
"Mas... " suara ku memecah kan ke sunyian di antara kami, tak ada jawaban dari nya saat ku memanggil nya hanya tatapan sendu dari mata nya.
"Kenapa kamu tega sama aku mas? "
Tetap tak ada jawaban dari nya hanya kembali menatap ku dengan sinis. aku semakin tak mengerti ada apa dengan nya hingga seperti ini tatapannya pada ku.
"Apa aku melaku kan kesalahan pada mu? tolong jelas kan pada ku? " kembali ku bertanya karna tak ada jawaban apa pun yang di ucap dari bibir pria itu.
Dia tak menjawab tapi mengeluar kan ponsel nya, semakin ku bingung dengan sikap nya yang cuek dan acuh pada ku, sungguh tak lagi ku mengenal sosok pria yang dulu selalu membuat jantung ku berdebar.
Mas Arif menyerah kan ponsel nya pada ku, semakin aku tak mengerti mengapa dia tak menjawab pertanyaan ku akan tetapi dia malah memberikan ponsel nya pada ku.
"Kamu lihat di galery hanpon ku dan tolong kamu jelas kan pada ku apa maksud nya foto itu." tatapan mas Arif begitu dingin pada ku
Aku menerima dan membuka salah satu aplikasi yang membuat ku terkejut saat ku lihat ada beberapa foto yang tidak aku mengerti dan tak dapat ku jelas kan pada nya.
"Apa ini mas? aku gak ngerti maksudnya, dari mana kamu dapat foto-foto ini mas? "
"Kamu gak perlu tau dari mana aku dapat foto itu dek. " lagi-lagi pria itu menatap ku dengan sinis seakan kecewa yang dia rasa kan saat ini.
"Yang aku pinta tolong jelas kan semua ini pada ku. " aku hanya bingung bagaimana caranya aku memberikan penjelasan semantara aku tak merasa melakukannya.
"Maaf mas aku tak mengerti bagai mana cara menjelas kannya karna aku gak merasa berada di foto-foto itu mas. " pria itu hanya memberi senyum sinis nya seakan tak percaya dengan kata-kata ku.
"Bagai mana mungkin kamu bisa bilang seperti itu dek? " aku semakin bingung harus bilang apa pada nya.
"Sementara terlihat jelas kamu berada di foto itu saat bersama lelaki lain. " kini ku tatap mata nya tak lagi ku temukan kepercayaan dari nya.
__ADS_1
"Sumpah demi putri kita mas, aku gak merasa ada di foto itu mas. "
"Jangan pernah kau bersumpah demi putri ku. atau anak itu bukanlah anak ku? " Luka tak berdarah hati ku bagai di sayat belati tajam saat ku dengar ucapan mas Arif.
Tak dapat lagi ku bendung buliran air mata tumpah mewakili sakit begitu dalam yang ku rasa kan terasa sesak nafas ku atas keraguan pria yang kini telah menjadi suami sirih ku.
"Kamu meragukan bayi ku mas? sadar gak ucapan mu barusan hah?! " tak kalah ku sentakan ucapan ku hingga tak sadar teriakkan ku mengundang tanya orang-orang yang lewat.
"Ya aku sadar karna telah di khianati oleh mu"
"Mas...! " ucapan ku terhenti kala suster masuk ke kamar ku.
"Ada apa ini? tolong jangan buat keributan di rumah sakit pak, suara kalian mengganggu ketenangan pasien yang lain. " suster menengah pertengkaran di antara kami.
"Maaf sus kalau kami sudah membuat ketenangan yang lain terganggu. " mas Arif dengan segera meminta maaf kepada suster agar tak kembali lanjut pertengkaran kami.
"Dengan cara apa kamu mau bertahan hidup menghidupi bayi mu? dengan cara bekerja krmbali di warung mba Wiwin? begitu? "
"Aku mohon tinggal kan aku sekarang mas, aku ingin tenang mas, kalau kamu terus menuduh ku, aku gak bisa tenang memberi asi yang terbaik untuk anak ku mas. "
"Baik lah aku akan pergi dari sini. kamu tenang aja aku akan tetap menafkahi kamu dan bayi meski seandai nya itu bukan darah daging ku, tapi karna aku begitu mencintai mu."
Mas Arif pergi melangkah kan kaki nya hingga di ambang pintu menatap ku, kini aku yang meringis menahan pilu rasa sakit yang mendalam, tak percaya akan fitnah dan tuduhan pada ku juga bayi ku meninggalkan goresan yang menyakit kan.
Dalam buliran air mata yang begitu saja menetes di pipi ku teringat akan sahabat ku yang masih bekerja di warung mba Wiwin. segera ku raih ponsel dan mencari nomor kontak yang ku tuju.
tuuuuttt.... tuuuttt....
__ADS_1
Tak ada jawaban dari sahabat ku, meski sudah putus asa aku gak tau bagai mana cara nya ku memberi kan kebenaran atas tundingan fitnah yang keji itu. menangis hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.
drrrtttt... drrrttt....
ku raih ponsel ku betapa bahagia nya saat seseorang yang ku harap kan menelfon ku saat tadi tak mengangkat telfon dari ku.
"Hallo cha... "
"Ya ada apa Bestie... kangen ya lu sama gue? " terdengar jawaban seseorang yang ku harap kan sekilas membuat hati ku sedikit lega.
"Cha... lu mau jujur gak sama gue? "
"Kenapa bastie? seperti nya ada yang serius kah? kalau gue tebak lu habis nangis ya, kenapa Vit? " terdengar suara khawatir dari sahabat ku yang membuat ku sedikit ragu untuk bertanya keadaan ku saat ini.
"Cha... selama gue udah gak kerja lagi di warung mba Wiwin, apa mas Arif suka dateng berkunjung di warung mba Wiwin? "
Diam tak ada jawaban dari sahabat ku, seakan ada yang di sembunyi kan dan takut untuk berbicara kebenaran dari sahabat ku.
"Cha... gue mohon dengan sangat lu jujur sama gue Cha, ini demi rumah tangga gue Cha. " hanya suara hempasan nafas kasar dari sahabat ku.
"Kalau gue jujur lu jangan marah ya Vit... gue gak mau lu ribut apa lagi mengganggu kesehatan lu yang akan berdampak sama anak lu Vit. " terdengar akan keraguan nya untuk berterus terang dari sahabat ku.
"Iya Cha... gue butuh kepastian Cha. tenang aja gue janji akan baik-baik aja bersama anak gue Cha. " aku mencoba memberikan kepastian agar semuanya baik-baik saja meski ku tau saat ini aku sedang tidak baik.
"Selama lu gak kerja lagi di sini memang mas Arif suka dateng ke sini dan d temani sama Rina Vit, banyak yang cari lu di sini mereka semua merasa ke hilangan lu Vit. "
"Apa yang mereka bicarakan Cha? maksud gue antara mas Arif dan Rina. apa selama mas Arif bersama Rina ada hal yang aneh di antara mereka ngobrol nya. " aku semakin penasaran dan butuh penjelasan yang akurat dari sahabat ku.
__ADS_1