiku. Aku terkejut tak percaya, mata ku lebar melotot seakan tak percaya akan tindakkannya yang membuat ku terkejut, karna memang selama hidup ku belum pernah tersentuh pipi ku oleh seorang pria selain mama ku.