
Sembilan bulan sudah aku mengandung,hari-hari semakin menegang kan kala menghitung hari untuk persiapan persalinan anak pertama ku.
Tak ada berkesan masa kehamilan ku selama menjadi seorang istri dan calon ibu, terasa hampa saat mas Arif kerap kali meninggalkan ku dalam ke sunyian malam.
Seolah tak mengingkan kehadiran anak pertamanya,sikap yang sedikit acuh membuat ku semakin ragu akan kepribadiannya.
Seseorang yang dahulu selalu ada dan penuh perhatiannya akan kasih dan sayang kini tak lagi ku gapai darinya.
Entah karna apa mulai perlahan mas Arif seolah menjauhi ku, meski aku berusaha untuk tetap berfikir pisitif, tapi rasa kesepian ku membuat jiwa bertolak belakang dari rasa peduli kini menjadi acuh.
"Vita... ini sudah dua hari suami mu tak pulang lagi, kemana dia? " tak hanya aku yang menaruh rasa curiga dari tatapan ibu ku pun seakan penuh dengan tanya.
"gak tau mah, dia gak kabarin aku sama sekali keberadaannya. "
"Apa gak coba kamu hubungi ponsel nya, mamah takut pada saat kamu melahir kan anak mu dia gak ada nak. " begitu mengkhawatir kan keadaan ku hingga terlihat wajah cemas ibu ku.
"Ya sudah nanti kamu hubungi lagi dia nak siapa tau saat ini dia lagi sibuk."
"Iya mah nanti coba Vita telfon lagi ponselnya." ibu ku kembali ke ruang tv, sekilas begitu mengkhawatir kan keadaan ku yang sekarang.
Pernikahan yang romantis selalu menjadi dambaan kaum hawa, apa lagi saat mengandung buah hati nya yang mana selalu di manjakan pasangan nya jika kita menginginkan sesuatu.
Tapi itu tidak berlaku pada ku harapan hanya tinggal bayangan, sikap romantis dan kasih sayang untuku perlahan mulai terkikis.
Entah siapa yang salah hingga aku terbiasa akan kesendirian,dendam dan benci kini mulai tumbuh di hati ku kala rasa sakit yang mendalam.
"Aduuuhh.... kenapa dengan perut ku. " ada rasa perih dan sakit di perut ku keringat dingin mendadak menjalar di sekujur tubuh ku.
"Maaaaaahhhh.... tolongin Vita. " aku terpana begitu banyak cairan yang keluar dari area sensitif ku.
"Ada apa nak.? " ibu ku terpanah melotot melihat keadaan ku saat ini.
__ADS_1
"kamu mau melahir kan Vita. " ibu ku panik dan segera meminta bantuan para tetangga untuk membawa ku segera ke rumah sakit agar aku tak kekurangan cairan.
*
*
Tiba di rumah sakit aku langsung di bawa ke ruang bersalin,ibu ku terus berusaha menghubungi suami ku yang tak kunjung ada kabar nya selama dua hari ini.
"Entah kemana pria itu,seakan tak ada khawatir nya sama sekali pada istrinya yang akan melahir kan. " gerutu ibu ku kesal trlfonnya tak jua di angkat oleh menantunya.
drrrrrrtttt..... drrrtttt....
ponsel ku berbunyi, dengan cepat ibu ku menekan tombol hijau menerima panggilan orang yang beberapa waktu di hubungi ibuku.
"Halo... Assalamualaikum dek, ada apa dek; " mas Arif tak mengira bahwa beberapa waktu yang telfon dari ponsel ku itu adalah ibu ku.
"Walaikum salam nak Arif, maad ini ibu yang felfon menggunakan ponsel Vita. "
"Oh ya ada apa bu, maaf baru bisa telfon balik bu lagi arah jalan pulang saya bu. "
"Baiklah mah saya langsung menuju rumah sakit sekarang. " saat ibu ku menjelas kan keberadaan rumah sakit yang saat ini menangani ku untuk persalinan mas Arif dengan cepat menuju rumah sakit.
Di ruang bersalin aku berjuang sekuat tenaga untuk buah hati ku, meski tak di dampingi suami akan tetapi aku tetap optimis bahwa aku bisa berjuang sendiri untuk kelahiran anak pertama ku.
Meski kesulitan ku berjuang seorang diri untuk tetap melihat buah hati ku hingga bidadari yang ku tunggu akhirnya lahir dengan selamat dan tak kurang fisik suatu apa pun.
"Alhamdulillah... bayi nya perempuan bu lahir dengan selamat cantik seperti ibu nya. " dokter memberikan bayi ku ke dalam pangkuan ku dengan rasa bersyukur aku memeluk nya hingga air mata yang menetes suatu kebanggaan juga kebahagiaan untuk ku.
"Assalamuslaikum... " kami menoleh melihat seseorang yang masuk mengucap kan salam, aku hanya menatap nya sinis tak ada senyum untuknya.
"Maaf kan aku dek baru bisa datang, kerjaan ku banyak dan tak bisa aku tinggalkan. " jelas pria itu tetap saja tak membuat hati ku luluh.
__ADS_1
Diam ku membuat nya semakin bersalah aku membencinya sangat membencinya, hati ini terasa mati saat berjuang sendiri untuk kelahiran anaknya.
"Bapak suami nya ibu Vita? " suara dokter memecahkan ke heningan di antara aku dan mas Arif.
"Ya bu dokter ada yang bisa saya lakukan bu,bagaimana anak saya bu? " mas Arif melihat bayi mungil dalam pangkuan ku.
"Bayi nya perempuan pak, lahir dengan sehat tak kurang apa pun, cantik seperti ibunya. tolong di adzan kan pak karna belum ada yang mengadzan kannya pak. " bu dokter memberi kode agar aku memberikan bayi ku untuk di adzan kan ayahnya.
Aku memberikan bayi ku dan di sambut dengan senyum bahagia di bibir mas Arif, perlahan dia dekat kan wajah nya bayi itu dan mulai membisikan suara adzan di telinga putri kami.
Saat dalam gendongan ayahnya putri ku menangis mencari sesuatu yang bisa dia gapai dengan bibirnya yang mungil.
"Oh... ternyata anak ayah haus ya... mimi susu dulu ya sama mamah" mas Arif menyerah kan kembali putri nya agar aku bisa memberikan ASI yang terbaik.
Aku segera menyambut putri ku kembali dalam pangkuan ku dan memberi nya ASI yang terbaik untuknya.
Rasa kesal dan benci pada suami ku sesaat ku lepas kan dahulu agar saat aku menyusui anakku tak mengganggu nya untuk ketenangan.
Tak berapa lama putri ku tertidur pulas, ku pandangi wajah mungil putri ku yang tertidur pulas tak ada beban dan fikiran lelap dalam kenyaman.
ceklaakk....
"Permisi bu maaf bayi nya kami pindah kan dulu ya ke ruang lain agar tak mengganggu tidurnya. " suster mengambil anakku dan membawa nya dari pangkuan ku, aku hanya mengangguk kecil bertanda menyutujui nya.
"Sudah di beri asi untuk bayi nya bu?, " tanya salah satu suster yang memeriksa keadaan ku saat ini.
"Sudah sus, baru saja saya beri asi putri ku hingga dia tertidur dengan pulasnya. " aku menjelas kan dan kembali di sambut anggukan suster seakan mengerti.
"Ya sudah, tinggal dulu ya bu. "
Aku hanya mengangguk dan tersenyum melihat suster yang meninggalkan kami di ruangan inap.
__ADS_1
Hening ku pandangi wajah tampan suami ku, wajah yang dulu selalu membuat ku damai dan nyaman saat bersama nya.
Wajah yang selalu membuat ku rindu kala tak bertemu pada nya, tapi kini berbeda rasa yang pernah ada perlahan mulai hilang dari rasa tak perduli nya dia pada masa ke hamilan ku.