
Sesampainya di tempat oenginapan, tanpa basa basi aku bergegas menuju kamar mandi, rasa tak sabar untuk meyakinkan bahwa yang aku khawatirkan selama ini tak akan pernah benar adanya.
Satu tes peck sudah di gunakan dan hasilnya membuat hati ku terguncang antara bahagia, takut, sedih bahkan ingin mengutuk diriku sendiri.
Dari hasil yang pertama di gunakan ada garis dua meski garis yang satunya masih tersamar, dengan rasa tak percaya aku menggunakan alat yang satunya lagi.
Di antara positif dan negatif hati ku berkecamuk galau menepis rasa kekhawatiran ku, semoga tes peck yang pertama salah dan yang kedua benar.
Dengan selalu berdoa ku dalam hati menutup hasil tes peck yang nomor dua, ternyata hasilnya sama dengan yang pertama. "POSITIF"
Aku masih meragukan kedua tes peck itu hingga semua tes peck aku gunakan dan hasil yang sama pula yang aku lihat.
Dengan keadaan kacau berkecamuk di relung hatiku, " Aaaaarrrrgggg..... " sekuat tenaga ku berteriak dalam tangis ku.
Rasa tak percaya dengan apa yang ku lihat membuat ku melihat bayangan wajah ibuku akan rasa kekecewaannya pada ku.
"Kamu kenapa dek? " mas Arif terlihat begitu khawatir saat mendengar teriakan ku dari dalam kamar mandi
Aku tak mengkhiraukan rasa ke khawatirannya mas Arif, ku tutup ke dua mata ku agar tak lagi melihat semua hasil yang membuat hati ku kacau.
tok... tok... tok...
"Dek... tolong buka pintunya"
Lagi-lagi ku mendengar mas Arif teriak di balik pintu kamar mandi, aku hanya mampu menangis rasa tak percaya dengan hasilnya.
Aku hamil, dan aku belum tau benar status laki-laki yang sudah meniduri ku selamat ini, apakah dia seorang beestatus singel atau suami orang lain. "Ya Tuhan.... " aku menutup ke dua wajah dengan isak tangis ku.
tok... tok... tok...
lamunan ku krmbali terhenti saat ku dengan lagi ketukan pintu kamar mandi.
Dengan gontai ku buka pintu kamar mandi dan melihat tubuh kekar dengan telanjang dada berdiri tegap di balik pintu kamar mandi.
Merasa heran dengan keadaan kku yang menangis sendu saat menatap wajah nya, aku berhambur lenyap dalam pelukan dada bidang nya.
__ADS_1
"kamu kenapa dek? "
"Aku takut mas.... " air mata ku yang jua berhenti mewakilkan ku dari rasa takut dan khawatir.
"coba kamu cerita yang benar sama aku dek, jangan menangis seperti ini." berupaya membuat ku tenang.
Aku tetap saja dalam isakan tangis ku dalam pelukannya. hingga mas Arif menggendong tubuh mungil ke atas ranjang.
Menatap ku lebih dalam seakan meneliti mencari kegelisahan yang menghantuiku hingga membuat ku mengeluarkan air mata.
Mas Arif beranjak dari sisi ku untuk mengambil air di atas meja dan memberikan nya pada ku agar aku bisa sedikit lebih tenang.
Aku menerima pemberiannya dengan cepat ku habis kan air di cawan itu dan memberikannya kembali cawan yang kosong ke tangan mas Arif.
"Mas... Aku hamil.... " kembali air mata ini mengalir tanpa ku tau apa ekspresinya, mas Aris tercengang saat ku kabari kalau aku sedang mengandung anaknya.
Tak ada ekspresi menandakan kebahagiaan di wajahnya, yang pada umumnya semua manusia akan bahagia jika saat di beritahu bahwa dia akan memiliki anak dari pasangan yang di cintainya.
Tapi lain dengan pria itu, dia hanya menunduk dan menghempas kan nafas yang gusar, seakan beban berkecamuk di dalam hidupnya.
"Maass... " pria itu hanya menoleh kembali menatap kekosongan dari sorot matanya yang dalam, tak ada kebahagiaan seakan terbaca dari sikapnya.
"Kamu baik-baik aja mas? ada apa dengan dirimj mas? " aku mencari dari arti tatapan nya yang kosong meski pria itu membalas dengan senyuman yang seakan di paksakan.
"gak pa-pa dek aku hanya terkejut mendengar pengakuan mu tadi. " seakan menyembunyika sesuatu yang tidak ku mengerti apa itu.
"Aku takut jika ibu ku tau kalau aku saat ini sedang mengandung mas, apa yang harus aku jelaskan ke ibu ku nanti mas? " pria itu mulai dilema akan tindakan apa yang nantikan akan dia ambil.
"Bukan kah sudah ku katakan sedari awal dek, bahwa aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada mu, " dengan tangan nya yang membelai pipi ku dan mencium dalam kening ku.
Aku mulai merasa lega dan ada kedamaian di setiap sentuhan tangan lembut pria itu, sehingga terciptanya kenyamanan saat ku berada di sisi nya.
"Trima kasih mas aku sedikit lega mendengarnya meski masih di liputi rasa khawatir akan kekecewaan ibu ku mas. "
"Tenang lah, sekarang saat nya kamu untuk beristirahat dan mulai esok berusahalah untuk menjahui alkhol juga rokok dek, aku gak mau akan terjadi sesuatu pada anakku kelak nanti dia akan lahir melihat dunia.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk kecil dan memejamkan mata ini, meski meski pria itu hanya duduk di tepi ranjang tapi tangannya tetap menggenggam erat jemari ku.
Terik matahari membuat ku terbangun dari rasa kantuk ku semalam, ku lihat sekeliling ruangan tak ada sosok pria yang menemaki ku tidur semalam.
"mas... " teriak ku di balik pintu kamar mandi, namun tak jua ada yang menjawab di dalam kamar mandi.
Aku heran kemana perginya mas Arif, tak ada jejak juga pesan darinya saar meninggalkan semalam, entah kemana perginya pria itu.
drrr.... drrrr
Ponsel ku bergetar bertanda ada panggilan telfon, langsung ku raih keingin tahuan ku siapa yang menghubungi ku pagi ini.
Saat ku mengenal nama yang tertera di ponsel ku, tanpa berfikir lagi langsung ku geser tombol hijau untuk menerima sambungan telfon.
"Hallo.. sayang... " terdengar suara mesra di seberang sana.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. sebelum aku bertnya mengapa dia pergi aku ingin dia berkata terlebih dahulu.
"Maaf dek... tadi aku berangkat ke kantor tanpa pamit padamu. aku gak tega bangunin kamu yang terlihat lelah sekali. "
"Trus sekarang kamu masih di kantor mas? mau k sini lagi atau gak mas? " jawab ku dengan nada kecewa padanya.
"Ya kamu siap-siap saja dulu nanti mas jemput dek kita makan dulu baru setelah nya terserah kamu mau kemana. "
"Baiklah aku mandi dulu, selesai nanti antar kan saja mas aku ke rumah ibu ku ya. "
"Ya sudah dek, sekalian ada yang mau aku bicarakan juga dengan ibumu nanti dek. " aku bingung dengan yang mas Arif katanya terakhir ucaoannya.
"Mau ngomong apa sma ibu ku mas? " tanya ku dengan teliti.
"Kamu mandi saja dulu bahasnya di rumah ibu kamu saja ya. " ada rasa takut jika mas Arif bercerita tentang kehamilan ku.
"Ya mas. " sambungan terputus saat pria itu berkata salam sebagai penutup pembicaraan kami.
"Apa yang mau bicarakan mas Arif dengan mamah? " aku bergumam sendiri rasa penasaran ku.
__ADS_1
"Apa mungkin mas Arif ingin menikahi sebelum perut ku terlihat buncit? " kembali ku terhanyut dalam lamunan hingga aku melupakan ingin membersihkan tubuh ku.