
Dina keluar dari ruangan Dokter Nisa dengan lunglai. Baru saja Dokter cantik itu memberikan rincian total uang yang harus Dina siapkan untuk biaya oprasi Ayahnya yang mengalami luka serius di kepalanya.
Total uang yang harus Dina siapkan kurang lebih 75 jutaan. Dina bingung darimana ia harus mencari uang sebanyak itu ? Sedangkan rumah yang mereka tinggali saja sudah diagunkan kepada Bank untuk modal usaha budidaya jamur tiram di rumah.
Uang hasil dari panen jamur tiram itu hanya cukup untuk cicilan Bank dan makan sehari-hari. Sedangkan uang gaji Dina sebagai SPG kosmetik hanya cukup untuk bayar listrik , air dan kebutuhan Dina sehari-hari.
Dina masih termenung menatap kertas ditangannya dengan tatapan kosong ketika Dokter Nisa keluar dari ruangannya dan bersiap untuk pulang.
"Loh..kamu masih disini ?" Tanya Dokter Nisa kepada Dina.
"Eh iya, Dok " Dina kaget sekaligus malu karena ketahuan sedang melamun disana.
Dina buru-buru memasukan kertas itu kedalam saku bajunya kemudian buru-buru pamit menuju ruang perawatan Ayahnya. Dokter Nisa menatap kepergian Dina dengan hati trenyuh. Ia tahu apa yang sedang gadis cantik itu pikirkan..pasti soal biaya oparasi Ayahnya.
Tiga hari yang lalu Ayah Dina mengalami kecelakaan saat akan mengantarkan jamur tiram kepada langganannya. Motor yang dikendarai Ayahnya ditabrak oleh mobil dan mobil itu kabur. Ayah Dina mengalami luka serius di kepalanya dan harus segera dioprasi.
Dokter Nisa melangkahkan kakinya menuju parkiran tempat mobilnya berada. Sepanjang kakinya melangkah kesana entah kenapa wajah bingung Dina selalu membayanginya. Dokter Nisa seolah dapat merasakan kesedihan dan kebingungan yang sedang Dina rasakan ketika harus mencari uang untuk biaya oprasi Ayahnya.
Dokter Nisa baru saja akan menyalakan mesin mobilnya ketika suaminya menelponnya.
"Iya, Sayang " Sapa Dokter Nisa lembut
"Jadi kan besok kita ke Panti Asuhan ? "
Dokter Nisa termenung. Rencananya besok mereka akan pergi ke sebuah panti asuhan untuk mengadopsi bayi. Tapi entah mengapa kali ini Dokter Nisa malah meragu. Padahal sebelumnya ia lah yang pertama menyarankan untuk mengadopsi Bayi.
Adopsi adalah cara satu-satunya bagi mereka untuk memiliki momongan setelah ia dinyatakan mandul. Sebelumnya Dokter Nisa menyarankan suaminya untuk menikah lagi. Sudah beberapa wanita baik-baik yang Dokter Nisa tawarkan untuk suaminya nikahi namun selalu ditolak.
"Sayang.." Panggil suaminya di ujung sana.
"I..iya Mas..kita bicarakan lagi di rumah ya. Sebentar lagi aku pulang " Jawab Dokter Nisa.
"Baiklah..aku juga sebentar lagi pulang " Jawab suaminya dan sambungan telepon pun berakhir.
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan suaminya, Dokter Nisa malah turun dari mobil kemudian kembali ke ruangan tempat ia bertemu dengan Dina tadi dan ia menemukan Dina sedang termenung di sebuah bangku besi di depan ruang perawatan Ayahnya..kenapa gadis itu sangat hobi melamun ?
"Kamu pikir dengan melamun biaya oprasi Ayah kamu tiba-tiba ada ?" Tanya Dokter Nisa.
Dina tersenyum getir dan menggeser duduknya memberi ruang bagi Dokter cantik itu untuk duduk di sebelahnya.
"Saya masih belum tahu harus kemana mencari uang sebanyak itu " Jawab Dina jujur. Kepalanya menunduk menatap pada sepatu bututnya.
"Kalau saya memberikan satu penawaran kepada kamu bagaimana ?" Tanya Dokter Nisa dengan sangat hati-hati.
"Penawaran ?" Dina mengangkat kepalanya, ada setitik harapan dalam mata indahnya.
Dokter Nisa mengangguk
"Bu Dokter mau menolong saya ?" Tanya Dina
"Bukan saya menolong kamu..tapi kita saling menolong satu sama lain " Jawab Dokter Nisa.
"Apakah ada yang sedang membutuhkan ginjal ? Kalau ada saya bersedia menjual satu ginjal saya asal Ayah saya bisa segera dioprasi " Kata Dina membuat Dokter Nisa sangsung melotot.
"Tidak..tidak..bukan begitu " Potong Dokter Nisa cepat.
Dina terlihat bingung.
"Begini..saya akan membayar biaya oprasi Ayah kamu sampai benar-benar sembuh asal kamu mau menolong saya " Kata Dokter Nisa
"Menolong apa, Dok..saya mau..sungguh " Sambar Dina.
"Saya divonis mandul..saya dan suami sangat ingin memiliki momongan..saya ingin kamu menikah dengan suami saya dan memberi kami keturunan " Kata Dokter Nisa lirih dan matanya menatap lekat kearah Dina.
Dina termangu, ia jadi ingat pada film yang pernah ditontonnya dimana si tokohnya pergi setelah bayinya lahir..astaga apakah ia juga akan mengalami nasib seperti tokoh dalam film itu ?
"Ini bukan semacam kawin kontrak..jika kamu berhasil memberikan kami keturunan aku tidak akan membuang kamu..aku tidak keberatan berbagi suami dengan kamu dan kita bisa mengurus anak-anak kita bersama-sama " Kata Dokter Nisa.
Dina menatap Dokter Nisa heran. Wanita ini benar-benar gila..mana ada di dunia ini wanita yang mau dimadu untuk alasan apapun.
"Tapi jika setelah berhasil melahirkan anak untuk Dokter dan saya memilih pergi apakah itu boleh ?" Tanya Dina.
"Itu hak kamu dan saya tidak akan memaksa " Jawab Dokter Nisa.
"Tapi jika setelah menikah saya tidak kunjung hamil juga ?" Tanya Dina
"Saya kasih kamu waktu enam bulan. Jika tidak kunjung hamil juga maka kamu harus menceraikan suami saya..dan kamu tidak perlu mengganti uang yang sudah saya keluarkan untuk biaya oprasi Ayah kamu karena ini diluar kuasa kamu " Jawab Dokter Nisa tegas.
Dina tidak mau berpikir lama. Yang terpenting baginya adalah kesembuhan Ayahnya dan akhirnya Dina pun memutuskan menerima tawaran untuk menjadi istri kedua suami Dokter Nisa.
Dina tidak peduli mau seperti apa suami Dokter Nisa itu..mau gendut, ceking, jelek yang penting Ayahnya segera dioprasi.
"Baiklah..saya akan urus administrasinya sekarang dan setelah Ayah kamu dioprasi dan sembuh saya akan urus pernikahan kamu dengan suami saya " Kata Dokter Nisa.
"I..iya.." Jawab Dina.
Sebelum pergi Dokter Nisa juga memberi Dina sejumlah uang. " Ini untuk pegangan kamu..menunggui pasien juga butuh biaya untuk makan " Katanya.
Dina termangu menatap uang ditangannya yang lumayan banyak, mungkin bisa dua kali lipat dari gajinya sebagai SPG kosmetik.
Setelah Dokter Nisa pergi, Dina mengela nafasnya dan membuangnya ke udara. Tidak apa-apa ia mengorbankan dirinya yang penting ia tidak melakukan dosa. Toh nantinya ia tidak berzina karena ia akan menikah daripada ia menjual keperawanannya kepada lelaki hidung belang yang sudah jelas-jelas hukumnya dosa.
__ADS_1
Setelah terjadi kesepakatan dengan Dokter Nisa, malam itu juga Ayah Dina langsung masuk ke ruang oprasi. Dina menunggui seorang diri karena Ibunya malah jatuh sakit karena memikirkan biaya oprasi suaminya.
---------------
"Kamu gila, Nis...dari dulu kamu tahu kan kalau aku ini tidak mau menikah lagi. Kemarin kita sudah sepakat untuk adopsi lalu kenapa sekarang kamu berubah pikiran ? "
Sepasang suami istri itu terlibat perdebatan yang sengit.
"Anak adopsi sama anak darah daging kamu itu beda sayang..aku ingin mengurus anak darah daging kamu daripada anak adopsi yang sama sekali tidak ada hubungan darah " Jawab Dokter Nisa.
"Kamu itu keras kepala " Umpat suaminya.
"Gadis yang akan menikah dengan kamu itu gadis baik-baik..dia menerima tawaran aku demi biaya oprasi Ayahnya..itu tandanya dia anak yang berbakti " Kata Dokter Nisa sambil memeluk perut suaminya.
"Kamu kalau mau menolong itu jangan minta pamrih " Tegur suaminya.
"Ini aku lakukan demi kita, Mas..agar kita memiliki momongan " Jawab Nisa.
"Terserah kamu lah " Jawab suaminya pasrah.
"Kamu tidak usah khawatir, Mas..gadis itu sangat cantik. Usianya mungkin sekitar 22 tahunan " Kata Nisa.
"Terserah kamu..aku tidak peduli " Jawab suaminya sambil melepaskan tangan Nisa diperutnya dan kemudian pergi ke ruang kerjanya.
"Bisa-bisanya kamu memaksa suami kamu untuk menikah lagi..dasar gila "
* *
Semalam Abimanyu tidur di ruang kerjanya. Ia masih kesal kepada Nisa yang terus memaksa dirinya untuk menikahi gadis pilihannya.
Beberapa bulan yang lalu Nisa juga memperlihatkan photo dua orang gadis perawat di Rumah Sakit tempatnya bekerja namun Abimanyu menolak mentah-mentah keduanya.
Nisa baru berhenti menawarkan wanita kepadanya setelah mereka sepakat untuk mengadopsi bayi.
Namun siapa sangka sekarang Nisa malah berubah pikiran tidak mau adopsi dan malah menyuruh Abimanyu untuk menikahi seorang gadis yang baru dikenalnya di rumah sakit.
Abimanyu keluar dari ruang kerjanya dengan wajah yang kusut. Lehernya terasa kaku dan pegal karena semalaman ia tidur di sofa.
"Pegal ya ? Siapa suruh tidur di sofa " Kata Nisa sambil mendekat dan memijit leher Abimanyu.
Nisa tetap bersikap lembut kepada Abimanyu meskipun semalam mereka berdebat dan nyaris bertengkar.
Abimanyu memejamkan matanya menikmati pijitan istrinya. Rasa kesal Abimanyu kepada Nisa pun langsung menguar dan dipeluknya perut sang istri.
"Hari ini aku akan ke Rumah Sakit. Semalam Ayah gadis itu sudah dilakukan tindakan oprasi, aku akan memastikan kalau keadaannya baik-baik saja " Kata Nisa.
Abimanyu menghela nafas berat semakin mengeratkan pelukannya di perut Nisa. Jika sudah begini masih bisakah ia menolak keinginan Nisa ?
"Tidak..aku mau ke rumah Bunda saja " Jawab Abimanyu dengan suara lesu.
"Baiklah..nanti sepulang dari Rumah Sakit aku nyusul kesana " Kata Nisa.
"Sayang..kalau kamu nyusul kesana jangan cerita apapun tentang niat kamu ini " Pesan Abimanyu.
Ia tidak mau masalah ini sampai ke telinga seluruh keluarganya. Meskipun Abimanyu dan Nisa sudah dipastikan tidak akan bisa memiliki keturunan namun tidak ada sedikitpun niat Abimanyu untuk menikah lagi.
Ada atau tidak ada anak Abimanyu akan tetap setia kepada Nisa walaupun awalnya pernikahan mereka tanpa didasari cinta.
Jika sekarang Abimanyu harus mengikuti keinginan Nisa agar ia menikah lagi itu hanya semata-mata untuk menyenangkan Nisa.
Tidak bisa dipungkiri jika Nisa memiliki beban mental karena tidak bisa memberikan keturunan kepada Abimanyu apalagi jika seluruh keluarga sedang berkumpul.
Diantara seluruh klan Ardinata hanya mereka lah yang tidak memiliki keturunan dan itu membuat Nisa merasa tidak percaya diri meskipun seluruh keluarga selalu memberi support kepada mereka.
"Kenapa aku jangan cerita apapun kepada keluarga kamu ? Aku pikir mereka harus tahu " Kata Nisa sambil menatap heran wajah tampan Abimanyu.
"Kalau begitu jangan harap aku mau menuruti keinginan gila kamu itu " Ancam Abimanyu.
"Baik..aku tidak akan cerita kepada siapa pun termasuk keluarga aku " Nisa akhirnya setuju.
"Ya..cukup ini jadi rahasia kita berdua saja " Kata Abimanyu dengan suara getir.
Setiap kali membahas tentang keinginan Nisa itu Abimanyu selalu merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan dan menyesakan dadanya.
Selesai memijit tengkuk Abimanyu, Nisa pun menyuruh Abimanyu untuk sarapan.
Diatas meja sudah ada roti isi dan secangkir kopi untuk Abimanyu. Diatas meja juga ada sebuah kotak makan berisi dua buah roti isi untuk Nisa bawa ke Rumah Sakit.
Nisa sengaja membawa roti isi itu untuk Dina yang pastinya ada disana sedang menunggui Ayahnya yang semalam habis menjalani oprasi.
Pada saat mereka sedang sarapan Nisa terlihat menghubungi Dokter bedah yang semalam menangani operasi Ayah Dina untuk mengecek keadaannya.
"Syukurlah oprasinya lancar, tinggal menunggu kondisinya stabil " Nisa memberitahu keadaan calon mertua Abimanyu.
Abimanyu membuang muka, ia tidak peduli tentang apapun keadaan calon mertuanya itu.
Nisa belum pergi sebelum Abimanyu pergi. Nisa sadar jika saat ini Abimanyu masih menyimpan kemarahan kepadanya dan belum bisa menerima permintaannya itu.
"Salam ya sama Bunda dan Daddy " Kata Nisa saat Abimanyu akan masuk kedalam mobilnya.
"Ya " Jawab Abimanyu.
__ADS_1
Setelah mobil Abimanyu melaju menjauh barulah Nisa masuk kedalam mobilnya dan pergi ke Rumah Sakit tempatnya bekerja sekaligus tempat Ayah Dina dirawat.
Tiba di Rumah sakit Ayah Dina masih berada di ruangan ICU. Rencananya setelah kondisinya stabil baru akan dipindahkan ke ruangan perawatan.
Nisa menghampiri Dina yang sedang terkantuk-kantuk di kursi besi di lorong Rumah sakit dekat ruang ICU.
"Bu Dokter ?" Dina langsung membuka matanya saat menyadari kedatangan Nisa.
"Kamu sendirian ? Ibu kamu tidak kesini ?" Tanya Nisa
"Tidak Bu Dokter..ibu saya suruh istirahat di rumah karena mengalami demam dan tensinya naik karena memikirkan biaya oprasi untuk Ayah " Jawab Dina.
"Kenapa tidak ikut berobat malah pulang ?" Tanya Nisa.
"Untuk biaya berobat Ayah saja kemarin belum dapat apalagi kalau ditambah biaya berobat ibu " Jawab Dina sambil tersenyum getir.
"Aku mengerti..tapi setidaknya kalian sekarang sudah tenang karena Ayah kamu sudah bisa dioprasi dan keadaannya juga mulai stabil..dan kamu harus beritahu ibu kamu biar beliau tidak kepikiran terus " Kata Nisa.
"Sudah semalam Bu Dokter " Jawab Dina.
"Oh iya..aku bawa sarapan untuk kamu. Pasti kamu belum sarapan kan ?" Nisa memberikan kotak berisi roti isi kepada Dina.
"Iya..saya memang belum sarapan Bu dokter " Dina mengaku.
"Ya sudah makanlah !" Kata Nisa.
Dina yang memang sedang lapar akhirnya memakan roti itu dengan lahap.
"Bu Dokter sudah sarapan ?" Tanya Dina sambil menyusut mulutnya yang belepotan dengan tangannya.
"Sudah tadi dengan suami saya " Jawab Nisa.
"Oh " Ujar Dina.
"Dina.. sebaiknya kamu jangan panggil saya Bu Dokter..panggil saja saya mbak Nisa " Kata Nisa.
"I..iya Bu..eh... Mbak Nisa " Jawab Dina sambil mulai makan roti keduanya.
Selama belum mendapatkan uang untuk oprasi Ayahnya Dina memang kehilangan selera makannya dan setelah Ayahnya berhasil di oprasi barulah Dina kembali berselera makan. Bahkan Dina menghabiskan dua buah roti isi yang dibawa Nisa dengan cepat.
"Terimakasih mbak..rotinya enak " Ucap Dina.
Setelah menghabiskan rotinya Dina dan Nisa mulai berbicara serius.
Nisa ingin memberikan beberapa pertanyaan kepada Dina. Nisa ingin menggali lebih dalam kehidupan Dina sebelum wanita itu masuk kedalam kehidupannya dan Abimanyu.
"Apakah kamu punya pacar ?" Tanya Nisa memulai sesi wawancara nya.
"Tidak Mbak " Jawab Dina.
"Pernah punya pacar ?"
Dina mengangguk
"Pernah waktu SMA..tapi kami putus. lebih tepatnya aku yang memutuskan dia " Jawab Dina sambil menunduk, ada kesedihan di wajah cantiknya.
"Kalau kamu yang memutuskan dia lalu kenapa kamu terlihat sedih ?" Tanya Nisa.
"Sa..saya terpaksa memutuskan dia Mbak. Sebetulnya saya sangat mencintai dia. Tapi keadaanlah yang memaksa saya untuk meninggalkan dia..saya pacaran dengan dia sejak saya duduk di bangku SMA kelas 1 dan dia sudah kuliah di Luar negri " Dina mulai bercerita.
"Berarti pacar kamu anak orang kaya ya ?" Tanya Nisa.
"Iya Mbak..sangat kaya malah. Hampir seluruh saudaranya kuliah di Luar Negri " Jawab Dina.
"Lalu kenapa kamu putusin dia ?" Tanya Nisa.
"Waktu itu usaha Ayah bangkrut dan kami terlilit utang kepada rentenir. Rentenir itu akan membebaskan semua utang Ayah asal aku mau jadi istri mudanya..kalau tidak dia akan menjebloskan Ayah ke penjara " Jawab Dina.
"Lalu kamu mau ?"
"Iya mbak..saat itu saya tidak punya pilihan lain. Saya dan rentenir itu hampir menikah padahal saya masih sekolah dan saya terpaksa memutuskan pacar saya "
"Pacar kamu kan kaya, kenapa tidak minta tolong pada dia saja untuk membayarkan utang keluarga kamu ?"
"Saya tidak berani Mbak. Saat itu dia masih kuliah di Luar negri dan saya tidak mau membebani dia, selain itu keluarga dia juga belum tentu mau menerima saya karena saya dengan dia itu seperti langit dengan bumi "
Ada kesedihan yang teramat dalam di wajah cantik Dina. Nisa pun ikut trenyuh melihatnya. Jelas sekali terlihat jika Dina sangat mencintai pacarnya itu.
"Lalu ?"
"Saya beruntung karena Tuhan masih berbaik hati sama saya.. saya tidak jadi menikah karena rentenir yang akan menikahi saya itu meninggal karena kecelakaan " lanjut Dina.
"Lalu kenapa kamu tidak balikan dengan pacar kamu itu ?"
"Kami langsung los kontak..dia memblokir nomor saya..dia pastinya sangat membenci saya " Jawab Dina sambil tersenyum getir.
"Sayang sekali ya..padahal masih ada kesempatan kalian bersatu lagi " Kata Nisa.
"Tidak Mbak..saya tidak berani bermimpi mengharapkan dia lagi.. dia tidak sebanding dengan saya. Dia pasti akan mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari saya..dan saya selalu mendoakan dia agar bahagia dimanapun dan dengan siapapun dia sekarang "
Pada saat mengatakan itu air mata Dina pun luruh dan Nisa pun buru-buru meraih Dina kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku sekarang semakin yakin jika Dina adalah wanita yang cocok untuk kamu nikahi dan akan melahirkan anak-anak kita, Mas " Batin Nisa.