ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* JiIKA TERJADI SESUATU *


__ADS_3

Mas Arif duduk di meja favoritnya paling pojok aku mengikutinya dan menjatuh bibot tubuh kami di sofa. Tak ada kata-kata yang ku ucspakan untuknya sehingga kami larut dalam keheningan sesaat.


"Apa yang harus aku mulai dari pembicaraanku? " mas Arif hanya mrlirik ku yang sedari tadi hanya melamun.


"Ada masalah dek? " suara mas Arif membuyarkan lamunanku dan membuatku kembali ke alam nyata.


"Ehhh... hmmm... maaf mas. " gugup ku menjawab pertanyaan mas Arif. "ada yang mau aku bicarakan tapi gak di tempat ini mas. " sangat ku berhati-hati dengan pembicaraanku,meski suara musik tak kan membuat orang-orang di sekitar mendengar perbincangan kami tapi tetap saja aku merasa khawatir jika ada yang tak sengaja mendengarnya.


"Baiklah nanti setelah ini kita keluar sekalian cari makan sebentar, kamu izin saja dulu sama mba Wiwin ya. "


" Ya mas. "jawab ku singkat


Malam yang begitu dingin menusuk relung tubuh ku tak lagi ku rasakan selama berada dalam pelulan Pria yang sangat aku dambakan.


tak hentinya mas Arif mencium kening dan bibir ku, tak bosannya dia melakukan hal sama yang hanya untuk sebuah kenyamanana.


Ya nyaman, aku sangat nyaman berada dalam pelukan laki-laki yang aku cintai bahkan aku rela memberikan hal yang berharga untuk kehidupanku nanti.


*


*


Setelah meminta izin pada pemilik warung itu kami pergi meninggalkan warung milik mba Wiwin dan mencari makan di luar.


Kami makan di tepi pinggir jalan yang tak jauh dari warung mba Wiwin, tempat yang sangat ramai pengunjung dan menyajikan menu yang sangat lezat.


Sekilas aku ingin sekali makan kepiting saus tiram,tapi sayangnya menu yang aku ingin sudah terjual habis.


Sedikit kecewa ingin menangis, melihat kesedihan ku mas Arif bingung,dia menawarkan ku dengan menu sifood yang lainnya,


Akhirnya aku ikuti apa yang di tawarkan mas Arif pada ku meski pun saat ini aku sedang ingin makan yang membuatku ngiler membayangkannya.


Tak berapa lama pesanan kami sudah terhidangkan di atas meja, berbagai menu yang mas Arif pesan, kami makan tanpa mengeluarkan kata-kata yang sedari awal ingin aku bicarakan padanya.

__ADS_1


Usai makan mas Arif menatap ku dengan penuh arti,pria itu teesenyum saat melihat ada sisa makanan di sisi bibir ku. dengan cepat pria itu mengambil tissue dan membantu ku untuk membersihakannya.


Tanpa sadar ada sepasang mata yang terus memandang kami dengan sinis, dengan senyumnya yang di buat wanita itu menghampiri meja kami berdiri tepat di samping mas Arif.


"Asyik banget mas makannya sampai tak melihat keberadaan ku? " aku terpana saat ku tau sosok wanita yang menyapa serta merangkul bahu punggung mas Arif.


Mas Arif menoleh ke samping dan hanya memberikan senyum nya yang di buat-buat sehingga tatapannya yang tajam membuat kesadaran wanita itu akan tak sukanya.


"Maaf,aku hanya mentadari keberadaan wanita yang duduk manis di depanku. " sambil melepaskan tangan yang merangkul di bahunya.


"Boleh aku ikut bergabung di sini mas? "


"Memang nya kenapa dengan mejamu di sana? apa rusak sehingga kau meminta izin bergabung di meja kami? " begitu tajamnya ucapan mas Arif agar wanita itu sadar tak di inginkan keberadaannya.


"Tidak mas, hanya bosen aja aku di sana menikmati hidangan ku sendirian, sementara kalian di sini bersenang-senang. " tanpa mas Arif menyetujui ke inginannya wanita itu menghempas kan bobotnya di salah satu kursi tempat kami.


"Maaf Rina kalau di izinkan kami hanya ingin makan berdua saja di meja ini, karna ada yang ingin kami bicara kan berdua. " mas Arif mencoba mengusir Wanita itu dengan cara halus.


"Baiklah jika kalian merasa terganggu dengan kehadiran ku. " Dengan kecewa dan memasang wajah cemberur akhirnya Rina melangkah ke meja di mana sebelumnya dia tepati.


"Dek katanya ada yang mau kamu bicarakan? " mengalihkan susana pada tujuan kami sebelumnya.


"oh. ya mas."


"Apa dek? katakanlah apa yang mau kau bicarakan dek" dengan teliti mas Arif memandang ku.


"Mas bulan ini aku belum datang bulan. " ucapanku sontak membuat mas Arif tercengang.


"Kamu sudah periksa apa penyebabnya kamu terlambat datang bulan dek? "


"Belum mas, aku bingung mau periksanya mas, gak tau caranya gimana aku periksanya."


Seketika mas Arif menundukkan wajahnya seakan pria itu seorang pemikir yang kuat.

__ADS_1


"Ya sudah besok pagi aku antar kamu ke klinik ya." tatapannya yang begiru kosong membuaf ku merasa bersalah dengan kata-kataku


Dengan takut dan ragu ku sentuh pergelangan pria itu. " Mas.... maafkan aku..., "


berharap mas Arif memenuhi akan tanggung jawabnya.


Punggung tangan di raih serta di cium hangat olehnya, dengan senyumnya yang khas dan tatapannya yang selalu memancarkan kteduhannya membuat seakan tak rela berjauhan dengannya.


"Dek... kenapa kau harus minta maaf?, " aku terpanak sebelum pria itu melanjutkan ucapannya. "Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kami. Dan lagi pula aku kan sudah janji akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu. " aku hanya mamou senyum dengan akhir ucapannya.


"Mas jika terjadi sesuatu baru kau akan bertanggung jawab Menilahiku, lantas jika tak terjadi sesuatu kau tak akan menikahi ku?! " perlahan air mataku mulai menetes.


"Bukan begitu dek. " ku llepaskan genggaman tangannya kecewa dengan kalimat kata-katanya yang terakhir "jika terjadi sesuatu".


Aku pergi meninggalkan mas Arif di rumah makan sendirian dengan tergesa-gesa aku berlari menahan rasa perih di hatiku.


Saat ku hapus air mataku sambil berjalan, aku melihat sebuah toko Apotik. dua puluh empat jam tergesa ku melangkah mendekatinya.


"Ada yang bisa kami bantu mba? " aku menoleh kesalah satu pelayan Apotik itu dengan senyuman.


"Hmmm... saya mau membeli sesuatu untuk yang di tes mba. " Aku ragu untuk mengatakannya, jadi hanya memberi isyarat saja untuk pelayan Apotik itu mengerti.


"Sebentar ya mba." tak lama petugas Apotik itu keluar membawa begitu merek yang aku pesan tadi.


"Mana yang bagus mba? " bingung aku harus pilih yang mana bisa lebih akurat.


"Semuanya jug.... " petugas Apotik itu menghentikan ucapannya saat suara seseoran pria yang kunal akan pemilik suara itu memotong.


"pilih saja semuanya agar kau lebih yakin dek. " aku menoleh ke sisi belakang saat mendengar dan menyadari lengan pria itu merangkul pinggang ku.


"mas... "


Pria itu hanya tersenyum manja saat menoleh dan dengan singkat dia mencubit lembut ujung hidung ku.

__ADS_1


Aku menerima semuanya yang ku pesan tadi, dan pergi dari Apotik itu mengajak mas Arif untuk tak kembali ke warung mba Wiwin.


__ADS_2