ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* AKU GAGAL *


__ADS_3

Kepala ku bertsmbah pusing karna minuman yang mebuat ku semakin mabuk. tanpa sadar bibir kami mulai aktif mencari kesibukan satu sama lain.


Dalam keheningan malam dan karna terpengaruh alkohol kami melakukan hal yang sangatlah di larang dalam agama.


Hingga kesucian ku yang selama ini harus ku persembahkan untuk malam pengantin pada jodohku nanti telah hilang sudah.


Tak lagi memikirkan sebuah dosa dan noda, aku melewati di luar kendali ku dengan membiarkan dia menyentuh di setiap inci tubuhku.


Taku sadari apa itu sebuah pengorbanan atas dasar cintaku pada mas Arif atau hanya sebuah hasrat semata.


Dalam pengaruh alkohol tak lagi ku ingat akan kepercayaan ibuku yang telah ku khianati, nasehat ibu ku tak lagi ku pertimbangkan.


Sungguh kini tubuhku yang sudah kotor semakin kotor, tubuhku yang sudah hina semakin hina.


Derai air mata ku mengalir merasakan perih dan penyesalan... saat ku terngiang akan wajah ibu ku yang sudah berusia senja.


Mas Arif mencium keningku penuh dengan kemenangan tanpa ada rasa penyesalan karna telah merenggut kesucianku.


Air mataku pun tak lagi membuat nya merasa iba, hanya rasa bahagia tanpa dia tau aku mengutuk diri ku sendiri.


Pria itu kembali mencium kening bertanda trima kasihnya pada ku atas apa yang aku berikan untuknya, aku hanya mampu menangis dan membenamkan wajahku dalam pelukannya.


Tak sanggup bibir ini berbicara entah apa yang aku pikirkan saat ini, antara membencinya atau kah rasa cinta yang begitu mendalam.


Mataku mulai terserang rasa kantuk yang mendalam, kami tertidur dalam dinginnya ruangan ber AC


*


*


Waktu sudah menunjukkan tepat jam sebelas siang, cacing di perut ku kembali berdemo menuntut asupan gizi untuk di isi.


Aku terbangun dan tersadar bahwa di tubuhku sudah tak tertutupi lagi sehelai benang pun yang mampu menutupi ku dari hasrat para lelaki.


Aku terkejut saat ku sadari bahwa ada seseorang pria yang sedang terlelap akan tidurnya.

__ADS_1


Dari sadar ku,aku hanya mampu menangis menyesali apa yang sudah kami lakukan adalah dosa yang sangat besar.


"Oh... Tuhan... apa yang harus aku lakukan...?! apa yang harus aku katakan pada ibuku...? aku sudah gagal untuk mempertahankan kesucianku... maaf kan aku Tuhan... maafkan aku mah... " dalam dera tangis ku hingga tak ku sadari telah membangunkan tidur pria itu.


Dalam tangis ku mas Arif memelukku erat memohon maaf atas apa yang dia sudah lakukan terhadapku.


"Maafkan aku dek, aku janji akan bertanggung jawab dek!" tak ku perdulikan kata-katanya hanya mampu menyembunyikan wajah ku di balik kedua tangan ku.


"Aku janji akan bertanggung jawab ataa apa yang sudah aku lakukan." ujarnya memberi jeda perkataannya. "Jangan menangis lagi dek, tolong tatap mata ku dek jangan seperti ini. "


Aku membuka mata ku dan menatap wajah sendu pria yang sudah merenggut kesucianku dan memenuhi dosa pada tubuhku.


"Aku sudah semakin kotor mas, apa yang harus aku katakan pada ibuku mas...? aku gagal mempertahannya, aku sudah mengecewakan kepercayaan ibuku mas. " dalam isak tangis ku terus saja aku bicara menyesali perbuatanku.


"Aku mau pulang ke rumah ibuku mas. " tolong antarkan aku mas! " rengekku saat berada dalam pelukan pria itu yang hanya mengangguk kecil tanpa ucapannya.


"Aku bersihkan badan dulu dek, nanti kamu juga siap-siap terlebih dahulu ya kita cari makan dulu dan membelikan sedikit oleh-oleh untuk ibumu. " melepaskan pelukannya dan sembari melangkah ke kamar mandi.


Aku hanya mengangguk dan menatapnya punggungnya yang hilang di balik pintu kamar mandi. saat ku membuka sprei di ranjang aku terkejut saat menyentuh darah kesucianku yang masih basah.


Pintu kamar mandi terbuka lebar saat rubuh pria itu yang hanya terlilit handuk setengah terlanjang dan hanga meninggalkan dada bidang dengan sedikit tumbuh bulu halus yang terlihat.


"Dek, bersihakan dulu tubuhmu agar bersiap diri untuk keluar dari kamar ini. " sembari menyerahkan handuk untuk membungkus tubuhku yang hanya di tutupin sprei ranjang itu.


Aku hanya menatapanya kembali dan memberikan sedikit senyuman padanya tanpa berkata apa-pun padanya.


Usai ku membersihkan tubuhku dan sedikit berhias agar tak terlihat pucat saat mengunjungi ibuku nanti.


"Kita makan dulu ya dek biar gak lemes badan kamu dek. " saat ingin ku kembali berdiri baru terasa perih untuk berjalan karna gesekan di antara paha ku saat ku pakai celana jeans ku.


"Perih mas... " mas Arif hanya tersenyum menuntun ku dan memeluk kembali tubuh ku.


"Maaf kan aku dek.... " hanya itu yang bisa Pria itu katakan...


*

__ADS_1


*


Mobil silver itu melaju pelan mencari tempat restoran terdekat dari tempat kami menginap setelah kami pamit pada penjaga penginapan itu.


Saat mobil mas Arif menepi di sisi jalan mas Arif kembali mengajak ku turun untuk melangkah ke dalam restoran itu.


Kami duduk di tepi kolam ikan yang pelayan itu tunjukan bangku kosong untuk kami duduki.


Aku yang lebih banyak diam membuat mas Arif semakin bersalah atas apa yang sudah kami lakukan,.


"Dek mengapa sedari tadi tak ada ucapan dari bibirmu? " jemarinya menggenggam tangan ku erat menatap kedua mataku dengan tatapan ku yang kosong.


Hingga kembali jatuh bulih bening di antara kedua pipi ku. "Aku gak tau mas bagaimana memberikan penjelasan pada ibuku jika ibuku mengetahuinya perbuatanku mas? " aku tersedu dalam isak tangisku.


"Aku janji dek, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan." memberi jeda sebelum melanjutkan kata-katanya.


"ini semua terjadi di luar kendali kita, karna terpengaruh alkohol hingga terjadi seperti ini dek, mas janji akan bertanggung jawab. " lanjut kata-katanya memberi keyakinan pada ku.


"Mas... kalau aku sampai hamil gimana? kamu gak akan meninggalkan aku kan mas? kamu akan memenuhi janjimu itu kan mas? " berharap pria itu meyakinkan aku.


drrrrtttt.... drrrrttt....


Ponsel ku bergetar saat ada yang menghubungi ku. segera ku ambil benda pipih milikku dari dalam nakas, hingga terlihat nama seseorang di sana yang menghungiku.


Segera ku geser tombol hijau agar ku tau maksud mba Wiwin menghubungi ku. " Hallo vita kamu dimana sekarang? kenapa kamu gak pulang ke mes? " sederet pertanyaan mba Wiwin saat mendengar suaraku menjawab telfonnya.


"Maaf mba Wiwin,Vita gak pamit dulu semalam saat hendak pergi bersama mas Arif. sekarang Vita lagi makan dulu, mungkin usai makan vita mau ke rumah mamah dulu mba. " berusaha membuat mba Wiwin agar tak larut dalam cemasnya karna tak menemukan ku di mes.


"Kamu lagi sama mas Arif vita? " sontak ucapannya seperti tak percaya aku bersama mas Arif.


"Ya mba. " jawab ku singkat.


"Oh... ya sudah kamu baik-baik ya di sana Vita dan hati-hati di jalan samapaikan salam ku untuk ibumu Vita. " terdengar lega suara di seberang sama saat mendengar penjelasanku.


Sambungan telfon tertutup setelah mengucapkan salam, dan tak lama kemudian pesanan kami tiba untuk kami santap makanan di atas meja ini.

__ADS_1


__ADS_2