ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* KEDATANGAN PRIA ITU DI RUMAH KU *


__ADS_3

"Siapa laki-laki yang sudah menodaimu Vita?" aku tak mampu menatap wajah ibuku, hanya menunduk dan menangis itu saja yang ku bisa, dan memohon ampun atas rasa kecewa ibuku.


"Tolong jawab mamah Vita! siapa yang sudah berani mengambil kesucianmu? " dengan erat kedua tangan mamah meremas lengan ku.


"Aaaauuu.... sakit mah, Vita minta maaf mah.... Mas Arif yang sudah.... "


tok... tok...


"Assalamualaikum.... " terdengar suara laki-laki yang tak asing buat ku. "Ya Tuhan... itu suara mas Arif, untuk apa dia datang di saat waktu yang tidak tepat seperti ini? " ucapan ku terhenti kala ibu menoleh ke arah pintu ruang tamu.


Aku mengintip di balik dinding kamar ku memastikan pemilik suara itu adalah benar laki-laki yang sudah menodai ku.


"Assalamualaikum bu...? " kembali mengucapkan salam saat melihat ibu ku keluar kamar dan menghampirinya.


"Walaikum salam... cari siapa nak? "


"Maaf mengganggu waktunya bu, saya mau bertemu dengan Vita bu"


"Ada perlu apa mau bertemu dengan anak ibu? kamu siapanya anak ibu? " dengan crpat aku segeran keluar dari persembunyian kamar ku.


"Dia teman Vita mah. " cepat ku jawab pertanyaan ibuku ku karna gugup dan ada rasa takut karna belum siap meberitahukan siapa laki-laki yang sudah ku serah kan kesucianku untuknya.


Mas Arif dan mama menoleh ke arah ku, dengat mengerutkan kedua alisnya mas Arif mengerti maksud apa tujuanku berbohong pada ibu ku tentang hubungan kami.


"Lalu... " belum selesai ibuku berbicara mas Arif menyela pembicaraan ibu ku.


"Maaf bu saya di suruh jemput Vita untuk kembali ke tempat kerjanya mba Wiwin bu. " tanpa komando mas Arif memiliki inisiatif tersindiri untuk membawa ku pergi dari rumah.


"Sekarang? " rasa tak percaya ibuku dengan penjelasannya mas Arif.


"Ya bu, karna sudah tiga hari kan bu Vita liburnya?" ibu ku masih tak percaya dengan kata-katanya mas Arif sebelum pria itu melanjutkan kata-katanya kembali.

__ADS_1


"Itu pun kalau memang Vita masih ada niatnya untuk bekerja bu. " sambungnya lagi.


"Ya saya masih mau mas bekerja lagi!" dengan cepat ku menjawab perkataan nya mas Arif agar tak mengulur waktu lagi.


"Sebentar ya saya siap-siap dulu mas. " mas Arif hanya mengangguk kecil dan tersenyum memainkan perannya dengan sungguh-sungguh.


Aku berlari kecil ke kamar ku dan membereskan barang-barang ku, sebenarnya hati tak tega meninggal kan ibu ku dengan segudang tanda tanya.


"Maaf aku mah... " lirih ku dalam hati menahan buliran air mata agar tak jatuh di kedua pipiku.


"Vita... mamah belum selesai bicara kenapa kamu dengan cepatnya mau pergi? " cegah ibuku yang masih dengan rasa penasarannya siapa laki-laki yang sudah menodai ku.


Ku raih kedua tangan ibuku dengan menatapnya secara sendu. " Maaahhh... Vita janji akan bicara siapa laki-laki itu, tapi tidak sekarang mah." tetap pandangan yang penuh dengan amarah dan tanya di mata ibuku.


"Vita harus kembali bekerja mah untuk mencukupi kehidupan kita mah... " air mata ibu ku kembali menetes dan memeluk tubuh ku dengan erat.


"Mamah gak mau kamu terjadi apa-apa nak... tolong bantu mamah agar tidak semakin larut dalam kebersalahan mamah dalam mendidik dan menjaga kamu nak. " aku mencium kening ibu ku yang kina sudah mulai terlihat lipatan di antara kulitnya yang sudah senja.


*


*


Mobil mas Arif melaju lambat karna terjebak macet di jalan, aku hanya menatap jalanan yang begitu membuat ku bising karna saat ini hati ku yang sedang kacau.


Tak banyak bicara kami saat ini, hanya sesekali mas Arif melirik dan menatap ku entah mungkin bingung harus dengan apa pria itu memecahkan kesunyian.


Tatapan ku yang kosong menatap tepi jalan yang setiap inci ku pandangi dengan pikiran dan hati yang tak menetu.


"Apa ibu mu sudah mengetahuinya dek?" ucapnya memecahkan kesunyian dan kembali membawa ku ke alam nyata dari lamunan ku.


Hanya anggukan kecil ku menatapnya dan kembali membalikkan tafapan ku ke tepi jalan yang memang agak sedikit macet.

__ADS_1


Mas Arid hanya tersenyum kecil melihat ku yang tak banyak bicara hanya selalu menatap pandangannya ke tepi jalan.


"Maaf kan aku dek. " lagi-lagi mas Arif mengucapkan yang membuat ku kembali menatapnya.


"Kenapa lagi-lagi kamu harus mengucapkan kata maaf mas? " diam ku sesaat menatap wajah laki-laki yang ku berikan kehormatanku.


"Kita sama-sama merasakannya, kita sama-sama yang berbuat dosa mas, kita sama-sama melakukannya. " kembali air mata ku yang mengucur deras.


Pria itu membalikkan kemudi mobilnya yang bukan jalan arah ke rumah mba Wiwin, melain kan jalan dimana tempat kami memadu kasih kala itu.


Aku tak menyadari kemana mas Arif membawa ku pergi dari rumah, saat mobil silver itu masuk ke pekarangan rumah penginapan yang di jaga oleh lelaki paruh baya itu barulah ku sadari dimana saat ini aku berada.


"Mas... kenapa kita harus kembali lagi ke tempat ini? ayo antar kan aku ke rumah mba Wiwin mas. " rengek ku saat ku tau mobil itu terparkir.


"Kamj jangan bekerja dulu malam ini dek, nanti aku yang bicara sama mba Wiwin agar dia tak khawatir dengan keadaanmu sekarang. "


Aku menuruti perkataan pria itu dan turun dari mobil silver itu untuk berjalan mengekor di belakang punggung laki,-laki itu.


Pak Yono penjaga penginapan itu lelaki paruh baya menyambut kedatangan kami lagi saat mengetahui mobil siapa yang terpakir di halaman penginapan itu.


"Wah... wah... rejeki nomplok neh ada mas Arif dateng siang-siang begini. " dengan senyumnya yang khas tersudut di antara bibirnya.


Mas Arif hanya membalas senyuman pria paruh baya itu sembari mengucapkan salam yang langsung di balas pria paruh baya itu dengan cepat.


"Ada kamar yang kosong gak pak? "


"Adalah kalau untuk mas Arif se, mari ikut bapak. " kami berjalan di sisi pak Yono yang sempat berhenti untuk mengambil handuk dan sabun kecil.


Samapai di depan pintu kamar yang pak Yono tunjukan untuk kami tempati. cepat pria itu membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan kami masuk ke kamar.


"Saya tinggal dulu ya mas, di depan gak ada orang lagi yang jaga. " pak Yono pamit untuk segera pergi ke depan pos penjaga.

__ADS_1


Sementara mas Arif langsung membersihan tubuhnya di kamar mandi, aku hanya menatap kaku seisi ruangan kamar itu dan memperhatikan karna berbeda kamar kala itu kami menginap di tempat ini.


__ADS_2