ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* DEMI CINTA *


__ADS_3

Setiap pasangan menginginkan sebuah bukti akan cintanya barharap kedepannya akan baik-baik saja demi cinta apa pun akan di lakukan.


Mas Arif menepikan mobil silvernya ke tempat parkiran. aku tak tau itu tempat apa, terlihat sebuah rumah yang sederhana tapi elegant.


"Ayo dek turun kita sudah sampai. " mas Arif meraih tanganku yang sejak tadi hanya bengong karna bingung tempat apa ini.


Aku menuruti ajakan mas Mas Arif untuk keluar dari mobil silvernya dan berjalan mengekor di belakang Mas Arif.


"Mas... ini rumah siapa? " tanya ku dengan heran.


"Hmmm.... ini rumahnya paman aku dek. " ucapannya yang membuat ku sedikit lega dan canggung.


"Wah ada orang lama baru nongol lagi neh, piye kabare mas ora pernah teka-teka se mas? " seseorang paruh baya yang baru saja keluar dari persembunyiannya langsung menyapa mas Arif.


"Alhamdulillah baik pak, bapak gmn kabarnya? makin terlihat gagah aja neh pak yono. " tangan mas Arif menyambut pak Yono.


"Alhamdulillah baik mas. "sekilas senyumnya laki-laki paruh baya itu ke aku. " Gimana mas mau pesen kamar neh mas? " lanjut pertanyaannya memberi jeda.


"Boleh pak Yono, ada yang kosong kah kamarnya pak untuk kami berdua? " lagi-lagi perkataan mas Arif membuat ku bingung.


"Ada mas, kebetulan tinggal satu kamar. sebentar ya saya ambilkan dulu kuncinya. " aku hanya mengamati pembeciraan mereka.


Tak berapa lama pria paruh baya itu keluar dari kamarnya sambil menggenggam handuk serta membawa kunci yang aku tidak mengerti apa pembicaraan mereka.


Tangan ku di genggam erat oleh jemari nya mas Arif sambil mengayunkan lsngkahnya mengekor di balik punggung pria payuh baya itu.


Sesampainya di sebuah pintu kamar pria payuh baya itu menghentikan langkahnya dan menoleh pada kami yang mengkuti langkahnya sedari tadi.


"Ini mas kamarnya paling pojok kan jadi gak ke ganggu orang lewat mau teriak kaya apaun. " pria payuh baya itu melirik ku seolah menggodaku.


Pak yono menyerahkan handuk dan sabun setelah itu pergi meninggalkan kami yang sudah duduk di sofa sejajar itu.

__ADS_1


Aku hanya bingung tak mengerti trmpat apa ini, mungkin aku terlihat polos karna memang belum pernah sama sekali menginjak tempat seperti ini.


"Sini dek duduk di samping aku.!" lamunan ku terjaga di kala ku mendengar ucapan mas Arif. aku hanya mengangguk kecil canggung dan gugup.


Dengan langkah perlahan aku mendekati posisi mas Arif yang duduk di tepi ranjang, keringat kecil mengganggu hawa panas meski dinginnya ac di ruangan.


Aku berjalan gontai dan duduk di sisi mas Arif. " Mas... sebenarnya inj rumah siapa? kok seperti penginapan ya mas? " tanya ku berhati-hati agar pria itu tak tersinggung.


"Ini rumah paman ku dek, kita nginap di sini dulu ya dek besok baru pulang setelah kita makan. " aku hanya mengangguk kecil dan menurut kata-katanya pria itu.


Begitu polosnya aku hingga aku tak pernah menaruh curiga apa pun pada pria yang aku cintai.


tok... tok... tok...


Mas Arif izin untuk membuka pintu,ternyata pak Yono yang mengetuk pintu dan menyodorkan dua gelas serta minuman favorit mas Arif.


Setelah mas Arif menerima yang di berikan pria paruh baya itu dan lalu menuangkan isi botol itu ke gelas kosong dan memberikannya pada ku.


"Mas ini minuman apa ya? rasanya manis tapi kok udah buat kepala ku pusing ya. " mas Arif hanya tersenyum dan menghampiri ku duduk di tepi ranjang.


Tanpa menjawab pertanyaan ku pria itu menatap ku dengan tatapan nya yang sendu, tanpa ku sadari bibirnya telah menyatu di bibir ku.


******* dan saling mencari lidah satu sama lain. tak hanya dia bermain di bibirku, tapi menyapu leher jenjang ku hingga berhenti di bagian gunung kembar yang tertutup bahan.


Aku hanya mampu menggigit kecil bibir bawahku, terasa ingin melayang saat merasakan rangsangan dari bubir pria itu.


mendesah dari bibir mungil ku karna hanya itu yang mampu aku lakukan untuk mengungkap rasa nikmat yang belum pernah aku rasakan dan aku mengerti.


Saat kedua tangan mas Arif hendak membuka pelindung gunung kembar ku, aku menahan tangannya seolah orotes untuk di hentikan permainannya.


"Kenapa dek? " terlihat kecewa di wajah pria itu memandang ku.

__ADS_1


"Maaf mas aku belum berani hingga sejauh ini mas. aku masih takut mas. " ucapan ku agar mas Arif tidak tersinggung oleh pencegahan ku.


Mas Arif hanya tersenyum dan menghetikan aksinya yang ingin mencumbuiku. " Dek gak usah takut, aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan dirimu. " berusaha meyakinkan aku agar kami melakukan ritual malam itu.


"Mas yakin dan serius akan bertanggung jawab jika kelak terjadi sesuatu pada diriku? " kemabali ku lontarkan pertanyaan karna belum sepenuh nya aku bisa percaya pada orang yang aku cintai.


"Aku janji dek!" mencoba meyakinkan aku dengan dua jarinya.


"T-tapi aku masih takut mas karna aku masih... " aku tertunduk malu untuk mengatakannya.


"Aku tau dek, tapi jika memang kamu mencintai aku dengan tulus aku hanya ingin kamu mau membuktikannya dan hanya aku seorang yang boleh menyentuhmu! " kembali mencoba meyakinkan aku dengan kata-kata yang membuat aku yakin akan ketulusan cintanya.


"A-apa akan terasa sakit mas? aku takut jika itu terjadi mas karna belum pernah aku melakukannya mas. " ada sedikit ngeri di hatiku untuk melakukannya.


Mas Arif hanya tersenyum memandangku. "Begitu polosnya kamu dek hingga terlihat gugup saat pengakuannya. " gumam ku dalam hati.


"Mas... " memberi jeda kata-kataku. "Maaf kalau kata-kataku menyinggung mu." jelas ucapanku karna takut pria yang aku cintai tersinggung oleh kata-kataku.


"Gak dek, aku gak tersinggung kok, hanya aja aku kagum padamu dek. " aku merengutkan kedua alis ku bertanda bingung dengan rasa kagum nya terhadap ku.


"Kagum mas? kagum kenapa? "


"Ya aku kagum padamu dek, meski kau bekerja di tempat hina tapi kau masih menjaga kesucianmu. " aku hanya tersenyum tertunduk malu akan ucapan yang mengaggumkan ku.


"Karna aku hanya ingin menyerahakan kesucian pada suami kelak nanti mas. " sesaat kembali ku pandang wajah yang membuat ku merasa nyaman ada di dekatnya.


Mas Arid hanya terdiam menahan hasratnya, terlihat di wajahnya ada rasa tak tega untuk menyentuh ku.


"Ok. kita istrahat saja dulu sambil mengahbiskan minuman ini dek!" tangan mas Arif meraih kepala ku agar tersender di dada bidang nya.


Aroma parfum yang membuat ku terbuai ingin selalu berada di dekatnya. sikap dan tatapannya yang begitu membuat ku terasa nyaman bila di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2