
Dina masih tertidur pulas di kamarnya ketika Nisa masuk ke kamarnya dengan berlinangan air mata.
"Mbak Nisa kenapa ?" Dina nyaris loncat dari atas ranjang jika saja Nisa tidak menahan tangannya sambil melotot.
"Na..hati-hati dong. Jangan bangun mendadak begitu..kamu itu sedang hamil " Dalam keadaan menangis pun Nisa masih sempat memarahi Dina.
"Maaf mbak..abisnya aku kaget lihat mbak Nisa menangis " Jawab Dina.
"Papa aku kena serangan jantung, aku harus pergi sekarang.Rencananya hari ini Papa akan dibawa ke Singapura. Sebelum pergi aku titip Mas Abi ya sama kamu..dia makannya masih belum bener dan masih sering muntah-muntah " Kata Nisa.
"Memangnya Mas Abi tidak ikut ?" Tanya Dina
"Tidak..kondisi dia masih mengkhawatirkan selain itu dia juga sedang banyak kerjaan " Jawab Nisa.
"Iya, Mbak tenang saja. Aku akan lakukan pesan mbak itu " Jawab Dina.
"Baiklah..aku akan pergi sekarang " Kata Nisa.
"Iya mbak..semoga Papanya lekas sehat kembali dan Mbak Nisa jangan banyak pikiran. Fokus saja sama kesembuhan Papa mbak Nisa " Kata Dina.
Nisa mengangguk. " Terimakasih, Na "
Selepas Nisa pergi Dina menjadi bingung sendiri. Bagaimana bisa mengurusi Abimanyu jika masuk ke dalam rumahnya saja ia tidak boleh. Setelah berpikir cukup keras akhirnya Dina menemukan solusi cara mengurus Abimanyu tanpa masuk kedalam rumahnya.
Sore ini Dina sudah memasak makanan untuk Abimanyu yang sebentar lagi akan pulang. Hari ini ia membuat prekedel, capcay dan Ayam goreng karena bahan makanan itulah yang ada di dalam kulkasnya. Mungkin besok ia harus pergi ke Pasar untuk membeli bahan makanan lengkap untuk stok di dalam kulkasnya.
Setelah semua masakannya siap Dina pun memasukkannya kedalam beberapa kotak makanan. Ada empat kotak yang Dina siapkan yaitu berisi Nasi hangat, perkedel, Ayam goreng dan capcay. Setelah siap Dina pun menelpon jasa kurir untuk mengantarkan semua makanan itu ke rumah Abimanyu.
Kurir itu tampak kebingungan saat menyadari jika alamat yang dituju adalah tepat di rumah sebelah.
"Mbak yakin tidak salah memasukkan alamat rumahnya ?" Tanya kurir itu.
"Tidak Mas..alamatnya memang di sebelah " Jawab Dina sambil nyengir.
"Baiklah " Jawab kurir itu sambil membawa empat kotak makanan itu dan akan ia antarkan ke rumah sebelah.
"Mas..besok juga saya akan menyuruh Mas lagi apakah tidak keberatan ?" Tanya Dina sebelum kurir itu pergi.
"Tentu tidak mbak..kalau begitu tidak usah masuk ke aplikasi. Mbak bisa langsung hubungi saya saja " Kata kurir itu sambil tersenyum.
"Kalau orangnya tanya dari siapa bilang saja mbak Nisa yang nyuruh" Kata Dina.
__ADS_1
"Baik mbak " Jawab kurir itu lagi.
Abimanyu yang baru selesai mandi bersiap untuk pergi ke dapur. Ia akan membuat makanan karena perutnya terasa lapar.
Baru saja Abimanyu memakai apronnya tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Tanpa melepaskan apronnya Abimanyu pun pergi untuk membukakan pintu.
"Maaf Mas saya mau mengantarkan paket makanan " Kata kurir itu.
"Saya tidak memesan makanan apapun..mungkin kamu salah alamat " Jawab Abimanyu.
"Pesanan ini atas nama Ibu Nisa, Mas " Kata mas Kurir.
Mendengar jika yang memesan adalah Nisa barulah Abimanyu mau menerimanya.
Setelah kurir itu pergi Abimanyu pun melepaskan apronnya dan membuka semua kotak makan itu.
"Terimakasih sayang..kamu tahu saja kalau aku sedang lapar. Makanannya masih hangat lagi " Gumam Abimanyu sambil mengambil piring dan mulai makan. Tentu saja makanan itu masih hangat karena makanan itu diantarkan dari rumah sebelah dan bukan dari tempat yang jauh.
Abimanyu begitu menikmati makanan itu yang menurutnya sangat pas di lidahnya. Ia benar-benar bersyukur memiliki istri yang begitu pengertian seperti Nisa yang masih berusaha memperhatikan suaminya meskipun sedang sibuk mengurusi Papanya yang sedang sakit keras..Abimanyu tidak menyadari istri yang mana yang menurutnya sangat pengertian itu.
Seandainya Abimanyu tahu jika makanan itu adalah hasil masakan Dina sudah pasti ia tidak akan mau memakannya atau bisa saja akan membuangnya.
Setelah menghabiskan makanannya Abimanyu pun kembali membereskan mejanya hingga tidak menyisakan apapun diatasnya kecuali segelas air putih.
Namun setelah hampir setengah jam menunggu dengan perasaan was-was akhirnya pria tampan itu bisa merasa sedikit lega karena ia tidak merasakan mual sedikitpun. Bahkan Abimanyu bisa tidur dengan nyenyak karena perutnya sudah terisi.
Keesokannya Dina kembali menyuruh kurir yang kemarin mengantarkan makanan lagi ke rumah Abimanyu namun dengan menu yang berbeda. Dan lagi-lagi Abimanyu memakannya dengan lahap tanpa ada drama muntah-muntah seperti setiap habis sarapan pagi dan makan siang.
Abimanyu baru menyadari jika hanya makanan yang selalu diantarkan oleh kurir lah yang selalu selamat masuk ke lambungnya tanpa sempat ia muntahkan. Namun setiap Abimanyu menanyakan alamat Restonya kurir itu selalu menolak memberitahu alamatnya. Bahkan Nisa pun tidak pernah memberitahu alamat Restonya, Nisa hanya pernah memberitahu nomor teleponnya dan anehnya nomor telepon itu malah tidak aktif..sepertinya ada yang keliru dengan nomornya.
*
Dua hari sejak kepergian Nisa ke Singapura Abimanyu pun menyusul untuk menengok Papa mertuanya. Sehari setelah kedatangan Abimanyu di Singapura Papa Nisa pun menghembuskan nafasnya.
Nisa tampak terpukul dengan kepergian Papanya itu dan wanita itu tidak berhenti menangis dalam pelukan Abimanyu.
Kedatangan Abimanyu yang sejatinya untuk menengok pada akhirnya malah mengurus pemulangan jenazah mertuanya itu ke Indonesia. Beruntung disana ada suami Eira yang ikut membantu segala sesuatunya sehingga menjadi lebih mudah.
Kabut duka yang mendalam menyelimuti kediaman orangtua Nisa. Pada saat acara pemakaman yang dilakukan di daerah Karawang, Nisa dan ibunya beberapa kali pingsan di area pemakaman.
Disaat ini hanya Abimanyu lah satu-satunya pria yang bertanggung jawab di rumah itu setelah kepergian Papa Nisa. Abimanyu memaksakan menguatkan diri di tengah kondisi tubuh yang lemah karena kehamilan simpatik yang sedang dialaminya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Nisa dan keluarganya Abimanyu beberapa kali melipir ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Setelah selesai acara pemakaman Dina memberanikan diri untuk datang ke rumah Nisa untuk mengucapkan turut berduka cita. Keadiran Dina membuat Abimanyu kaget, ia tidak menyangka jika Dina akan memiliki keberanian datang ke rumah duka.
Pada saat Dina datang seluruh keluarga Abimanyu sudah pulang hanya menyisakan Aksa dan Sherina saja yang rencananya akan menginap disana.
Kedatangan Dina sontak langsung menjadi pusat perhatian Aksa dan Sherina apalagi saat melihat Nisa menangis tergugu di pelukan Dina.
"Mbak Nisa yang sabar ya..semua ini sudah takdir dari Tuhan jadi kita harus iklas menerimanya " Dina mengusap-ngusap punggung Nisa sambil berderai air mata.
Dina pun dapat merasakan kesedihan yang sedang Nisa rasakan karena ia juga nyaris mengalaminya saat Ayahnya kecelakaan.
"Bi..dia yang anaknya akan lu adopsi ?" Tanya Aksa saat mereka duduk di teras depan sambil menerima beberapa tamu yang datang untuk mengucapkan berbelasungkawa.
"Iya " Jawab Abimanyu singkat.
"Kalau anaknya perempuan pasti nantinya akan sangat cantik karena ibunya juga cantik " Kata Aksa.
"Hmm..." Hanya itu jawaban Abi
"Gue heran kok ada ya suami yang tidak bertanggung jawab yang tega menelantarkan istrinya yang sedang hamil " Gumam Aksa
Abimanyu tidak menjawab apapun. Gara-gara Nisa asal mengarang cerita tanpa konfirmasi terlebih dahulu jadinya Abimanyu merasa sebagai suami yang tidak bertanggung jawab..meskipun kenyataannya memang seperti itu namun Abimanyu tetap saja tidak menerimanya.
*
"Na..kenalin ini adiknya Mas Abi " Nisa nyaris melupakan kehadiran si inces disana.
"Hai..saya Sherina. Kita pernah bertemu dua kali waktu di coffe shop " Sapa Sherina ramah sambil menyalami Dina.
"Oh iya mbak..saya Dina, kebetulan saya ngontrak di rumahnya mbak Nisa " Jawab Dina sambil tersenyum manis.
"Iya..mbak Nisa pernah cerita tentang kamu " Jawab Sherina.
Berbicara dengan wanita secantik Sherina yang natabene adalah adiknya Abimanyu dan berarti adik iparnya juga membuat Dina merasa sedikit minder.
Dari penampilannya saja Sherina terlihat sangat berkelas, dan Dina merasa seperti langit dengan bumi jika berhadapan dengan keluarga Abimanyu meskipun pada kenyataannya Sherina terlihat sangat ramah dan tidak sombong sama sekali.
Meskipun begitu tidak membuat rasa minder Dina sirna. Dina semakin merasa tidak ada apa-apanya di hadapan Abimanyu. Pantas saja Abimanyu begitu tidak menginginkannya karena memang kelas mereka yang sangat jauh berbeda.
Dina tidak lama berada di rumah duka karena ia dapat menangkap degan jelas tatapan tidak suka dari Abimanyu. Sebelum Abimanyu marah dan mengusirnya Dina pun memutuskan untuk pamitan.
__ADS_1
Sikap dingin Abimanyu kepada Dina sempat tertangkap oleh penglihatan Aksa. Dalam hati Aksa merasa heran karena tidak biasanya Abimnayu bersikap sombong kepada orang lain. Semua anak Daddy Dipa tidak ada yang bersifat sombong..namun entah mengapa sikap Abi kepada Dina menurut Aksa terlihat aneh.