
Aku melanjut kan kerjaan ku sebagai pelayan kafe batak. rasa kantuk tak lagi ku rasakan kala musik yang begitu bising di telinga.
"Vita habis ini giliran kamu ya yang ngorder. " wanita yang usia nya sudah menginjak kepala empat menghampiri ku.
Meski pun usia nya yang sudah mau menginjak kepala empat tapi raut wajah nya nan cantik jelita tak terlihat di usianya tetap cantik dan imut.
"Ya mam. " aku duduk di tempat yang biasa yang sudah di terap kan untuk karyawan yang siap untuk mengorder.
Ku nyala kan rokok dan duduk dengan menompah satu kaki dengan anggun dan senyum manis mengharap dermawan yang datang untuk ku ketemani.
Aku tak menyangka akan seperti ini lagi kehidupan ku di saat aku sudah memiliki seorang putri.
Ketidaktahuan ku tentang biodata dan pribadi nya mas Arif membuat ku bingung siapa yang sebenar nya laki-laki yang sudah menikahi ku dengan siri.
Status ku yang di gantung dan kebutuhan ku yang kini semakin saja melonjak hingga ku terpaksa kembali terjun dan menginjakkan kaki ku ke dunia malam lagi.
Sakit hati ini karna sikap mas Arif yang seakan hendak lari dari tanggung jawab nya sebagai suami juga sebagai seorang ayah.
Yang seharus nya dia menjadi imam ku dan mendidik aku juga putri kami, tapi kini entah kemana gerangan laki-laki yang sudah memberi ku seorang putri.
Ya Tuhan... ingin rasanya aku menangis dan memaki laki-laki itu, dia yang sudah menghancur kan masa depan ku, dia yang sudah mematah kan semangat hidupku, dia yang sudah menurai luka di hati ku.
Entah benci atau cinta yang kini ada di lubuk hati ku, yang jelas aku selalu menyumpahi nya sebagai wanita yang di zdolimi dan sebagai seorang istri yang sudah di sia-sia kan.
"Vita... bersiap lah, seperti nya ada relasi member di kafe ini yang singgah ke kafe kita. " sentuhan seorang mami yang mrmbuyar kan lamunan ku dan kembali ke alam nyata.
__ADS_1
"I-iya mam. " jawab ku terbata karna sedikit ada rasa gugup yang melanda. jujur baru pertama aku bekerja di kafe yang kalangannya elit seperti ini.
Maklum lah yang datang memang rata-rata orang berduit semuanya jadi mereka datang yang rata-rata berkendara roda empat.
"Jangan gugup sayang di bawa rilex aja,orang-orang itu semuanya baik-baik kok apa lagi salah satu dari mereka orang terpandang di jakarta vita. "
Wanita yang di sebut mami itu selalu membuat ku tenang dari rasa kegugupan ku agar aku bisa melayani mereka dengan baik di meja.
"A-aku hanya sedi... " belum juga selesai pembeciraan ku dengan mami, rombongan itu segera masuk ke dalam pintu.
"Ayo Vita masuk, order bang Gulton dengan baik ya. " aku mengekor langkah mami dan rombongan relasi itu ke dalam dan mencari meja yang kosong untuk kami tempati.
Salah satu dari mereka mrnunjuk tempat di tengah yang posisi nya tak jauh dari toilet alasannya agar gak kesasar kalau mau buang air kecil.
Mami hanya tertawa mendengar ucapan salah satu relasi nya sambil memberi aba-aba untuk aku segera menyalami mereka yang sudah menghempaskan tubuh nya di sofa.
Terkecuali posisi kafe lagi sedang ramai dan mami kehabisan karyawan baru lah kami di izin kan memegang dua meja untuk kami layani.
"Gimana kabarnya abang ku sayang... lama gak berkunjung kesini bang? " dengan manja nya mami duduk di samping salah satu pria yang sudah berumur itu.
Pria itu hanya tersenyum dan memandang ku dengan tatapan nakal nya, aku hanya tersenyum padanya.
"Siapa itu mam? karyawan baru ya mam? " pria itu tak menjawab pertanyaan mami malah menanyakan siapa aku.
"Iya bang, nama nya Vita, baru malam ini dia bekerja di sini bang. manis dan mungil ya bang. " penjelasan mami membuat pria itu hanya mengangguk dan tersenyum pada ku.
__ADS_1
"Pesen minuman apa bang? "
"Kita pesen BLACK LABEL aja mam satu botol ya sama coca cola juga buahnya." jawab pria itu lalu kembali lagi menatap ku.
"Vita kamu sudah ada kertas ordernya belum? kalau belum kamu minta ke bartender sekalian pesan yang bang Gulton minta tadi ya neng. " aku mengangguk dan pergi ke bartender tempat yang mami tunjukkan pada ku tadi.
Namun saat aku hendak menulis pesanan pria itu aku bingung dan lupa apa saja yang di pesannya. akhir nya aku kembali ke meja dan bertanya kembali ke mami.
"Mam... hmmmm aku lupa dan bingung tadi bapak itu pesan apa saja ya mam " mami hanya tersenyum dan kembali menyebut kan pesanan orang itu.
Lagi-lagi aku di buatnya bingung karna tak tahu cara nya untuk menulis pesanan juga nama-nama minuman itu, karna yang aku tau hanya minuman yg berakohol kadar rendah saja.
Mami tertawa melihat wajah ku yang sedikit panik, akhir nya mami mengajar kan ku cara dan nama minuman itu. dengan senang karna tugas utama ku selesai memesan minuma itu aku kembali ke bartender untuk memberikan kertas orderan itu ke salah satu yang biasa berjaga di bartender.
Tak lama kami berbincang dan berkenalan satu sama lain, tawa canda selalu kami semaikan agar tak ada lagi rasa kecanggungan di diri ku. dan pesanan pun tiba di tata rapih oleh salah satu runboy yang membawa minuman itu.
Aku hanya menatap minuman itu karna tak tau cara menuang kan yang benar, merasa ini adalah tugas ku dengan santai aku buka tutup botol minuman itu.
Tertegun bagaimana caranya aku menuang minuman itu hanya dapat memandang nya karna tak tau, mau bertanya tapi aku malu, tak bertanya tapi tidak mengerti karna ujung botol itu masih tertutup pelindung.
Mami yang sadar sedari tadi melihat ku tanpa di minta memiliki inisiatif di raih nya botol itu dalam genggaman ku.
"Nih neng mami ajarin ya cara menuang kan minuman ini ke gelas, karna semua ada trik nya neng. jangan bengong aja ya. " lagi-lagi aku hanya mengangguk dan memperhatikan cara mami menuang minuma itu ke gelas kecil.
Setrlah semua nya mendapat kan minuman itu, termaksud untuk mami pun dapa bagian minuman itu.
__ADS_1
"Loh kenapa kamu gak minum dek? " tanya ssalah satu pria itu yang duduk di samping sebelah kanan ku.
"Saya belum terbiasa minum itu bang. " jawab agak sedikit malu karna seakan aku tidak menghargai mereka yang menyatukan gelas masing-masing untuk meneguk segelas minuman itu.