
Meskipun tinggal di rumah orangtuanya namun Nisa selalu menyempatkan diri mengunjungi Dina diantara kesibukannya. Nisa selalu rajin membelikan susu khusus untuk ibu hamil dengan merk terbaik untuk Dina. Nisa selalu memastikan jika stok susu Dina tidak pernah kehabisan. Jika diperhatikan dengan seksama Nisa terlihat lebih siap untuk menjadi orangtua dibandingkan Abimanyu.
Sore ini adalah jadwal Dina periksa kandungan. Seperti biasa Dina pergi hanya berdua dengan Nisa. Dan karena jadwal periksa nya sore Nisa pun pulang ke rumah menjadi terlambat beberapa jam dari biasanya.
Saat Nisa sampai ke rumah ia langsung mendapat omelan dari Mamanya karena pulang terlambat dan Abimanyu sudah pulang lebih dulu sejak beberapa jam yang lalu.
"Kamu abis darimana dulu baru pulang jam segini ?" Tanya Abimanyu saat Nisa masuk ke kamarnya setelah mendapat omelan panjang lebar dari Mamanya dibawah.
Nisa menyimpan tasnya kemudian merangkul Abimanyu yang terlihat berwajah masam.
"Aku habis ngantar Dina periksa kehamilan " Jawab Nisa.
"Kenapa harus diantar-antar segala sih ? Memangnya dia tidak bisa pergi sendiri..lagian kenapa tidak minta diantar ibunya saja jadi kamu kan tidak pulang terlambat seperti ini " Omel Abiamanyu.
Mendengar ucapan Abimanyu itu Nisa langsung melepaskan rangkulannya.
"Tega ya Mas kamu ngomong seperti itu. Seharusnya yang mengantar Dina periksa kandungan itu bukan aku ataupun ibunya..TAPI KAMU KARENA KAMU ADALAH AYAHNYA..ingat Mas..bayi yang sekarang Dina kandung itu adalah darah daging kamu " Nisa langsung marah kepada Abimanyu.
Abimanyu langsung diam dan tidak bisa berkutik.
"Kamu itu denger aku habis nganter Dina periksa bukannya tanya bagaimana keadaan nya dan janin dalam perutnya..ini malah marah-marah " Nisa tidak dapat berhenti mengomel karena menurutnya Abimanyu itu sudah sangat keterlaluan.
Nisa yang berniat akan memperlihatkan hasil cetak USG pun akhirnya memilih mengurungkannya saking jengkelnya atas sikap Abi itu.
"Aku itu heran ya sama kamu Mas..kenapa sih sikap kamu sama Dina itu tidak bisa baik barang sedikitpun ? Aku tahu jika kamu terpaksa menikah dengan dia, tapi setidaknya perlakukanlah dia dengan baik selama dia mengandung anak kamu dan beri dia perhatian..kamu tidak usah lihat Dinanya tapi lihat bayi yang sedang dia kandung. Meskipun belum bisa apa-apa tapi dia juga ingin merasakan sentuhan kasih sayang dari Ayahnya " Nisa berusaha menyentuh hati Abi.
"Jangan paksa aku " Jawab Abimanyu sambil pergi ke balkon dan merokok disana membuat Nisa benar-benar jengkel dengan sikap keras kepala suaminya itu.
-----------------
Setelah perdebatan itu sikap Nisa kepada Abimanyu menjadi dingin. Nisa benar-benar kecewa dengan sikap suaminya itu. Entah mengapa Nisa merasa sekarang ini Abimanyu menjadi banyak berubah. Nisa seperti kehilangan sosok Abimanyu yang selama ini ia kagumi..dimata Nisa Abimanyu yang sekarang bukanlah Abimanyu yang dulu.
Dulu Nisa mengenal Abimanyu sebagai sosok yang ramah, humble dan menyenangkan dan juga tengil. Namun semua itu sirna seketika setelah Dina hadir diantara mereka.
Nisa samasekali tidak mengerti kenapa Abi begitu membenci Dina padahal melalui gadis itulah mimpi Abimanyu dan Nisa untuk menjadi orangtua akan segera terwujud.
Perubahan sikap Nisa itu membuat Abimanyu menjadi semakin jengkel kepada Dina, karena kehadiran Dina sudah membuat hubungannya dengan Nisa yang selama ini tidak pernah bermasalah menjadi buruk.
Sudah dua hari Nisa selalu cemberut kepadanya, tidak ingin kemarahan Nisa semakin berlanjut siang itu Abimanyu mendatangi Rumah sakit tempat Nisa bekerja untuk mengajak makan siang bersama.
Nisa yang memang kebetulan akan pergi untuk makan siang kaget ketika Abiamnyu tiba-tiba muncul di ruangannya.
"Mas Abi..kenapa tidak bilang-bilang kalau mau kesini ? Untung aku belum pergi " Kata Nisa.
"Aku mau ajak kamu makan siang diluar. Sudah lama kita tidak makan siang bersama diluar " Jawab Abimanyu.
"Tumben..memangnya tidak sibuk ?" Tanya Nisa menyindir
"Bukannya kamu yang selama ini sibuk ? Sibuk ngurusin si Dina dan melupakan suami kamu ini " Abi balas menyindir.
Nisa menatap tajam kearah Abimanyu. "Sebetulnya kamu ini mau ngajak makan siang bareng atau mau nyindir-nyindir aku ?" Tanya Nisa ketus.
"Tadi kamu yang mulai nyindir-nyindir aku " Gumam Abiamnyu.
"Ya sudah kamu cari makan siang sendiri saja sana ! Aku malas pergi sama kamu " Nisa pun menjadi jengkel.
"Ayolah sayang..aku kesini dengan niat baik ngajak kamu makan bareng, masa kamu usir sih " Rayu Abi.
"Habisnya kamu nyebelin " Nisa menggerutu namun ia tidak bisa menolak saat Abi menuntunnya menuju mobilnya.
"Kamu duduk yang manis dan aku mohon jangan membahas apapun tentang Dina karena aku malas bertengkar sama kamu " Kata Abimanyu sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.
Awalnya Nisa terlihat cemberut namun ketika ia mendapati wajah lelah Abimanyu emosi Nisa pun menjadi sedikit surut. Apakah Abi begitu tertekan dengan pernikahan keduanya itu ? Ada sedikit rasa bersalah muncul di hati Nisa saat melihat wajah lelah dan kuyu Abimanyu itu.
Jika benar Abimanyu merasa tertekan itu artinya ia juga telah turut andil membuat Abimanyu terjebak dalam situasi yang benar-benar tidak dia inginkan.
"Apakah kamu masih sering muntah-muntah ?" Tanya Nisa.
"Ya..di kantor saja ada lima kali aku muntah " Jawab Abimanyu.
Hm..pantas saja wajah tampan suaminya itu terlihat pucat.
__ADS_1
"Coba kamu ingat-ingat deh..kira-kira makanan apa yang bisa aman masuk ke perut kamu ?" Tanya Nisa.
Walaupun jengkel namun Nisa juga merasa kasian dengan kehamilan simpatik yang sedang Abi alami.
"Entahlah " Jawab Abimanyu lirih.
Abimanyu terlalu gengsi untuk memberitahu Nisa kalau makanan buatan Dina lah yang tidak pernah ia muntahkan lagi. Bisa besar kepala nantinya si Dina.
"Mas..kamu tidak ingin tahu apa jenis kelamin calon anak kita ?" Tanya Nisa saat mereka sudah sampai di sebuah Restoran dan sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Tidak " Jawab Abimanyu santai membuat wajah Nisa kembali cemberut saking jengkelnya.
Melihat perubahan wajah Nisa yang kembali sangar itu membuat Abi sadar jika ia sudah kembali melakukan kesalahan.
"Memangnya apa jenis kelaminnya ?" Akhirnya Abi pun bertanya.
Abi bukan bertanya karena ingin tahu namun lebih karena takut Nisa ngambek lagi jika ia terkesan tidak peduli dengan jenis kelamin calon anak mereka.
"Calon anak kita kemungkinan jenis kelaminnya perempuan..aku tidak sabar membayangkan wajahnya jika kelak dia lahir..menurut aku pasti wajahnya akan sangat cantik seperti Dina karena kamu kan kelihatannya benci banget sama ibunya " Jawab Nisa membuat Abimanyu yang sedang minum menjadi tersedak.
"Kamu itu hati-hati dong kalau minum..seperti anak kecil saja " Nisa mengelap mulut Abimanyu yang basah.
"Tadi aku bilang jangan membahas dia kenapa masih ngeyel ?" Abimanyu menjadi jengkel kepada Nisa yang masih membahas Dina padahal tadi ia sudah peringatkan untuk jangan membahas tentang Dina.
"Aku membicarakan calon bayi kita ya otomatis ibunya juga kebawa..bayi kita kan bukan keluar dari batu yang terbelah " Jawab Nisa.
Abimanyu pun menjadi tertawa. Ucapan Nisa itu cukup membuat suasana menjadi menghangat.
"Sayang..selama kamu di Singapura kamu memesan makanan dimana yang selalu kamu kirimkan melalui kurir ?" Tanya Abimanyu sambil mulai makan setelah pesanan mereka datang.
"Kurir..memangnya ada kurir yang selalu mengantarkan makanan untuk kamu selama aku di Singapura ?" Nisa malah balik bertanya.
"Iya..setiap hari malah. Dan dia selalu bilang kalau kamu yang pesan "Jawab Abimanyu.
"Memangnya kenapa, Mas ? Kamu tidak suka masakannya ?" Tanya Nisa
"Suka sekali malah " Jawab Abimanyu.
"Kalau kamu suka nanti aku akan pesan lagi sama mereka " Jawab Nisa.
Abimanyu mengangguk. "Makanannya enak..aku suka " Kata Abimanyu.
Makanannya suka tapi orangnya tidak, dasar aneh. Nisa tidak yakin jika Abimanyu masih menyukai makanan itu jika tahu yang memasaknya adalah Dina kalau tidak ibunya.
Selesai makan siang Abimanyu kembali mengantarkan Nisa ke Rumah sakit. Namun di ruangan Nisa Abimanyu sempat buru-buru ke kamar mandi dan memuntahkan kembali semua makanan yang belum satu jam ia telan.
"Mabuknya parah banget sih kamu, Mas " Nisa mengusap-usap punggung Abimanyu prihatin. Semua obat mual yang Nisa berikan tidak ada satupun yang mempan mengatasi Couvade Sindrom yang Abimanyu alami.
Setelah memuntahkan semua makanannya Abimanyu pun kembali ke kantornya. Nisa menatap kepergian pria tampan itu dengan tatapan iba. Sejujurnya Nisa tidak tega melihat Abimanyu yang terlihat sangat tersiksa seperti itu.
Setelah Abimanyu pergi Nisa pun menghubungi Dina.
"Na, Ibu masak apa hari ini ?" Tanya Nisa.
"Mbak Nisa belum makan ?" Dina malah balik bertanya.
"Sudah..mbak hanya sedang malas masak untuk nanti sore " Jawab Nisa.
"Oh begitu..hari ini ibu bikin semur jengkol, ikan asin dan ayam goreng. Kalau mbak Nisa malas masak pulangnya kesini saja bawa makanan dari sini " Kata Dina.
"Ya sudah nanti pulangnya mbak mampir kesana " Jawab Nisa.
Nisa memang tidak pernah merasa malu meminta makanan kepada orangtua Dina karena ia merasa jika orangtua Dina adalah orangtuanya juga.
Pada sore harinya sebelum Nisa datang Dina dan ibunya sudah menyiapkan makanan untuk Nisa bawa pulang.
"Na..memangnya sewaktu Mbak di Singapura kamu selalu menyuruh kurir untuk mengantarkan makanan kepada Mas Abi ?" Tanya Nisa saat mereka sedang berada di kamar Dina.
"Hehe..iya Mbak " Jawab Dina.
"Kenapa ?" Tanya Nisa.
__ADS_1
"Soalnya Mas Abi sepertinya sebel banget kalau ketemu aku..mungkin bawaan orok. Makanya aku nyuruh kurir saja untuk mengantarkannya " Jawab Dina santai.
Bawaan orok ? Apa yang Dina katakan bisa saja benar..mungkin Abimanyu tidak membenci Dina namun terihat seperti itu karena bawaan orok. Bisa jadi kan ? Nisa berusaha berpikiran positif tentang suaminya itu.
Sebelum pulang Nisa memberikan sejumlah uang kepada Ibunya untuk belanja besok karena Nisa menagatakan jika ia tidak punya waktu untuk masak dan hanya ingin makan masakan ibunya Dina..padahal sesungguhnya itu semua demi suaminya.
--------------------------------
Siang ini udara terasa sangat terik sekali. Dina tiba-tiba menginginkan makan Bakso di warung Bakso yang ada di dekat sekolah SMA nya.
Ayah dan Ibu Dina mengijinkan Dina pergi asalkan perginya dengan menggunakan taksi online. Namun tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunya Dina malah pergi dengan menggunakan ojol karena mengalami kesulitan mendapatkan driver.
Sepanjang perjalanan air liur Dina nyaris menetes membayangkan nikmatnya makan Bakso di tengah cuaca yang terik ini. Dulu kalau Abimanyu sedang pulang ke tanah air ia selalu menunggu Dina pulang sekolah disana. Mengingat semua kenangan tentang Abimanyu tak urung selalu membuat hati Dina sedih.
Dina menyesali nasibnya kenapa Tuhan mempertemukannya kembali dengan Abimanyu dalam sifat yang berbeda ?
Semua lamunan Dina buyar saat motor yang membawanya tiba-tiba berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti Bang ?" Tanya Dina.
"Mas di mobil itu menyuruh berhenti Mbak " Jawab si abang ojol.
Dina langsung mengkerut saat di depannya ternyata ada mobil Abimanyu dan tidak lama kemudian suaminya itu turun dan menghampiri Dina.
"Mau kemana lu ?" Tanya Abimanyu kasar.
"Bukan urusan Mas Abi " Jawab Dina sambil menunduk tidak berani menatap wajah Abimanyu yang terlihat sangar.
"Semuanya menjadi urusan gue karena di dalam perut lu itu ada bayi gue " Jawab Abimanyu.
"Kalau begitu ambil saja kalau bisa dan jangan turut campur urusan aku " Ujar Dina. Entah darimana ia punya keberanian untuk mengatakan itu.
"Dasar wanita gila " Sungut Abimanyu.
Si abang ojol yang baru menyadari jika yang sedang bertengkar itu adalah sepasang suami istri hanya senyum-senyum sendiri sambil menonton.
"Kenapa lu senyum-senyum ?" Abimanyu murka karena merasa jika abang ojol itu sedang meledeknya.
"Jangan galak-galak sama istri Mas apalagi istrinya sedang hamil nanti kualat loh " Jawab si abang ojol.
"Lu jangan turut campur urusan orang lain deh " Hardik Abimanyu.
"Saya bukan mau ikut campur, saya hanya mengingatkan saja..jangan sampai anak Mas nantinya galak loh seperti ayahnya " Kata si abang ojol.
Abimanyu berusaha menahan diri untuk tidak membuat keributan di jalanan. Ia pun menatap tajam kearah Dina yang masih duduk di boncengan si abang ojol.
"Lu turun sekarang !" Perintah Abimanyu galak
"Tidak mau " Jawab Dina.
"Kalau lu tidak turun juga gue hajar tukang ojek ini " Ancam Abimanyu.
Tidak ingin memberi masalah kepada orang lain akhirnya Dina pun turun dari motor dan Abimanyu langsung menarik tangan Dina dan memaksanya masuk ke dalam mobilnya.
Setelah menguncinya agar tidak kabur di dalam mobilnya, Abimanyu menghampiri driver ojol itu dan memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah.
"Lain kali jangan suka ikut campur urusan orang lain " Ancamnya kemudian masuk ke mobilnya.
Driver ojol itu melongo menatap dua lembar uang kertas di tangannya.
Dina seharusnya membayar 20 ribu namun Abimanyu malah membayar ongkos ojol itu 200 ribu.
"Makanya jangan marah-marah Mas..jadinya salah ambil uang kan ?" Driver ojol itu tertawa mengejek setelah mobil Abimanyu berlalu membawa penumpangnya.
---
Di dalam mobilnya Dina mengamuk karena Abimanyu membawa paksa dirinya pulang padahal warung Bakso yang ingin Dina datangi hanya tinggal 50 meter lagi.
"Sekarang lu pulang sana dan jangan coba-coba keluyuran lagi !" Perintah Abimanyu saat mobilnya sudah tiba di depan rumah Dina.
Dina turun dari mobil Abimanyu dengan bersungut-sungut dan mengeluarkan sumpah serapahnya. Setelah mobil Abimanyu melaju menjauh Dina pun kembali memesan ojol yang lain dan kembali pergi ke warung Bakso yang tadi.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau anak kita nantinya ileran " Dalam perjalanan Dina masih sempat menggerutu.
Yang pintar Dina atau Abimanyu ?