ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* MALAMPUN BERLALU *


__ADS_3

Banyak cerita yang sudah kami lewati di malam ini tawa dan canda selalu menghiasa perbincangan kami hingga tak ku sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan kami.


Tatapan itu sangat tajam selalu memandang ku sinis menampakkan tak sukanya kedekatan aku dan Mas Arif , saat ku lirik dia lansung membuangkan wajah nya ke samping menunjukkannya rasa tanyaman keberadaan ku.


Awalnya aku biasa saja dan tak memperdulikan tatapannya, entah mengapa lama-lama aku merasa risih pada pandangannya yang mengumbar aura kebencian.


"Hmmm... mas kayanya dari tadi mba Rina meperhatikan kita deh. " seraya ku tatap kembali wajah wanita itu di seberang meja kami.


"Gk usah di hiraukan dek, memang dia orangnya seperti itu tampangnya sama anak baru selalu menunjukkan wajah jutek nya. " berusaha mas Arif memberiku penjelasan agar aku tak merasa risih lagi.


"Mungkin mas, tapi jujur aku agak risih sma pandangannya mas kaya gak suka banget aku deket sama kamu. " ada rasa khawatir di hati ku melihat tatapannya yang begitu sinis kepada lu.


"Dek... kamu kalau tidur bangun jam berapa? " memberi jeda lalu melanjutkan kata-katanya pria itu. "Hmmm... bisa gak dek besok kamu bangun lebih awal? " aku hanya memberi senyum untuknya sebelum ku memberikan jawabnya.


"Emang nya kenapa mas? " ku balik tanya ingin sebuah kepastian dari kata-katanya.


"Besok mas mau ngajaka makan di luar dek, kamu mau kan dek? " aku yang sedang di mabuk akan ketampanannya hingga tak ku fikirkan tuk mengambil jawaban yang singkat.


"Mau mas" memberi jeda kembali. "Emangnya kita mau kemana mas? " meyakin kan aku rasa ingin tau ku.


Hari sudah semakin larut jam menunjukkan jam dua pagi segera ku bersihkan warung mba wiwin dan bersiap untuk pulang beristirahat.


*


*


Terjaga ku dari mimpi tidur ku hingga aku lupa akan janjiku dengan Mas Arif.


drrrrrrtttt.... drrrrtttt...


Posenl ku berbunyi segera ku raih benda pipih itu, terperanjat saat mengetahui siapa yang menghubungiku


"Astaga! Mas Arif! " tanpa berfikir panjang lagi aku menggeser tombol hijau. " HALLO... Mas... maaf aq lupa bnget mas ketiduran. " panik ku memukul kening ku.

__ADS_1


"Hehehe... gak apa-apa dek mas juga ngerti kamu pasti lelah sangat dek, ini baru jam delapan pagi. Hmmm.... sekitar jam sebelas siang nanti aku jemput kamu maka sekarang bersiaplah membersihan tubuh mu dek! " sahut pria itu dari seberang sana.


"Baiklah mas, aku siap-siap dulu ya. " anggukkan ku seakan mengerti pria yang di seberang sana.


*


*


Gelisah ku menanti di halte yang agak sepi. Menanti seseorang yang tengah membuat janji akan menjemputku di tempat ini, cemas sedikit demi sedikit ku lirik arloji ku hingga menunjukkan jam dua belas siang tak jua datang akan kehadirannya.


Tak lama mobil ada di hadapanku, aku merasa risih karna menghalangi pandanganku. Mobil itu tak jua beranjak pergi dari pandangan ku.


Tanpa ku sadari ada sepasang mata dari dalam mobil yang memperhatikan ku dan selalu menatapku dengan teduh. Aku hanya memasang wajah cemberut tanpa harus membalas tatapan di balik jendela mobil itu


Karna samar-samar kaca mobil itu berwarna gelap tak ku sadari siapa pemilik mobil berwarna silver itu.


Perlahan kaca mobil itu terbuka terpana ku melihat siapa yang duduk di kemudi mobil itu. saat ku sadari ternyata pria itu yang menaruh janji untuk menjemputku


"Kenapa hanga melamun dek? hayooo... cepet naik ke dalam mobil! aku tau kamu sudah lapar tentunya. " tanpa merasa bersalah dengan senyum dan tatapannya yang sendu.


Aku duduk tanpa menoleh lagi padanya, dengan cemberut ku hempaskan tubuh ini di kursi jok mobil itu.


Mas Arif sesekali melirikku dengan senyumnya yang rupawan, aku tetap saja memasang wajah cemberut karna janjinya tak tepat waktu hingga membuat ku harus lemas karna lapar.


"Kok cemberut aja se kamu dek? kita kan mau jalan-jalan dek jangan cemberut gitu dong. Coba kasih aku senyuman walau hanya sedikit saja. " ucapanya seraya menggodaku dengan senyumannya.


Aku tak menjawab atau pun memberikan keinginannya, tetap ku alihkan pandangan ku ke jalan yang agak macet.


"Hmmm.... kita mau jalan kemana dek? apa kamu mau makan dulu dek? " mas Arif tetap berusaha membuat ku bicara agar aku tak marah lagi.


Tetap saja tak menggrubis ku untuk bicara dan memilih bungkam dengan wajah yang cemberut.


"Kamu manis kalau lagi marah dek, aku semakin suka dan cinta melihatnya. " aku hanya meliriknya lalu membuang kembali pandangan ku ke sisi jalan.

__ADS_1


"Astaga! benarkah yang di katakan barusan? dia mencintai ku? " lirih ku dalam hati tak percaya dengan apa yang ku dengar.


mas Arif kembali melirik ku dengan senyum sembari menepiskan serir mobilnya ke samping jalan lalu berhenti.


Pria itu memandang ku dengan mata yang teduh. dan melepaskan sabuk pengamannya. Saat dia ingin mendekat kan ku, aku terperonjak dan menatap wajah tampannya tepat di wajah ku.


"Kamu mau ngapain mas? " bibir gemetar ada rasa malu dan tak tertahan saat kami saling pandang.


"Cuma mau memasang sabuk pengaman kamu aja dek biar menghindari penilangan polisi. " dengan senyumnya yang menjengkelkan seakan tak melakukan sebuah kesalahan.


"Huuuuffff.... " aku menghela nafas ku agak berat dan melirik ke arah Mas Arif. Lagi-lagi mas Arif hanya tersenyum melihat ku yang jadi salah tingkah.


kruuuuyyyykkkkk..... krrruuuuyyyykkkk....


Kembali ku dengar cacing di perutku berdemo berontak yang menginginkan sesuatu untuk di isi. Lagi-lagi mas Arif tersenyum melirikku.


Mata ku melotot ke hadanapannya menahan malu karna perut ku tak bisa di ajak kompromi.


"Sudah lapar ya dek? " ingin rasanya ku sentil itu bibir karna tak menyadari aku yang sedari tadi menahan lapar karna menunggunya di halte.


"Aku gak lapar, hanya saja..... " ku hentikan ucapanku karna menahan malu.


"Hayooo.... karna apa? kok gak di lanjutin kata-katanya? " Mas Aris lagi-lagi hanya tersenyum tipis menati kata-kataku selanjutnya.


"Ya karna sudah lapar banget mas, sedari tadi menunggu seseorang yang menaroh janji tadi malam! " jawab ketus agar dia merasala kesalahan.


Mas Arif mengerti dan mengangguk perlahan sambil melihat ekspresi yang ngambek Karna janjinya jam karet.


"Baiklah... kita cari terlebih dahulu tempat yang nyaman untuk menyantap makanan yang lezat. " berusaha untuk memujuk ku dalam ke adaan yang fokus mengendalikan setir mobilnya.


Saat kami tiba di sebuah lestoran yang terbilang cukup aman karna tak banyak pengunjung ke lestoran itu.


Pria itu membuka pintu mobil dan mengajak ku dari tempat ku hempaskan tubuh ini.aku turun dari mobil berwarna silver itu, ketika ku sedang mengamati sekitar restoran itu tiba-tiba Mas Arif menggemgam jemari ku.

__ADS_1


degg.....


__ADS_2