
"Tenang mah aku akan memberikan kebahagiaan untuk putri mu dan maaf saat ini hanya menikah secara agama saat ini yang bisa saya lakukan mah. " tak lupa pula mas Arif mencium punggung tangan paman nya yang menggantikan orang tua nya yang tak bisa hadir karna alasan tertentu.
Tak banyak yang hadir di acara sakral ku karna memang hanya beberapa kerabat dan saudara yang hadir di acara itu.
drrrrttt.... drrrttt....
Ponsel mas Arif bergetar segera dia merogoh saku nya untuk tahu siapa yang menghubunginya.
Di sela perbincangan kami untuk menerima sebuah nasehat-nasehat yang bijak untuk membina mahligai rumah tangga mas Arif mohon izin untuk menerima panggilan yang entah dari siapa hingga harus menjauh dari kami untuk mengangkat telfonnya.
Lama mas Arif berbincang di telfon,ada sedikit curiga siapa yang menghubungi nya hingga dia harus menjauh untuk menerima panggilan itu.
Tak lama mas Arif kembali datang dan menghambur melanjut kan berbincang dengan sesepuh, tanda tawa terdengar dengan renyah seakan hanya kebahagiaan kami yang terukir.
Tak bosan pria itu sesalu mencuri pandang menatap ku dengan sendu dan menggoda membuat pipi ku semakin memerah menahan malu.
"Kenapa pipi mu merah seperti tomat matang sayang? apa kau merasa malu saat ku tatap wajah mu nan cantik dek? " lagi-lagi ucapan nya membuat yang lain mendengar nya tergelak karna kini pria sah ku sedang menggoda ku.
Mata ku melotot seakan tak percaya pria itu mengatakan seakan tak ada orang lain di antara kami, lagi-lagi pria yang kini menjadi suami ku hanya tersenyum memandang ku.
Tak lama kerabat juga saudara izin pamit karna tak bisa lama-lama berada di kediaman orang tua ku karna alasan mereka yang berbeda.
Aku hanya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih karna dukungan mereka yang hadir sebagai saksi dan mendoa kan pernikahan kami.
Saat rumah mulai terlihat sepi mas Arif sibuk dengan ponsel nya dan mengetik membalas chat seseorang dengan antusias sehingga tak sadar ada aku yang menaruh kopi kesukaannya di atas meja.
"Kamu sedang membalas chat siapa mas,kok serius bangat. " tanya ku yang membuat nya sedikit terkejut hingga ponsel nya terjatuh.
__ADS_1
"Akkhh... kamu dek mengaget kan mas aja, sejak kapan kamu di sini dek kok mas barus sadar dah ada kamu. " jawab mas Arif dengan capat dia mengambil ponsel nya yang terjatuh karna terkejut keberadaan ku.
"Baru aja mas neh aku buat kan kopi kesukaan mu mas. "
Aku mengernyitkan dahi ku dengan heran dan langsung memberikan penjelasan tapi sedikit melirik ke ponsel mas Arif saat pria itu dengan cepat mengambil ponsel nya yang terjatuh.
Sekilas ku lihat ketikan chat nya untuk seseorang yang tertulis kata sayang di ketik terakhir nya membuat ku sedikit curiga tapi aku berusaha berfikir positif karna kami baru saja mengucapkan kalimat yang sakral di mata Agama.
Sebagai pengantin baru aku gak mau terlarut dari rasa curiga yang membuat momen bahagia menjadi berantakan.
Rasa yakin untuk kepercayaan suami ku tak lagi ku pikir kan untuk siapa dia mengirim pesan kata sayang di seberang sana.
"Apa hanya ada kopi aja sayang, cemilan nya mana? " mas Arif merengek seperti anak kecil yang mengingkan sesuatu
"Masih banyak kok makanan di belakang mas, sebentar aku ambil kan dulu ya. " aku beranjak dari kursi menuju dapur dan menyiapkan cemilan yang suami ku minta.
Hari ini dia libur ngantor nya kami menghabis kan waktu bersama untuk sekedar meluap kan rasa romantis sebagai pasangan suami istri.
Dari menonton tv dan sekedar jalan-jalan mencari makanan di luar. bahkan tak hanya aku yang di ajaknya untuk sekedar jalan-jalan ibu ku pun selalu di ajak nya untuk menikmati dunia luar selain tempat kami berteduh.
*
*
Hari sudah semakin petang rasa kantuk ku selalu saja menghantui ku apa lagi pada saat hamil muda selalu saja ingin tidur dan bermimpi di kasur yang empuk.
Ingin ku ajak suami ku agar kami bisa tidur siang bersama, namum lagi-lagi aku melihat mas Arif yang begitu antusias memandang layar ponsel nya dengan jari yang selalu menari di benda pipih itu.
__ADS_1
Aku merundung kesal seakan tak di butuh kan oleh lelaki itu, rasa nya cinta ku di dua kan karna benda pipih itu.
"Sedang membalas chat siapa ya dia? kok kaya nya serius banget sampe gak nyadar aku yang terus memperhatikan jarinya? apa tuh jari gak cape apa ya? " bathin ku terus saja menyimpan banyak tanya seakan ada rasa curiga yang terus mengelabui fikiran ku.
Mas Arif sekilas menatap ku, dengan cepat ku pejam kan mata ini agar pria itu tak tau kalau sedari tadi aku terus memandang nya dengan aneh.
Namun tak lama mas Arif memandang ku tatapan nya kembali fokus pada ponselnya, sedikit ku mulai kesal dengan sikap nya hingga membuat ku benar-benar tertidur pulas.
tok... tok...
Pintu kamar ada yang mengetuk dan aku yakin itu pasti ibu ku, karna kami tinggal di rumah ibu ku, bukan karna tak mampu untuk menyewa tempat tinggal hanya saja aku gak mau meninggalkan ibu ku seorang diri di saat usia nya yang sudah di bilang seperti sesepuh.
"Vita... kau tak makan dulu nak... kasian bayi mu kalau kamu gak makan nak. " ibu ku mengencang kan suara nya agar kami yang berada di dalam kamar bisa mendengar perkataan ibu ku.
Dengan malas mas Arif menyumpan kemabli ponsel nya ke dalam saku celana nya dan menghampiri pintu kamar ku untuk membukanya.
ceklaaakkk....
"Iya mah ada apa" mas Aris yang membuka kan pintu kamar ku dan bertanya pada ibu ku dengan kesopannya.
"Vota mana nak Arif? kenpa kalian gak keluar untuk makan siang. " ibu khawatir jika aku sakit jika tak makan padahal aku sudah banyak mengemil.
"iya mah,Vita nya lagi tidur mah, sebentar Arif bangun kan dulu Vita nya mah. "
" Ya sudah mama tunggu di meja makan ya, cepat kau bangun kan dulu putri ku,dia harus banyak makan agar bayi nya di dalam tak kekurang gizi nanti nya, " perintah ibu dan langsung pergi meninggal kan pintu kamar ku.
"Sayaaannnggg.... bangun dulu." jari mas Arif bermain lembut menyentuh pipi ku dengan halus membangun kan tidur ku.
__ADS_1
Padahal yang sesungguh nya aku hanya pura-pura tertidur kana ingin tau reaksi suami ku yang selalu mengumbar senyum sesaat di depan layar ponselnya.