ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA

ISTRI KE TIGA DAN SUAMI KE DUA
* MAAF KAN AKU MAH.... *


__ADS_3

Kembali mas Arif melajukan mobil silver nya untuk mengantarkan aku ke rumah ibuku. hingga tepat dimana aku di besarkan mobil mas Arif terparkir di tepi jalan hendak keluar dan mengajak ku turun.


"Mas... maaf sampai di sini saja kamu antar aku mas. " mas Arif terlihat bingung dengan kata-katanya yang melarangnya mengantar hingga bertemu ibuku secara langsung.


"Kenapa dek? apa tak boleh aku mengenal keluarga mu lebih intim lagi dek? " terlihat kecewa di wajah pria itu.


"Bukan begitu mas..." aku memberi jeda kata-kata ku. "hmmm... aku hanya belum siap aja mas. " sambung ucapan ku berharap pria itu tak semakin kecewa dengan alasanku.


"Baiklah kalau itu mau kamu. tapi kamu harus janji dek, kalau terjadi sesuatu tolong hubungi aku dan jangan membuat aku khawatir dek. "


"ya mas... hati-hati di jalan dan trima kasih karna sudah mau mengantar ku sampai di sini. "


Mobil silver itu melaju setelah berpamitan padaku, ada rasa perih dan takut saat kami berpisah di persumpangan jalan ini.


Langkah ku melaju ke rumah ibuku dengan membawa sedikit oleh-oleh yang tadi mas Arif belikan untuk ibuku.


Saat ku lihat pintu rumah itu agak tertutup dan ingin membukakan pintu itu secara perlahan. ada sedikit takut dan rasa bersalah yang mendalam di hati ku.


"Ya Tuhan... maafkan aku... " gumam ku dalam hati tanpa ku sadari ada buliran air mata yang jatuh di kedua pipiku. dengan cepat ku basuk dengan kedua tangan ku.


Tak ingin ibuku melihat air mata penyesalan yang jatuh di pipi ku. Saat ku buka pintu rumah itu aku melihat ibuku sedang melakukan kewajibannya bersujud.


"Assalamualaikum... " meski ku tau ibuku tak akan menjawab salam ku saat melakukan sholat lima waktunya, tapi sebagai kewajiban aku tetap mengucapkan salam saat masuk atau pun keluar dari rumah.


Setelah menjalan kan ibadahnya ibuku tak lupa mengucap syukur dan berdoa. Menetes air mataku saat ku dengar di antara doa ibuku menyebut nama ku dan saudara ku agar kami selalu dalam lindungan Alloh.swt dan di jauhkan dari macam bahaya.

__ADS_1


"Ya Tuhan... selalu tak pernah putus asa mamah mendoakan kami di setiap ibadahnya. maaf kan anakmu mah yang tak bisa menjaga kepercayaan mu, maaf kan anakmu mah yang sudah berlumur dosa ini. " lirih ku dalam hati.


"Walaikumsalam... vita, kamu sudah pulang nak. " ibuku menjawab salam setelah selesai dalam ibadah dan doanya, menyadarkan ku untuk kembali ke alam nyata.


"Eh. iya bu. " ku basuh buliran air mataku yang jatuh saat ku mendengar di setiap doa-doa ibuku.


"Hey... kenapa kau menangis anakku? ada apa? "


"Gak ada apa-apa bu hanya terharu mendengar doa-doa ibu yang selalu memohon untuk kesehatan aku dan kakak-kakakku mah. " ujar ku sedikit berbohong.


"Itu sudah kewajiban seorang ibu yang menginginkan melihat anak-anaknya bahagia dan selalu dalam lindungan nya nak. " sembari melipat kan seperangkap alat sholatnya.


"Tumben kamu sudah pulang sekarang Vita, biasanya tiap hari pekan saja kamu bisa pulangnya menjenguk mamah. " berhenti dari kerjaannya dan mengerutkan kedua alisnya seakan menyelidiki sesuatu oada ku.


"Hanya rindu sama mamah aja kok,makanya Vita pulang mah." lagi-lagi aku harus menyimpan sebuah kebohongan di depan ibuku.


"Ya mah tadi aku mampir ke toko buah dan membelikan yang sehat untuk mamah kosumsi. "


"Trima kasih nak, seharusnya kamu tabung saja uang nya dari pada di belikan begitu banyak buah-buahan seperti ini nak. "


"Gak apa-apa mah aku sudah mulai sedikit menabung kok mah. " saat ucapanku memberi jeda. " Hmmm... mah aku ke kamar dulu ya mau istrahat sebentar mah. " ibu ku mengangguk antusias dengan menerima oleh-oleh buah yang ku berikan padanya.


Bergegas ku ke kamar yang sudah sejak lama aku tinggal bekerja di warung mba wiwin. kembali ku perhatikan di sekeliling depan kamar ku untuk memastikan bahwa tak akan ada seseorang yang akan masuk ke dalam kamar ku, dan ku tutup rapat tak lupa aku menguncinya agar tetap aman.


Setelah ku teebaring di ranjang kecil yang lusuh aku menerawang ke langit kamar ku, memejamkan mata ini mengingat apa yang sudah aku lewati beesama mas Arif kala itu.

__ADS_1


Teringat ku akan kain bersegi empat di mana ada bercak darah kesucianku di sana. dengan cepat ku keluarkan benda itu dari nakas dan ku tatap dalam-dalam seakan sesak dada ini kala mengingat wajah ibu ku yang akan kecewa karna ulah ku.


"Maafkan Vita mah... " aku menggenggam kain persegi empat itu di antara jemari ku dengan mengeluarkan air mata penyesalan.


*


*


Tiga hari aku berada di rumah ibuku, tak ku kabari keadaanku dengan Mas arif hingga membuatnya sangat khawatir, karna sengaja ku matikan ponsel ku agar tak ada yang menghubungiku saat aku berada di rumah ibuku.


Hanya sesekali aku mengaktifkan benda berbentuk pipih itu untuk mengabari mba Wiwin meminta izin karna belum bisa kembali aktifitaa di warungnya.


Meski ku lihat sederet panggilan tak terjawab dan begitu banyak pesan dari mas Arif tapi tak satupun niat ku untuk membuka serta membalas pesannya apa lagi menghubunginya walau hanya sekedar memberi info keadaannku di rumah mamah.


Kembali ku non aktifkan ponselku dan menyimpannya di dalam nakas ku. Karna hari sudah mualai menjelang sore, ku raih handuk dan hendak membersihkan tubuhku.


Saat aku masih berada di dalam kamar mandi, aku tak tau kalau ternyata ibuku masuk ke dalam kamar ku untuk merapikan lemari ku.


Alangkah terkejutnya ibuku saat menemui kain bersegi empat yang sengaja ku sembunyikan di antara tumpukan pakaianku.


Tak sanggup berkata apa-apa hanya ada air mata dan rasa penyesalan yang mendera hatinya,merasa gagal dalam mendidik putri nya.,merasa hancur akan kepercayaannya yang sudah d khianati.


Aku tertegun saat keluar dari kamar mandi dan melihat ibuku yang tengah menangis seraya menggengam kain bercak darah kesucianku.


"Apa yang sudah kamu lakukan nak? kenapa kamu mengkhianati kepercayaan yang sudah mamah berikan untukmu." sederet pertanyaan yang tak mampu aku menjawabnya.

__ADS_1


"Siapa laki-laki itu yang sudah berani mengambil mahkota kesuacianmu? jawab mamah Vita!" isak tangis ibuku membuat ku seperti patung di hadapannya.


"Maafkan aku mah... maafkan Vita... " hanya kata-kata itu yang mampu aku ucapkan,memohon ampun atas rasa kecewa ibuku.


__ADS_2