
Tiba ku di rumah ibu ku, meski aku melarang mas Arif mengantar ku pulang, tapi dia tetap saja mengantar kan aku pulang hingga selamat di rumah ibu ku.
Terlihat senyum ibu ku yang sudah menanti kedatangan kami terutama cucu pertamanya yang baru saja lahir.
"Cucu nenek... sini di grndong sama nenek ya nak... " senyum nya yang mengembang di antara belahan yang keriputnya.
Senyum yang sudah lama sekali aku rindukan karna selalu saja ibu ku larut dalam kesedihan dan air mata.
Kini senyum itu krmbali ku lihat dan kembali membuat mata ku sejuk bila memandang nya.
"Apa kalian sudah makan? mamah masak makanan ke sukaan kalian, makanlah dulu biar putri kalian mamah yang gendong dulu. " aku hanya mengangguk tanpa menoleh lagi ke mas Arif.
Ternyata pria itu mengekor ku dari belakang dan duduk di samping ku, meski sikap ku yang tak lg memperdulikan kehadirannya tapi tetap saja mas Arif mencari perhatian agar aku melayani nya makan seperti biasa nya.
Ku tatap piring kosong yang mas Arif sodor kan pada ku dan dengan tanpa ada rasa bersalah nya dia menatap ku dengan senyumannya.
Aku meraih piring kosong itu dan memberikan nasi serta beberapa lauk yang selalu dia sukai tanpa ada senyum ku dan sepatah kata pun dari ku.
Diam adalah hal yang tepat untuk ku saat ini mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan ku terhadap sikap nya pada ku.
Usai makan aku menuju kamar untuk beristirahat meski jalan ku masih saja terasa ngilu dan nyeri paskah melahir kan tapi aku bertahan seolah semuanya baik-baik saja.
Tanpa di minta mas Arif memapah ku hingga berada di ranjang ku, penolakan ku pun untuk bersentuh tak di hirau kan oleh nya dan tetap saja membantu ku hingga di ranjang empuk ku.
"Trima kasih sudah membantu ku untuk ke sini, dan setelah ini tolong tinggal kan aku. " aku membuang wajah ku dan menatap ke arah lain karna tak mau lagi menatap nya.
"Jangan bilang seperti itu apa lagi bersikap kaya gini, karna semua ini sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai suami. "
Mas Arif mencium kening ku lalu pergi ke ruang tengah untuk melihat bayi dan ibu mertua nya.
__ADS_1
Kini tinggal aku yang menangis dalam kesendirian di kamar. kalau saja aku tidak habis melahirkan aku akan bertindak rasa berontaknya karna tidak sama sekali aku sukai dan aku harap kan atas kebodohan suami ku.
ooooeeeeee.... ooooeeee.....
Terdengar keras suara putri ku yang menangis membuat lamunan ku seketika buyar dan cemas akan tangisan putri ku.
Mas Arif datang dengan menggendong bayi ku dan menyerah kannya padaku. "mungkin dia haus dek, sebaiknya kamu susui dulu anak kita. "
Aku memangku putri ku hendak memberikan ASI untuk nya, tapi ku tahan karna mata mas Arif terus saja memandang ku dengan nanar.
"Bisa kah kau keluar dahulu mas? aku mau memberi ASI untuk putri ku. " mas Arif hanya melotot terasa heran karna sikap ku sekarang.
"Kenapa? aku ini suami mu kenapa kamu harus mengusir ku dari kamar saat memberikan ASI untuk anak kita, toh aku sudah sering melihat bahkan menyentuh apa yang ada di diri mu bukan? "
Rasa nya muak mendengar kata SUAMI dan ANAK KITA. padahal sewaktu di rumah sakit jelas sekali oria itu meragukan anak yang baru saja ku lahir kan.
"Baiklah jika kau tak mau keluar dari kamar ku, sebaik nya arah kan pandangan ke sisi yang lain mas. "
Aku tak lagi memperdulikan keberadaan pria itu, yang terpenting sekarang adalah putri ku yang kini menjadi penyemangat hidup ku.
"Maafkan mamah nak, jika terntata hidup mu belum beruntung. tumbuh hanta akan menerima kasih sayang mamah mu."
"Gak baik dek bicara seperti itu pada putri kita yang belum tau apa-apa. "
"Berhenti lah berpura-pura mengakui ini putri mu mas bukankah kau sendiri yang meragukan bayi yang ku kandung hingga kau tak perduli dengan keadaan ku bukan?! "
"Kalau aku gak perduli untuk aoa aku datang ke rumah sakit dek? "
"Kalau memang kamu perduli mas, untuk aoa kamu lebih memilih datang ke wanita lain ketimbang aku yang mengharapkan kamu pulang mas?! "
__ADS_1
"Sudah lah dek, aku gak ngerti aoa maksud dari ucapan mu itu, yang jelas sekarang kamu istirahat dek karna sepertinya kamu lelah. "
Mas Arif berbaring di sisi temoat tidur dengan posisi tidur miring dan mebelakangi ku dengan punggung nya.
Aku berusaha sabar dan kuat saat rumah tangga ku yang di dera badai menghadang. setiap rumah tangga selalu menuntut kejujuran dan keharmonisan, tapi kini tak lagi ku dapati dari suami ku.
Aku terjebak di antara dusta dan nista, aku terjebak di antara cinta dan benci. semua menjadi satu dalam benak ku.
Andai saja bisa ku putar kembali aku gk akan dan gk ingin berada di situasi seperti ini dan ingin rasa nya aku berlari dari kenyataan.
*
*
Tiga bulan sudah berlalu dan kini sudah semakin lincah putri ku. DEVRI DARMAWANGSAH nama putri kecil ku yang kini semakin lucu dengan senyumannya.
Waktu terus saja berjalan dan semakin ku rasakan sepi dan sunyi tak ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga ku
Pria yang dulu selalu ada untuk ku kini tak lagi ku rasakan kenyamanan dari nya, bahkan Mas Arif jarang sekali pulang hanya beberapa kali dalam satu minggu, itu pun hanya untuk memberi susu untuk putri kami.
Semakin sibuk dia dengan dunia nya hingga melupakan aku dan putri nya, tak pernah lagi ku menuntut atas hak nya anak ku tapi meski pun begitu dia tetap memberi kan keperluan untuk putri kami.
Aku semakin tersiksa dengan keadaan ku yang tak lagi tau arah nya mau kemana. hingga ada ke inginan ku kembali ke dunia ku yang dulu.
Awal mula mas Arif masih memberikan nafkah pada putri ku tapi setelah tiga bulan ke depannya tak lagi sama sekali memberikan nafkah untuk ku juga anakku.
Hingga terpaksa akhirnya aku kembali bekerja seperti dulu meski pun bukan di tempat mba Wiwin lagi.
Kini aku harus kembali bekerja di dunia malam di salah satu kafe batak daerah bekasi. walau pun kami di tuntut berpakaian sopan tetap saja orang memandang kami sebelah mata.
__ADS_1
"Maaf kan mamah nak yang kini harus kembali seperti dulu untuk memberikan kebutuhan mu dan nenek. " tangis ku dalam hati ingin ku menjerit malam ini.