
"Mamah lg bikin apa? " tanya ku saat menghampiri ibuku di dapur.
"Lagi bikin teh, kenapa Vita? " jawab ibu ku sekilah melihat ku dan kembali mengaduk teh buatannya.
"Oh ya sudah mah aku ke kamar sebentar mau ganti pakaian ya mah. "
Kupandangin sebentar punggung ibu ku yang sudah mulai terlihat rentan karna usia. lalu aku meninggalkan ibu seorang diri di dapur dan menuju kamar yang selalu aku tinggalkan namun selalu rapih meski aku tak lagi menempatinya.
Usai ku ganti pakaian kembali ku menuju ruang tamu tepat dimana mas Arif dan ibuku saat membicarakan hal yang serius, terbaca dari raut mereka yang tegang.
Ku hentikan langkah ku saat ku dengan ucapan ibuku, aku termangu mendengar kata-katanya beliau, serasa sesak di hati dan mungkin itu pula yang di rasa kan mas Arif sebagai lawan bicara ibuku.
"Jadi kamu yang sudah menghancurkan masa depa putri ku dan mencoreng kotoran di wajah kami? apa dosa yang di lakukan putri ku hingga begitu tega kau menghancur masa depannya hah?! " marah dan kecewa itulah yang terlihat di balik raut wajah ibuku meski pun di paksa untuk bisa tegar
"Maaf bu, saya akan bertanggung jawab bu, saya akan nikahkan Vita tapi untuk saat ini saya hanya bisa menikahkan secara sirih bu. " wajah mas Arif pun hanya menunduduk tak mampu menatap sorot tajam mata ibuku.
"Apa?! " semakin tajam sorot mata ibu mendengar pengakuan pria itu, begitu pun aku yang tak habis pikir kenapa mas Arif hanya bisa menikahi ku secara sirih.
"Kau kira putri apa hingga kau ingin menikahi secara sirih hah?! " bentak ibu ku membuat relung ku tergoyang ingin teriak dan meminta maaf padanya.
"Maaf bu, saat ini saya belum bisa pulang kampung untuk mengurus ssmuanya. " alasan lagi pria itu untung mencari cara agar ibuku menyetujuinya.
Amarahnya sekilas mulai mereda hanya sesak yang di rasakan ibuku, begitu pun aku yang tak sengaja mendengar ucapannya pria itu. dan tanpa ku sadari.....
Plak.
__ADS_1
Dengan geramnya tamparan ibu ku begitu saja mendarat di pipi pria itu, meski terlihat tak sakit karna tenaga ibu ku yang sudah renta di makan usia.
Aku berlari menghampiri tempat duduk seraya tak percaya dengan apa ysng di lakukan ibu sontak membuat ku terkejut.
"Maaahhh.... "
Hanya tatapan nanar yang ku lihat dari sorot tajam mata ibuku aku tak mampu membuka kata-kata lagi hanya mampu mengurai kan air mata yang tak dapat lagi ku bendung dan akhirnya tumpah juga buluran air mata itu.
Tak ada ucapan dari bibir ibuku yang mampu membuat ku sedikit tenang,hanya tatapannya yang masih saja bicara menandakan tak menyetujui nikah secara sirih untuk putrinya.
"Mah... aku hamil, aku mengandung anaknya mas Arif mah..., " tatapan ibu ku seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Apa?! kenapa kau tambah mencoreng kotoran ke wajah mamah mu Vita? apa salah mamah hingga tega kau melukai hati mamah mu ini? " tangisab ibu ku pecah saat mendengar pengakuan ku.
"Maafkan aku mah... " aku bersujud meraih kaki ibuku memohon ampunan yang tlah membuatnya terluka.
"Baiklah jika kalian memang di harus kan nikah secara Agama, mamah gak bisa bilang apa-apa." ibu mengusap air mata yang terjatuh di antara kedua pipi yang kini sudah terlihat sela-sela keriput nya.
"Maafkan Vita mah... " lagi-lagi aku memohon ampun atas kesalahan yang sudah aku perbuat hingga menciptakan luka di hati ibuku.
"Trima kasih bu sudah merestui kami untuk menikah meski pun hanya secara sirih. " tak ada jawaban dari ibuku atas apa yang d ucapkan pria itu, hanya kembali menatapnya dengan sorotan yang tajam.
"Jadi kapan pernikahan kalian di laksanakan? saya tidak ingin tetangga sampai tau kalau putri ku sudah mengandung sebelum ijab kobul. "
"Lebih cepat lebih baik bu, sebelum perut nya terlihat membesar bu. " mas Arif menoleh mentap dengan senyum kemenangan atas restu yang di paksakan dari ibu ku.
__ADS_1
"Dek, mas harus kembali ke kantor karna ada rapat penting hari ini, kamu jangan bekerja lagi di tempat mba wiwin ya dek, " aku hanya mengangguk dan menuruti permintaan calon suamiku.
"Dua hari lagi mas akan datang membawa penghulu beserta saksi untuk kita menikah nanti,jadi kamu sudah siap saat mas dateng. "
Aku menganggukkan kepada menjawab setuju yang di kata kan pria itu. Setelah usai dari masalah yang membuat kami sempat bersi tegang akhirnya mas Arif izin undur diri untuk kembali ke kantornya.
Aku mengantarnya hingga di ambang pintu dan melihat ada beberapa orang lalu lalang melaju dengan santainya.
Saat aku menoleh ke arah sisi samping sebelah kiri terlihat ibu Nur tetangga ya selalu baik dan ranah pada keluarga kami.
"Assalamuaikum bu Nur. " dengan santun ku sapa wanita yang seumuran dengan ibu.
"Walaikum salam Vita, wah apa kabar nya kamu kok baru terlihat Vita? " ibu Nur menoleh seseorang yang berdiri tak jauh dari ku pria tampan berbadan kokoh itu hanya mengulas senyum kecilnya saat membalas tatapan bu Nur.
"aaaiiiihhhh.... siapa itu Vita? ganteng bangettt.... " aku melirik pria yang di tunjuk bu Nur itu, dan tersenyum saat kembali melihat paras bu Nur yang mengagumi sosok mas Arif.
"Calon suami bu Nur. " tetangga ku itu hanya melongo tanpa berkedip, matanya tak hanya membulat seakan hendak keluar dari mulutnya pun menganga seakan ingin mencaplok apa saja yang ada di hadapannya.
Aku membuyarkan lamunannya yang aku pun tak tau apa yang bersemayam dalam benak hatinya sehingga memikirkan seauatu tentang hubungan kami.
Mas Arif hanya memberikan senyum melihat reaksi ratu gibah ini seakan tak percaya oleh kata-kata ku yang membenarkannya sebagai calon suamiku.
"Dek... mas kembali ke kantor dulu ya, kamu baik-baik di rumah jangan terlalu capek ingat dengan kondisi mu saat ini. " dengan romantisnya mencium pungguk kepala ku.
"Iya mas hati-hati di jalan dan jangan lupa mengabari aku kalau sudah sampai di kantor mas. "
__ADS_1
Lelaki itu masuk di pintu kemudi setelah mengucapkan salam dan tak lupa pamit pada tetangga ku yang sedari tadi hanya melongo seeaya tak percaya bahwa lelaki tampan itu adalah calon suami ku.
Setelah ku tak ku lihat lagi mobil silver milik mas Arif telaju meninggalkan halaman kediaman orang tua ku, aku kembali masuk ke dalam rumah dan tak lupa pamit dari ratu ghibah yang tak sedikit pun merespon ucapan ku.