ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* SAH *


__ADS_3

"Mah... " saat ku pandang ibu yang menatap kosong di balik jendela kamarnya tak kuasa menahan air mata kekecewaan.


Merasakan kesalahan yang membuat bulir bening jatuh di relung wajah pias milik ibuku, dengan bergetar aku menyentuh bahu sang pemilik surga ku.


Ibu ku menoleh tatapannya begitu tajam padaku seakan bicara akan rasa kecewa juga sakit hati dengan dosa yang sudah aku perbuat.


"Maafkan Vita mah... "


Pelukan yang erat menjamah tubuh ku, dengan derai air mata tak mampu mengucapkan kata-kata lagi di bibir ibuku.


"Tidak nak... mamah yang seharus nya minta maaf karna tak bisa menjaga dan membimbing mu ke jalan yang benar. "


"Gak mah,... mamah sudah menjaga juga membimbing ku ke jalan yang seharusnya. Vita lah anak yang tak memegang janji dan kepercayaan yang sudah mamah berikan untuk Vita. "


Ku tatap wajah ibu ku yang sudah renta,dengan tatapan yang dalam seakan membaca guratan kecewa di garis wajah ibuku


"Maaahhh... istirahat lah, doa kan Vita yang terbaik mah. " hanya anggukan kecil yang di berikan pada ku lalu melangkah menuju ranjang nya yang sudah tua.


Aku membantu untuk membaring kan tubuhnya, dan menyelimuti agar selalu hangat tubuhnya yang kini mulai ringkih.


"Kalau perlu apa-apa mamah panggil Vita ya, jangan melakukan sendiri tanpa ada Vita. " tak ada ucapan dari ibu ku hanya memandang ku sesaat lalu memejam kan matanya.


Aku tak kuasa terlalu lama memandang wajah ibu ku, dengan derai air mata berlari menjauhi kamar ibu ku, mwnyesal hanya itu yang bisa aku rasakan sekarang.


Siapa pun tak kan pernah ingin melihat masa depan buah hatinya hancur, akan tetapi seperti apa pun keadaan anaknya seorang ibu tak kan pernah luput akan dosa serta kasih sayang nya yang tulus.


Meski tercoreng nama baiknya dan merasa gagal dalam mendidik buah hati nya, tetap akan selalu doa tulus yang terbaik untuk anak-anak nya meski sang anak terlalu mengecewakan.


Begitu pun ibu ku yan selalu senantiasa mendoa kan serta memberi kan kasih sayang yang tulus, dan tetap akan selalu menjadi pendukung di setiap langkah yang ku ambil.

__ADS_1


*


*


Dua hari sudah ku nanti kan janji mas Arif, untuk meminang ku meski hanya pernikahan sirih yang pria itu sanggup agar bayi ku tak di anggap sebelah mata keberadaanya kelak jika nanti dia lahir.


Tak banyak orang yang hadir di rumah ku, karna memang hanya beberapa keluarga saja yang turut menyaksikan pernikahan ku.


Aku di rias seadanya namun tetap tak memudar kan kecantikan ku.


"Seharusnya pernikahan mu di gelar secara besar Vita, bukan seperti ini. " lirih ku dalam hati. ada rasa tak percaya juga meski hanya pernikahan sirih pada akhir nya aku berumah tangga juga.


ceklaakk....


"Kamu sudah siap nak?" ibu ku datang membuyarkan lamunan ku membuyar kan lamunan ku yang sesaat.


"Kemana nak Arif? mengapa belum jua hadir memenuhi janji nya nak?" rasa cemas di wajah ibu ku seakan takut jika pria itu menginkari janji nya.


"Walaikumsalam... " sahut beberapa saudara juga penghulu dan menatap nara sumber suara tersebut.


"Mamah ke depan dulu ya nak, kamu bersiap lah dan jangan banyak melamun dalam ke sedihan kasihan bayi mu nanti. " aku hanya mengangguk dan tersenyum saat ibu ku melangkah kan kaki nya keluar dari kamar ku.


Mas Arif menghampiri ibu ku dan tak lupa pula mencium punggung ibu dan menyerah kan beberapa peper back yang dia bawa untuk buah tangan nya.


"Apa sudah siap di laksana kan acara nya?" sapa bapak penghulu pada ibu ku,


ibu ku hanya memberi kode untuk mengguk kecil dan kembali langkah nya menghampiri kamar ku untuk mengajak ku keluar dari kamar.


"Ayo nak... acara nya akan segera di mulai. " aku di tuntun ibu ku untuk keluar kamar dan duduk di depan nakas di sisi pria itu.

__ADS_1


"Meski mackup mu hanya sederhana tapi kau tetap selalu cantik dek. " tatapan pria itu tiada henti nya memandang ku hingga rona pipi ku merah menahan malu.


"Sudah siap? " lagi bapak penghulu menegas kan membuyar kan tatapan mas Arif hingga berganti menatap bapak penghulu.


"Sudah pak. "


"Baik lah kita mulai ya. " bapak penghulu mengajak mas Arif untuk menjabat tangan nya dan memberi isyarat agar tak ada ketegangan.


"Saudara Arif Prakoso." panggil pak penghulu


"Iya, saya pak. " jawab mas Arif dengan tegas.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ,Arif Prakoso Bin Sulaiman Abidin dengan mas kawin berupa emas seberat seratus tujuh puluh lima gram di bayar tunai.


"Saya terima nikah dan kawainnya Vita Dwira Putri Binti Qilfiyan Anggara dengan mas kawin berupa emas seberat seratus tujuh puluh lima di bayar tunai. "


Dengan lancarnya mas Arif mengucapkan ijab kobul nya tanda terbata dan kendala suatu apa pun dengan tegas dan lantang.


"Bagaimana saksi? SAH? " kemudian pak penghulu menanyakan para saksi untuk kesaksiannya sah atau tidaknya.


"SAH.... " para saksi menyatakan atas kesahan kami sebagai sepasang suami istri meski hanya pernikahan di atas kertas putih selembar tapi itu sudah cukup buat ku untuk melanjutkan suatu ikatan yang sakral.


"Allhamdulillah..... " pak penghulu serta yang lainnya mengucapkan rasa bersyukur serta mendoakan agar rumah tangga kami mawadah sakinah dan mendapat kan keturunan yang sholeh serta sholeha.


"Amin...... " aku mengucapkan syukur serta memenuhi kewajiban pertama sebagai sepasang suami istri setelah ku mencium punggung tangan suami ku dan kening ku di kecup sebagai tanda kami telah sah sebagai pasangan yang Halal di mata Agama.


Usai acara ijab kabul kami sungkeman meminta doa restu pada ibu ku,di karna kan orang tua mas Arif yang kata nya sudah tak ada jadi kami hanya sungkeman pada paman nya mas Arif hadir d acara sakral kami.


Ibu ku memeluk ku hingga erat seolah belum ikhlas melihat dan menyaksikan pernikahan ku yang belum sewajarnya di karna kan usia ku yang masih belia dan juga yang hanya menikah secara agama meski pun itu di nyatakan sah dan tak lagi berbuat zinah memberat dosa-dosa ku di dunia.

__ADS_1


Setelah selesai aq meminta maaf pada ibu tiba giliran mas Arif sungkeman mencium punggung tangan ibu ku dan memeluk tubuh ibu seakan berbisik sesuatu di telinga ibu ku lama sekali.


"Tolong jaga putri ku dengan baik, jangan membuat nya mrnderita karna sudah cukup air mata penderitaan yang dia alamai sejak ayah nya pergi. " ibu ku memberkati ucapan sebelum ibuku tertegun akan bisikan mas Arif.


__ADS_2