
"Gue gak tau apa yang mereka obrolin bastie... coz kan lu tau Vit musik segitu kenceng nya mana kedengaran meraka bicarain apa vit. " jelas sahabat kuyang membuat sedikit aku agak kecewa.
"Ya udah Cha maksi ya info nya. "
"Tapi yang gue perhatiin se mereka ngobrol nya biasa aja Vit, gak ada mesra-mesra nya, lu jangan khawatir kalau mereka seperti nya gak ada jalin hubungan yang serius kok. " aku hanya tersenyum mendengar penuturan sahabat ku di seberang sana.
"Bukan soal itu bastie, masalah nya ada yang fitnah gue dan sekarang mas Arif marah besar hingga meragukan anak gue yang lahir bukan darah daging nya. "
"Serius lu Vit? " suara sahabat ku yang terlalu keras karna terkejut mendengar penjelasan ku hingga membuat telinga ku agak sedikit sakit.
"Gila suara lu kenceng banget Cha kuping gue sampe sakit neh denger suara lu teriak. "
"Sorry Vit gue reflek denger nya, coba lu jelasin ke gue tentang fitnah itu siapa tau gue bisa bantu masalah lu. "
Aku menjelas kan dari awal sikap mas Arif yang berubah selama ke hamilan ku hingga paskah melahir dan terakhir soal foto yang membuat ku sakit karna tak ada kepercayaan lagi dari seorang suami.
"Gila tuh orang yang iseng gak guna banget coba bikin-bikin foto yang bikin rumah tangga lu ancur, lu tenang aja bastie gue pasti bakal cari tau siapa orang nya yang ada niat mau ngancurin rumah tangga lu sama mas Arif. "
"Makasi ya Cha dan tolongin gue Cha. gue gak tau harus gimana lagi buat buktiin soal kebenaran ini. gue berharap banget sama lu Cha. "
Aku hanya bisa mendengar suara yang selalu membuat ku tenang setiap hati ku di rundung gelisah. dia sahabat tapi seperti saudara buat ku.
ceklaaak...
Suara pintu kamar ku di buka oleh beberapa suster dan dokter kontrol yang akan memeriksa kondisi ku, maka dengan cepat ku akhiri pembicaraan ku dengan sahabat ku di ponsel.
"Selamat siang bu bagaimana keadaannya sekarang? apa sudah lebih baik dari paskah melahir kan bu? ada keluhan gak bu? " aku hanya tersenyum mendengar sederet pertanyaan dokter jaga itu.
__ADS_1
"Saya sudah lebih baik dok. kapan saya di perboleh kan pulang dan membawa putri saya dok? "
"Sebentar ya bu saya periksa dulu keadaan ibu dan bayi nya. " jawab dokter jaga itu sambil mengecek nadi di pergelangan tangab ku.
"Ibu dah lebih membaik anak ibu juga sehat, hari ini sudah boleh pulang setelah menyelesai kan administrasi nya ya bu. siapa yang mau mengurus nya di lobby bu? " aku bingung bagaimana cara nya aku bisa jalan untuk mengurus semua itu sementara gak mungkin aku harus mondar mandir untuk hal yang seperti itu.
" Semua sudah saya selesai kan dok. jadi istri dan anak saya bisa pulang saat ini juga kan dok? " aku menoleh ke arah ambang pintu dan ku lihat siapa pemilik suara itu.
"Tentu saja boleh pak, sebentar saya bikin kan resep dahulu untuk di tebus ya pak. " dokter itu meraih secarik kertas yang di berikan salah satu perawat yang mengikuti nya.
Setelah menulis beberapa resep obat yang harus aku minum dokter itu memberikan selembar kertas resep obat ke mas Arif dan dia pun menerima nya resep obat itu.
Tak banyak kata-kata dari ku hanya menatap nya saja tanpa ku bertanya panjang lebar pada suami ku.
"Trima kasih dokter. "
Setelah terdiam sesaat karna hati ini masih terasa kecewa pada nya. hingga baru ku sadari tak ada keberadaan ibu ku di rumah sakit itu.
"Mamah kemana mas? kenapa mamah ku tak ada di rumah sakit ini untuk menjemput ku pulang? " tanya ku memecah rasa canggung karna keadaan.
"Mamah aku suruh pulang duluan dek, karna seperti nya beliau terlihat lelah sekali kurang istirahat. "
Barang-barang ku di beres kan suami ku tanpa menatap lagi pada ku.
"Aku hanya ingin mamah yang jemput aku pulang mas. " benci juga kecewa yang membuat ku enggan untuk berlama-lama berada di samping pria itu.
"Kamu jangan egois dek, kasian mamah mu sudah terlihat kelelehan dek. "
__ADS_1
Aku hanya diam menatap langit kamar inap itu, memandang dengan tatapan yang kosong. rasa di benak seakan tercampur aduk antara cinta, benci dan kecewa semua menjadi satu dalam relung hati ini.
drrrrttt.... drrrrtttt
Ponsel mas Arif bergetar tertanda ada panggilan masuk dan tanpa ku sengaja melihat nama yang menghubungi nomor mas Arif.
Tapi tak di jawab panggilan masuk di ponsel nya hingga seseorang yang di seberang sana terus saja menghubungi ponsel suami ku.
"Kenapa gak kau angkat telfon mu mas? apa karna ada aku kamu gak berani angkat telfon dari wanita itu? " mas Arif tak menjawab pertanyaan ku malah cuek sambil memberes kan barang-barang ku yang akan di bawa pulang.
"Aku mau pulang sekarang. kamu gak perlu mengantar ku pulang mas. sebaik nya kamu samperin aja dia kalau memang di hati kamu ada rasa yang tersimpan untuk nya. "
Aku turun dari ranjang rumah sakit dan meraih apa yang dia pegang untuk mengemas barang-barang ku.
"Nanti kita bahaa di rumah dek, jangan di sini agar tak menganggu pasien yang lain. sekarang kamu berbaring lah dulu biar semua barangmu aku yang mengemas nya. "
"Trima kasih mas, tapi aku gak mau merepot kan mu dan sebaik nya kita akhiri saja rumah tangga kita mas, aku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa atas sikap dan perlakuan mu. "
Mas Arif hanya menatap ku namun enggan untuk bicara lalu dia langkah kan kaki nya hingga menuju pintu ruangan inap ini.
Saat di ambang pintu dia hanya menoleh menatap ku sekilas meski tetap bungkam tak ada kata apa pun dari nya.
Aku hanya menghela nafas kasar dengan sikap nya yang tak lagi ku kenali, suami yang seharus nya menjaga serta memanjakan ku kini semua hanya lah sebuah khayalan.
Aku kecewa dan sakit hati ingin rasa nya berteriak menumpahkan semua akan amarah ku dan kebencian yang rasakan saat ini.
"Ya Tuhan... kuat kanlah hati ku dalam segala cobaan dari mu. " jerit ku dalam tangis yang tak mampu lagi ku bendung dan mengalir sesukanya.
__ADS_1